26.9 C
Jombang
Wednesday, February 8, 2023

Dwijanti Djatiningrum: Wanita Tak Boleh Bosan Belajar

JOMBANG – Usia tidak menjadi penghalang bagi wanita untuk belajar. Begitu kata Dwijanti Djatiningrum, sekretaris Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Jombang. Setelah mengantongi S1 jurusan Administrasi Negara Unej, ia kini belajar sejumlah keterampilan. Mulai dari membuat kue, hingga merias wajah.

’’Tidak ada wanita yang bodoh, yang ada hanya wanita yang tidak mau berusaha, kalau mau berusaha pasti bisa,’’ kata wanita yang akrab disapa Bu Adi ini. Ia merupakan istri dari Kabag Organisasi Setdakab Jombang, Adi Prasetyo.

Ia mengaku sejak dulu suka memasak, namun tidak pandai dalam hal membuat kue. Pandemi membawa berkah baginya. Kegiatan organisasi yang banyak dilakukan secara online membuatnya memiliki banyak waktu di rumah.

’’Saya juga mendapatkan dorongan semangat dari sahabat saya di Jakarta, untuk bisa belajar membuat kue. Dengan bimbingan sahabat itu, saya akhirnya mencoba dan bisa,’’ urai ibu dua anak.

Ia belajar membuat mulai dari kue basah, kue tart, juga kue kering. Dari awalnya dijadikan konsumsi pribadi, ia mulai percaya diri untuk memasarkannya. ’’Ada suatu kepuasan yang tidak ternilai, ketika kue yang kita buat tidak hanya bisa dimakan sendiri, tapi juga bisa disukai orang banyak,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Hilangnya Jejak Suiker Fabriek Selorejo

Hampir setiap lebaran ia selalu membuat kue kering sendiri bahkan ia jual. Favorit suaminya adalah kastengel. Sehingga setiap tahun ia hanya membuat satu jenis kue saja. Namun dengan bahan-bahan yang premium, sehingga menghasilkan rasa yang premium di lidah pelanggan dan keluarganya.

Ia terhitung cepat dalam belajar membuat kue. Hanya dipandu melalui sambungan telepon oleh temannya di Jakarta.

’’Ketika saya kesulitan, kadang ya video call dibimbing lewat video,’’ kata wanita kelahiran Jember 11 Januari 1972.

Meski terhitung baru, kue tart buatan Dwijanti menjadi salah satu kue favorit Bupati Jombang Hj Mundjidah Wahab. Terhitung, sudah dua kali bupati merayakan ulang tahun dengan kue buatannya.

Ia tidak hanya membuat kue yang hiasannya indah. Tapi disesuaikan dengan karakter yang ulang tahun. Bupati misalnya, karena usianya yang sudah lanjut, tidak dibuatkan kue dengan bahan butter, agar tidak eneg, diganti dengan whipcream. Sementara untuk Lilik Agus Purnomo (istri Sekdakab Jombang) ia membuat kue tanpa coklat. Diganti dengan keju.

Baca Juga :  Minim PAD, Dua Perumda di Jombang Dinilai Tambah Beban Pemkab

’’Agar orang yang makan kue saya terutama yang merayakan tidak hanya makan untuk mencicipi, tapi benar-benar suka,’’ ungkapnya.

Dwijanti juga menambah ilmunya di bidang make-up. Hatinya tergerak berkat anak sulungnya yang aktif di dunia musik dan harus sering tampil di hadapan banyak orang. Setiap kali tampil harus menggunakan jasa rias. ’’Ibu-ibu kan mikirnya lebih baik uangnya dipakai untuk kursus daripada ke salon,’’ jelasnya.

Ia kemudian kursus make-up, sehingga setiap kali mau tampil, tidak lagi menggunakan jasa perias karena sudah memiliki keahlian sendiri. ’’Kebetulan anak saya juga lebih nyaman dimake-up ibunya sendiri,’’ ungkapnya.

Menurutnya, belajar keterampilan adalah hal yang penting bagi wanita. Sebab, wanita adalah pakaian bagi suaminya. Membawa nama harum suami kemanapun dirinya pergi. ’’Suami pasti senang jika ada yang dibanggakan dari istrinya,’’ bebernya.

Terlebih, ia yang aktif di banyak organisasi menuntutnya harus tampil cantik dalam setiap event. ’’Agar tampil pantas untuk suami, kita harus menyesuaikan diri, baik tampil luar maupun dalam,’’ jelasnya.

