
JAKARTA, RadarJombang.id — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI memiliki ruang yang kuat untuk melanjutkan ekspansi bisnis hingga Triwulan II 2026.
Kondisi tersebut ditopang likuiditas yang terjaga, permodalan kokoh, serta kualitas aset yang terus membaik.
Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi mengatakan, Loan to Deposit Ratio (LDR) konsolidasi entitas bank berada di level 90,8 persen. Sementara Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat 21,5 persen.
Baca Juga: BRI Bekali Anak Muda dengan Tiga Mindset Penting Ini, Strategi BUMN Ajak Generasi Melek Finansial
“Likuiditas dan permodalan BRI tetap kuat,” ujar Achmad dalam Press Conference Kinerja Keuangan BRI Triwulan II 2026 di Kantor Pusat BRI, Jakarta.
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI mencapai Rp1.581 triliun atau tumbuh 6,7 persen secara tahunan.
Struktur dana juga semakin berkualitas dengan rasio CASA meningkat dari 65,5 persen menjadi 67,6 persen.
Baca Juga: Komitmen Dorong UMKM Tembus Pasar Global, BRI Raih Penghargaan Niaga Werdhitama dari Kemendag RI
Kondisi tersebut memberikan ruang bagi BRI untuk tetap menjalankan fungsi intermediasi sekaligus menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis, likuiditas, kualitas aset, dan profitabilitas.
Perbaikan juga terlihat pada sejumlah indikator risiko. Rasio Non-Performing Loan (NPL) turun dari 3,07 persen pada 2025 menjadi 2,9 persen pada Triwulan II 2026. Loan at Risk (LaR) juga menyusut dari 9,6 persen menjadi 9,1 persen.
Sementara Cost of Credit (CoC) turun dari 3,4 persen pada akhir 2025 menjadi 3,1 persen pada Triwulan II 2026.
Achmad menyebut perbaikan tersebut tidak terlepas dari penerapan selective growth, penguatan early warning system pada segmen ritel, serta optimalisasi fungsi collection dan recovery.



