Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Nasib Paelan, Veteran Pembela, Kini Jadi Tukang Tambal Ban

M Nasikhuddin • Selasa, 15 Agustus 2017 | 16:00 WIB
nasib-paelan-veteran-pembela-kini-jadi-tukang-tambal-ban
nasib-paelan-veteran-pembela-kini-jadi-tukang-tambal-ban



Tak banyak yang tahu jika Paelan, tukang tambal ban yang mangkal di Jalan KH Wahid Hasyim Jombang, salah satu veteran komando operasi  bertempur melawan tentara Inggris di perairan Malaka.


Meski usia tak lagi muda, namun semangatnya untuk membela Ibu Pertiwi masih membara hingga kini.


RICKY VAN ZUMA, Jombang


”Dulu saya baru berusia 20 tahun saat memutuskan menjadi sukarelawan tempur Brawijaya I Jawa Timur,” ujar Paelan kepada Jawa Pos Radar Jombang kemarin (14/8).


Namun sebelumnya, kakek delapan cucu ini harus menempuh pendidikan tempur pada angkatan darat dan laut selama satu tahun mulai dari Kota Malang, Surabaya hingga Bandung.


”Saya ikut bertempur di perairan Malaka selama 18 bulan. Saya berada di pasukan depan memegang penembak sasaran udara,” jelasnya.


Bertugas pada malam hari, ia juga menempati pulau-pulau kecil bersama pasukan untuk mempertahankan wilayah di perbatasan Indonesia ini. Berbagai kendala dihadapinya saat itu, tak hanya dari tentara musuh tapi juga ganasnya hewan-hewan liar seperti ikan hiu, buaya dan sebagainya.


”Beberapa teman saya yang meninggal saat berenang karena dimakan hiu, ada juga yang digigit buaya di daerah rawa-rawa. Sebagian yang jenazahnya ditemukan kita kuburkan,” bebernya.


Ia menambahkan jika kaki harus dibungkus kaos kaki warna hitam agar tidak digigit hiu.


Berbagai cara dilakukan untuk bertahan hidup dengan makan seadanya dari alam. Latihan berat yang telah dilaluinya membuatnya kuat menjalani tugas sebagai tentara.


”Saya juga pernah ditangkap pasukan Inggris atau Malaysia tapi saya berhasil kabur. Tidak ada kata menyerah untuk Indonesia, kami berjuang terus,” sambungnya.


Atas perjuangan mempertahankan kemerdekaan, ia memperoleh gelar kehormatan dan lencana dari World Veteran Federation. Tak hanya itu, Presiden Soekarno pun memujinya sebab menjadi anggota termuda dalam pasukan saat itu.


Paelan mengaku sangat beruntung, apalagi ia juga sangat mengagumi Proklamator Indonesia tersebut. ”Presiden Soekarno itu pemimpin yang luar biasa, beliau sangat dekat dengan rakyatnya.


Saya disalami dan ditepuk punggung saya ketika itu,” tuturnya. Selain kharismatik, ia mengatakan jika Presiden Soekarno jauh lebih gagah aslinya daripada gambar atau fotonya.


Meski menjalani tugas untuk membela negara melawan musuh tidaklah mudah. Menurutnya mengamankan Gestapu jauh lebih susah dibandingkan melawan negara lain. ”Saat mengamankan pemberontakan PKI itu memang di negeri sendiri.


Medannya darat tapi kami tidak bisa berhenti untuk beristirahat. Tapi kami tetap harus menjalankan tugas,” paparnya. Sehingga hal ini membuatnya cukup payah. Ia pun menilai pertempuran melawan tentara Inggris jauh  lebih mudah.


”Saat ini teman-teman yang berjuang bertempur bersama-sama dulu sudah banyak yang meninggal. Tersisa saya saja yang masih hidup,” ucapnya. Kini ia bekerja dengan menambal ban di pinggir jalan. Ia mengaku tidak malu selama pekerjaan yang dilakukannya halal dan tidak merugikan orang lain.


Selain itu, ia memang sudah terbiasa bekerja serabutan mulai dari petani, penjahit, servis mesin jahit, tukang batu, tukang kayu dan sebagainya.


”Tambal ban ini hanya sepuluh ribu rupiah, sehari bisa nambal tiga sampai empat sepeda. Tapi nambal ban ini tidak pasti, terkadang sehari nggak ada yang nambal ban sama sekali,” tandasnya.


Berbeda dengan tambal ban yang telah menggunakan kompresor, ia masih menggunakan pompa manual lantaran belum memiliki cukup uang untuk membeli kompresor. Meski demikian ia tidak pernah mengeluh dan selalu mensyukuri apa yang diperolehnya. Menurutnya rezeki setiap orang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.

Editor : M Nasikhuddin