JOMBANG – Usia tidak menjadi penghalang bagi wanita untuk belajar. Begitu kata Dwijanti Djatiningrum, sekretaris Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Jombang. Setelah mengantongi S1 jurusan Administrasi Negara Unej, ia kini belajar sejumlah keterampilan. Mulai dari membuat kue, hingga merias wajah.

’’Tidak ada wanita yang bodoh, yang ada hanya wanita yang tidak mau berusaha, kalau mau berusaha pasti bisa,’’ kata wanita yang akrab disapa Bu Adi ini. Ia merupakan istri dari Kabag Organisasi Setdakab Jombang, Adi Prasetyo.

Ia mengaku sejak dulu suka memasak, namun tidak pandai dalam hal membuat kue. Pandemi membawa berkah baginya. Kegiatan organisasi yang banyak dilakukan secara online membuatnya memiliki banyak waktu di rumah.

’’Saya juga mendapatkan dorongan semangat dari sahabat saya di Jakarta, untuk bisa belajar membuat kue. Dengan bimbingan sahabat itu, saya akhirnya mencoba dan bisa,’’ urai ibu dua anak.

Ia belajar membuat mulai dari kue basah, kue tart, juga kue kering. Dari awalnya dijadikan konsumsi pribadi, ia mulai percaya diri untuk memasarkannya. ’’Ada suatu kepuasan yang tidak ternilai, ketika kue yang kita buat tidak hanya bisa dimakan sendiri, tapi juga bisa disukai orang banyak,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Musim Tanam, Aktivitas Produksi Pande Besi di Karangdagangan Meningkat

Hampir setiap lebaran ia selalu membuat kue kering sendiri bahkan ia jual. Favorit suaminya adalah kastengel. Sehingga setiap tahun ia hanya membuat satu jenis kue saja. Namun dengan bahan-bahan yang premium, sehingga menghasilkan rasa yang premium di lidah pelanggan dan keluarganya.

Ia terhitung cepat dalam belajar membuat kue. Hanya dipandu melalui sambungan telepon oleh temannya di Jakarta.

’’Ketika saya kesulitan, kadang ya video call dibimbing lewat video,’’ kata wanita kelahiran Jember 11 Januari 1972.

Meski terhitung baru, kue tart buatan Dwijanti menjadi salah satu kue favorit Bupati Jombang Hj Mundjidah Wahab. Terhitung, sudah dua kali bupati merayakan ulang tahun dengan kue buatannya.

Ia tidak hanya membuat kue yang hiasannya indah. Tapi disesuaikan dengan karakter yang ulang tahun. Bupati misalnya, karena usianya yang sudah lanjut, tidak dibuatkan kue dengan bahan butter, agar tidak eneg, diganti dengan whipcream. Sementara untuk Lilik Agus Purnomo (istri Sekdakab Jombang) ia membuat kue tanpa coklat. Diganti dengan keju.

Baca Juga :  Karena Kurikulim Merdeka, PAS Boleh Ditiadakan, Asalkan.......

’’Agar orang yang makan kue saya terutama yang merayakan tidak hanya makan untuk mencicipi, tapi benar-benar suka,’’ ungkapnya.

Dwijanti juga menambah ilmunya di bidang make-up. Hatinya tergerak berkat anak sulungnya yang aktif di dunia musik dan harus sering tampil di hadapan banyak orang. Setiap kali tampil harus menggunakan jasa rias. ’’Ibu-ibu kan mikirnya lebih baik uangnya dipakai untuk kursus daripada ke salon,’’ jelasnya.

Ia kemudian kursus make-up, sehingga setiap kali mau tampil, tidak lagi menggunakan jasa perias karena sudah memiliki keahlian sendiri. ’’Kebetulan anak saya juga lebih nyaman dimake-up ibunya sendiri,’’ ungkapnya.

Menurutnya, belajar keterampilan adalah hal yang penting bagi wanita. Sebab, wanita adalah pakaian bagi suaminya. Membawa nama harum suami kemanapun dirinya pergi. ’’Suami pasti senang jika ada yang dibanggakan dari istrinya,’’ bebernya.

Terlebih, ia yang aktif di banyak organisasi menuntutnya harus tampil cantik dalam setiap event. ’’Agar tampil pantas untuk suami, kita harus menyesuaikan diri, baik tampil luar maupun dalam,’’ jelasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/