Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Perajin Kuda-Kudaan Kayu di Tengah Pandemi; Order Sepi, Omzet Anjlok

Binti Rohmatin • Senin, 20 Juli 2020 | 16:52 WIB
Perajin Kuda-Kudaan Kayu di Tengah Pandemi; Order Sepi, Omzet Anjlok
Perajin Kuda-Kudaan Kayu di Tengah Pandemi; Order Sepi, Omzet Anjlok


Terhitung sejak 1995 silam, Suryanto membuat kerajinan kuda-kudaan dari kayu. Namun terjadinya pandemi Covid-19 membuat omzet perajin asal Desa Ngogri, Kecamatan Megaluh, ini anjlok.


JOMBANG – Bunyi gergaji mesin terdengar keras dari rumah sederhana di Desa Ngogri, Kecamatan Megaluh, kemarin siang (19/7). Ya, Suryanto saat itu sedang memotong beberapa batang kayu randu untuk dijadikan bahan dasar pembuatan kuda-kudaan.


Kepada Jawa Pos Radar Jombang, dia mengaku sudah menggeluti usaha ini selama 25 tahun. ”Dulu awalnya saya kulakan, mengambil barang orang lain untuk saya jual lagi,” kata Suryanto sambil memahat kayu randu di tangan kanannya.


Namun karena kebanjiran pesanan, Suryanto berinisiatif membuat sendiri. Awalnya memang agak sulit untuk memahat bagian kepala kuda mirip asli. Beberapa kayu pecah saat dipahat. ”Saya tak pernah menyerah, pelan-pelan saya belajar dan akhirnya bisa membuat mainan ini,” tambahnya.


Awalnya, Suryanto hanya bisa membuat model kuda-kudaan saja. Seiring berjalannya waktu, ia mengembangkan berbagai macam model binatang yang disukai anak-anak. Di antaranya sapi, ayam, harimau dan jerapah. ”Paling banyak diminati kuda-kudaan,” jelas dia.


Dalam sehari, bapak dua anak ini bisa menghasilkan tiga buah mainan. Hanya saja prosesnya butuh finishing pewarnaan dan pemasangan pegangan. ”Kalau dengan warnanya kira-kira satu minggu membuat delapan mainan,” papar dia.


Sebelum pandemi, Suryanto bisa meraup omzet hingga Rp 10 juta per bulan. Ia menjual kuda-kudaannya dengan harga antara Rp 100 ribu-Rp 300 ribu per unit. ”Kalau polos, saya jual 100 ribu. Namun kalau yang sudah berwarna, saya jual agak mahal,” jelas dia.


Sejak pandemi Covid-19 ini, pendapatan Suryanto merosot. Ia hanya bisa menjual satu sampai tiga mainan per bulan. Biasanya tahun ajaran baru, banyak mainan Suryanto diborong sekolah. ”Sekarang tidak ada sekolah yang masuk, jadi tidak ada yang beli. Satu bulan hanya tiga mainan yang laku,” tandasnya.


Selain wilayah Kabupaten Jombang, produknya juga dipasarkan hingga wilayah Madiun dan sebagian daerah di Jawa Tengah. ”Sekarang semuanya pada libur. Karena tidak ada sekolah yang buka,” pungkasnya.

Editor : Binti Rohmatin