Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Warna-Warni Anak Ayam Watudakon

Rojiful Mamduh • Senin, 21 Juni 2021 | 15:50 WIB
SALAH satu dusun di Desa Watudakon, Kecamatan Kesamben sejak puluhan t
SALAH satu dusun di Desa Watudakon, Kecamatan Kesamben sejak puluhan t

SALAH satu dusun di Desa Watudakon, Kecamatan Kesamben sejak puluhan tahun lalu jadi sentra pembuatan ayam warna-warni. Puluhan warga di dusun ini, hingga kini aktif menjadi pembuat ataupun penjual anak ayam yang biasa digandrungi anak-anak.


Masuk Dusun Jungkir, Desa Watudakon, kandang-kandang ayam dan burung terlihat mendominasi di rumah-rumah warga. Beberapa diantaranya terlihat kosong, namun banyak juga yang terlihat terisi anak ayam, bebek hingga burung pipit.


Salah satunya bisa dilihat di rumah Wasis Supriadi. Ia salah satu perajin ayam warna-warni yang sudah memulai usaha sejak 1982. Sudah 39 tahun dan tetap eksis hingga kini.


’’Di dusun ini 60 persen warganya bisnis ayam dan burung,’’ ucapnya. Ada yang membuat, ada yang mengecer saja. ’’Kalau saya dua-duanya, ya menjual ya membuat,’’ ungkapnya.


Halaman belakang rumahnya disulap menjadi lokasi penyimpanan ayam. Di tempat ini, ribuan ayam ia datangkan setiap minggunya. Anakan ayam ia peroleh dari sejumlah perusahaan peternakan ayam di luar Jombang.


’’Kita menjualnya eceran. Biar lebih menarik, beberapa kita warnai,’’ urainya.


Proses pewarnaannya sangat sederhana. Wasis biasanya menggunakan anak ayam jenis pejantan untuk diwarnai. Ayam-ayam ini, harus dikumpulkan dulu di sebuah ember plastik besar. Untuk memudahkan penghitungan, Wasis dibantu istrinya. Dia menghitung jumlah ayam sebelum diwarnai.


’’Satu kali pewarnaan bisa 102 ekor, supaya nanti pengepakannya mudah,” katanya.


Setelah diletakkan di ember, Wasis kemudian mencampur pewarna tekstil dengan air dan mulai mencampurnya. Untuk ayam warna-warninya, ia biasa menggunakan lima warna. Kuning, oranye, hijau, ungu dan merah muda.


Setelah siap, barulah ratusan anak ayam ini diwarnai. Prosesnya dilakukan dengan cara mengusapkan kuas pada bulu anak ayam yang berada di dalam ember secara pelan-pelan.


’’Kelihatannya mudah, tapi harus hati-hati. Kalau terlalu kalem tidak rata warnanya, tapi kalau terlalu keras, bisa mati ayamnya,’’ imbuh bapak empat anak ini.


Setelah diwarnai, ayam terlihat basah dan kurang indah. Namun setelah bulu-bulu ayam ini kering, bentuknya akan kembali bulat dan menggemaskan. ’’Sampai kering biasanya dijemur 1,5 jam,” lontarnya. Ayam-ayam ini, biasanya dijual dengan harga Rp 4.000 perekor.


Editor : Rojiful Mamduh