alexametrics
30 C
Jombang
Thursday, May 19, 2022

Fu He An, Jejak Grup Wayang Potehi Kuno di Jombang

JOMBANG – Salah satu klenteng di Jombang, lama terkenal dengan kebudayaan wayang potehi. Grup wayang potehi yang berpentas di klenteng ini tercatat dalam lukisan di era pemerintahan kolonial Belanda.

Sebuah foto tahun 1933 koleksi universitas Leiden Belanda, menyajikan lukisan ilustrasi wayang potehi yang sedang tampil di Surabaya. Dalam caption, pihak Universitas Leiden menulis dengan “Wajang Tjina te Soerabaja” atau artinya Wayang Cina di Surabaya. Lukisan itu diambil dari lembaran kalender bulan Mei tahun 1933.

Meski hanya lukisan, nama grup yang sedang pentas itu tak asing bagi penikmat wayang Potehi di Gudo. Tiga huruf di depan panggung adalah ciri kuncinya. “Jadi nama grup itu dibaca Fu He An,” terang Toni Harsono pegiat wayang potehi di Jombang. Ia sempat mencetak foto lukisan dalam kalender itu dan memasang dalam pigura. Foto juga ditempel di salah satu dinding Museum Wayang Potehi miliknya.

Baca Juga :  Pendaftaran Lelang Jabatan 5 Kadis Kosong di Jombang Berakhir Hari Ini

Ia menjelaskan, nama grup adalah nama wayang potehi milik kakeknya, Tok Su Kwie. Ia adalah salah satu dalang wayang potehi asli dari kota Coanciu Provinsi Hokian, Tiongkok. Kota kelahiran wayang potehi. “Setiap dalang, pasti punya nama sendiri dan grup kakek saya ya itu (Fu He An, Red), artinya rejeki dan keselamatan,” ungkapnya.

Sebagai dalang potehi, Tok Su Kwie sangat dimungkinkan melakukan pentas di sejumlah daerah. Namanya juga cukup  terkenal saat pentas di Surabaya, hingga diabadikan dalam salah satu lukisan yang dibuat di tahun 1933.

Hal itu dibuktikan dengan panggung pentas berbahan kayu yang hingga kini masih disimpan. Tulisannya juga sama. Panggung inilah yang dulu dibawa sang kakek dari negeri Tiongkok dan digunakannya pentas di Indonesia.

Baca Juga :  Nasib Ringroad Mojoagung Digantung, BPTD dan BBJN Saling Tunggu

Hingga sekarang, panggung berbahan kayu yang diukir sangat detil ini masih tersimpan rapi di Museum Wayang Potehi, yang berada di dekat Klenteng Hong San Kiong. “Sampai sekarang masih saya simpan, wayangnya juga ada. Bahkan nama grup itu pula saya gunakan sampai hari ini,” pungkasnya.

- Advertisement -

JOMBANG – Salah satu klenteng di Jombang, lama terkenal dengan kebudayaan wayang potehi. Grup wayang potehi yang berpentas di klenteng ini tercatat dalam lukisan di era pemerintahan kolonial Belanda.

Sebuah foto tahun 1933 koleksi universitas Leiden Belanda, menyajikan lukisan ilustrasi wayang potehi yang sedang tampil di Surabaya. Dalam caption, pihak Universitas Leiden menulis dengan “Wajang Tjina te Soerabaja” atau artinya Wayang Cina di Surabaya. Lukisan itu diambil dari lembaran kalender bulan Mei tahun 1933.

Meski hanya lukisan, nama grup yang sedang pentas itu tak asing bagi penikmat wayang Potehi di Gudo. Tiga huruf di depan panggung adalah ciri kuncinya. “Jadi nama grup itu dibaca Fu He An,” terang Toni Harsono pegiat wayang potehi di Jombang. Ia sempat mencetak foto lukisan dalam kalender itu dan memasang dalam pigura. Foto juga ditempel di salah satu dinding Museum Wayang Potehi miliknya.

Baca Juga :  Sulami Guru PAUD Di Jombang: Bermain Sambil Belajar

Ia menjelaskan, nama grup adalah nama wayang potehi milik kakeknya, Tok Su Kwie. Ia adalah salah satu dalang wayang potehi asli dari kota Coanciu Provinsi Hokian, Tiongkok. Kota kelahiran wayang potehi. “Setiap dalang, pasti punya nama sendiri dan grup kakek saya ya itu (Fu He An, Red), artinya rejeki dan keselamatan,” ungkapnya.

Sebagai dalang potehi, Tok Su Kwie sangat dimungkinkan melakukan pentas di sejumlah daerah. Namanya juga cukup  terkenal saat pentas di Surabaya, hingga diabadikan dalam salah satu lukisan yang dibuat di tahun 1933.

Hal itu dibuktikan dengan panggung pentas berbahan kayu yang hingga kini masih disimpan. Tulisannya juga sama. Panggung inilah yang dulu dibawa sang kakek dari negeri Tiongkok dan digunakannya pentas di Indonesia.

Baca Juga :  Student Journalism: Percepat 5 Perkara
- Advertisement -

Hingga sekarang, panggung berbahan kayu yang diukir sangat detil ini masih tersimpan rapi di Museum Wayang Potehi, yang berada di dekat Klenteng Hong San Kiong. “Sampai sekarang masih saya simpan, wayangnya juga ada. Bahkan nama grup itu pula saya gunakan sampai hari ini,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/