Ajaran karate ke-12 yakni janganlah berpikir kamu harus menang tapi berpikirlah tidak boleh kalah. Seorang karateka tidak boleh sombong alias menang-menangan. ’’Bahasa Jepangnya; Katsu kangae wa motsu na makenu kangae wa hitsuyo. Inggrisnya; Do not think of winning. Instead, think that you must never lose,’’ kata Ketua Harian Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (Forki) Jombang, Kwat Prayitno,60, kemarin.
Anggota dewan guru Inkanas nasional ini menjelaskan, terlalu menekankan kemenangan dalam setiap pertandingan justru akan menghasilkan hal sebaliknya. Akan merubah teknik yang sudah ada bahkan cenderung menjadi buas alias tidak terkontrol. Serta melupakan sikap hormat pada lawan. ’’Apabila itu terjadi berarti kita sudah kalah,’’ ungkapnya. Menentukan siapa yang menang kalah bukan merupakan tujuan akhir paling tinggi dari belajar seni beladiri karate. ’’Tujuan paling tinggi karate terletak pada kesempurnaan pribadi seseorang,’’ tegasnya.
Tujuan akhir karate adalah terwujudnya lima sumpah karate. Lima sumpah karate yakni sanggup memelihara kepribadian, sanggup patuh pada kejujuran, sanggup mempertinggi prestasi, sanggup menjaga sopan santun dan sanggup menguasai diri.
Pada saat berlatih, seorang karateka tidak boleh berpikir untuk mengalahkan semua orang. ’’Karena ini akan memunculkan kesombongan,’’ ucapnya. Sehingga gampang mencari masalah dan perkelahian.
Pemegang sabuk hitam karate Dan VII ini menjelaskan, saat berlatih, karateka harus punya semangat juang bahwa dia tak boleh kalah dalam pertandingan. ’’Tidak mencari masalah, tapi ketika masalah datang dan harus bertarung, maka tidak boleh kalah,’’ tegasnya.
Dalam kompetisi, kita jangan hanya fokus menyerang terus sehingga lupa bertahan. Sebab hal ini justru bisa membuat kita kalah. Nafsu menyerang yang tidak terkendali bisa mengakibatkan lawan cedera sehingga kita didiskualifikasi. ’’Dalam kompetisi, kita harus bermain baik,’’ tegasnya. Sesuai proses latihan yang telah dijalani. Serta sesuai arahan pelatih. ’’Dalam kompetisi, kita harus berkepala dingin. Dan seperti kata pepatah, air tenang menghanyutkan,’’ bebernya.
Dalam berwirausaha, prinsip ini juga sangat penting. ’’Kita jangan hanya memburu keuntungan besar sehingga melupakan interaksi lanjutan,’’ ucap Kwat yang telah 40 tahun lebih berwirausaha. Mengambil keuntungan diatas kewajaran, bisa jadi membuat kita seakan menang. Namun aslinya adalah kekalahan. Sebab pelanggan tersebut tak akan pernah kembali. Sebaliknya, mengambil untung sedikit bahkan kadang pas sesuai kulakan, akan membuat pelanggan setia. Sehingga usaha kita tidak kalah.
Dalam berhubungan dengan Tuhan, prinsip ini juga sangat penting. ’’Kita tidak boleh sok-sokan kepada Tuhan,’’ ucapnya. Mentang-mentang sudah rajin ibadah, kemudian gampang protes ketika yang diberikan Tuhan tak sesuai harapan. ’’Apapun yang diberikan Tuhan, itulah yang terbaik bagi kita,’’ tandasnya.
Apapun firman Tuhan, harus kita laksanakan. Dan apapun yang diberikan Tuhan harus kita terima. ’’Kita harus terus berada di jalan Tuhan. Karena Tuhan bisa membuat kita menang, Tuhan juga bisa membuat kita tidak kalah,’’ pungkasnya.
Editor : Rojiful Mamduh