Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Wajib Tirakat Sebelum Rias, Bikin Pengantin Pangling

Rojiful Mamduh • Rabu, 10 November 2021 | 00:35 WIB
Wajib Tirakat Sebelum Rias, Bikin Pengantin Pangling
Wajib Tirakat Sebelum Rias, Bikin Pengantin Pangling


JOMBANG – Musim hajatan seperti sekarang seiring melandainya kasus Covid-19, sangat dimanfaatkan warga untuk segera merealisasikan hajatan yang tertunda. Baik hajat khitan maupun pernikahan. Jika sedang rejeki, dalam sehari  para perias bisa mendapat tiga tempat.



Nah, berbicara tentang rias pengantin, seorang make up artist (MUA) alias perias pengantin, ada beberapa pantangan yang harus dihindari. Pantangan ini seakan-akan wajib dijalani sebelum merias. ”Bagi saya pribadi, tirakat istilahnya, sudah menjadi kewajiban sebelum merias,’’ ujar Qurrotul Aini, 66, perias senior yang sudah berkecimpung di dunia MUA sejak 1981.



Menurut dia, sewajarnya seorang perias harus bisa membuat orang terlihat ‘pangling’ setelah dirias. Selain skill dalam merias, ada satu kunci yang wajib dijalani perias, yakni tirakat sebelum merias. Tirakat yang dimaksud tidak harus menjalani puasa penuh 12 jam.



Melainkan menghindari sejumlah pantangan. Di antaranya, tidak berhubungan (bagi yang bersuami), menahan makan sebelum rias selesai, menjaga badan tetap suci dengan berwudlu, hingga tidak boleh membicarakan kejelekan orang lain baik sebelum atau selama proses rias. Beberapa hal tersebut, selalu ia terapkan selama 40 tahun menggeluti dunia make up.



”Yang terakhir dan paling utama adalah berdoa. Saya selalu melakukan tiga doa, membaca Alquran, doa Jawa dan doa keyakinan saya sendiri,’’ rincinya. Walhasil, dia selalu dipercaya klien selama 40 tahun ini. ”Doa dan tirakat itu bisa memunculkan aura pengantin yang membuat orang melihat merasa pangling,’’ terang dia.



Selama 40 tahun menekuni dunia make up, perempuan yang akrab disapa Bunda Aini, hampir menguasai jenis make up beserta adatnya. Mulai solo putri, solo hijab, solo paes hijab, jogja putri, jogja berkerudung, sunda putri, sunda siger dan yang lain. ”Begitu juga doa saat temu manten, midodareni dan doa siraman kita harus bisa,’’ tandas ibu tiga anak ini.



Seiring berkembangnya zaman, beberapa tradisi seperti pingit 40 hari bagi calon pengantin agar tidak keluar rumah, menurutnya sudah mulai berkurang. Saat ini dengan kondisi yang serba dinamis, calon pengantin sebagian tak menjalani tradisi itu. ”Padahal dipingit itu ada positifnya. Untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan,’’ papar dia.


Meski usai tak lagi muda, semangat Aini merias pengantin tetap ia jalani. Di musim hajatan, ia bisa mendapat tiga tempat merias. ”Agar jadwal tidak bertabrakan dengan yang lain, kita harus pintar-pintar mengatur,’’ pungkasnya.


Editor : Rojiful Mamduh
#berita jombang