alexametrics
31.5 C
Jombang
Wednesday, August 10, 2022

Binrohtal 1.243: Rida Ibu

SAAT khutbah di masjid Satlantas Polres Jombang, Jumat (17/9), pengasuh Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Hafidz Trawasan Sumobito Ustad M Hafidz menjelaskan pentingnya berbakti kepada orang tua. Serta menomorsatukan orang tua. ’’Rasulullah Muhammad SAW bersabda; Rida Allah tergantung rida orang tua. Murka Allah juga tergantung murka orang tua,’’ tuturnya.

Allah SWT berfirman dalam QS Ali Imron 23. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”.

Gus Hafid lantas menceritakan kisah Alqamah. Dia seorang sahabat yang sangat taat. Ia tak pernah lalaikan salat. Fardu ataupun snnah. Amalan puasa dan sedekah tak pernah terlewat. Namun, di penghujung hayat ia susah mengucap syahadat. Saat Alqamah sakit keras, istrinya mengirim utusan kepada Rasulullah. Tujuannya memberi kabar, suaminya sakit kritis dan sepertinya sedang menghadapi sakaratul maut.   Begitu menerima kabar, Rasulullah langsung mengutus Ammar, Bilal, dan Shuhaib untuk menjenguk Alqamah dan mengajarinya mengucap kalimat tuhid, La ilaha illallah. Namun, lisannya kelu tak kuasa berucap.
Mereka lantas kembali dan memberitahukan hal itu kepada Rasulullah. Apakah diantara kedua orang tuanya ada yang masih hidup? Tanya Nabi.

Baca Juga :  Ecoton Minta Aparat Tak ‘86’ dengan Perusahaan Pemicu Limbah Busa

’’Ada, wahai Rasul, ibunya. Ia sudah sangat sepuh,’’ jawab salah satu sahabat.

Rasulullah meminta agar sahabat menemui ibu Alqamah.  Di hadapan ibunda Alqamah, sang utusan menyampaikan pesan Nabi. Akhirnya ibunda Alqamah menemui Nabi.

Nabi bertanya; Wahai ibunda Alqamah, jujurlah kepadaku. Jika berbohong, wahyu Allah akan turun kepadaku. Bagaimana keadaan anakmu? Ia menjawab; Wahai Rasul, anakku itu rajin salat, rajin puasa dan banyak sedekah.

Lantas bagaimana keadaanmu kepadanya? desak Rasulullah. Ibunya menjawab; aku tidak suka kepadanya. Karena ia lebih mementingkan istrinya dan durhaka kepadaku. Murka sang ibu membuat Alqamah terhalang mengucap syahadat.

Nabi lantas berkata kepada Bilal; Hai Bilal, kumpulkanlah kayu bakar sebanyak-banyaknya.  

’’Untuk apa, ya Rasul?’’ sela ibunda Alqamah. Nabi menjawab hendak membakar Alqamah.
’’Wahai Rasul, dia itu anakku. Hatiku tetap tak tega melihatmu membakar tubuhnya. Apalagi dilakukan di depan mataku sendiri,’’ rajuk ibunda Alqamah.  

’’Wahai ibunda Alqamah, azab Allah itu lebih berat dan lebih kekal. Jika kau ingin Allah mengampuninya, maka ridai dia. Demi Dzat yang menggenggam jiwaku, salat, puasa, dan sedekah Alqamah tidak ada manfaatnya selama engkau masih murka kepadanya,’’ kata Rasulullah.

Baca Juga :  Pemkab Jombang Diundang Pemprov, Bahas Penyetaraan Jabatan

Ibunya lalu berkata; Wahai Rasulullah, di hadapan Allah, para malaikat-Nya dan seluruh kaum Muslimin yang hadir, aku bersaksi, aku meridai anakku Alqamah.

Nabi lantas minta Bilal kembali melihat Alqamah. Dari luar rumah, Bilal mendengar Alqamah mengucap La ilaha illallah. Setelah itu, Alqamah menghembuskan nafas terakhir.

Rasulullah minta jenazahnya dimandikan dan dikafani. Rasul juga ikut menyalati.

Pada saat pemakaman, Nabi berdiri di pinggir lubang kubur dan berpidato. Wahai kaum Muhajirin dan Ansor, siapa saja yang mementingkan istrinya daripada ibunya, maka laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia adalah untuknya. Allah tidak akan menerima kebaikan dan keadilannya kecuali ia bertobat kepada Allah, memperbaiki sikapnya kepada ibu dan berusaha mengejar ridanya. Sesungguhnya rida Allah berada pada rida ibu. Murka Allah juga berada pada murka ibu.

- Advertisement -

SAAT khutbah di masjid Satlantas Polres Jombang, Jumat (17/9), pengasuh Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Hafidz Trawasan Sumobito Ustad M Hafidz menjelaskan pentingnya berbakti kepada orang tua. Serta menomorsatukan orang tua. ’’Rasulullah Muhammad SAW bersabda; Rida Allah tergantung rida orang tua. Murka Allah juga tergantung murka orang tua,’’ tuturnya.

Allah SWT berfirman dalam QS Ali Imron 23. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”.

Gus Hafid lantas menceritakan kisah Alqamah. Dia seorang sahabat yang sangat taat. Ia tak pernah lalaikan salat. Fardu ataupun snnah. Amalan puasa dan sedekah tak pernah terlewat. Namun, di penghujung hayat ia susah mengucap syahadat. Saat Alqamah sakit keras, istrinya mengirim utusan kepada Rasulullah. Tujuannya memberi kabar, suaminya sakit kritis dan sepertinya sedang menghadapi sakaratul maut.   Begitu menerima kabar, Rasulullah langsung mengutus Ammar, Bilal, dan Shuhaib untuk menjenguk Alqamah dan mengajarinya mengucap kalimat tuhid, La ilaha illallah. Namun, lisannya kelu tak kuasa berucap.
Mereka lantas kembali dan memberitahukan hal itu kepada Rasulullah. Apakah diantara kedua orang tuanya ada yang masih hidup? Tanya Nabi.

Baca Juga :  Jombang Darurat Kekerasan Seksual, Mahasiswa Minta Aparat Hukum Tegas

’’Ada, wahai Rasul, ibunya. Ia sudah sangat sepuh,’’ jawab salah satu sahabat.

Rasulullah meminta agar sahabat menemui ibu Alqamah.  Di hadapan ibunda Alqamah, sang utusan menyampaikan pesan Nabi. Akhirnya ibunda Alqamah menemui Nabi.

Nabi bertanya; Wahai ibunda Alqamah, jujurlah kepadaku. Jika berbohong, wahyu Allah akan turun kepadaku. Bagaimana keadaan anakmu? Ia menjawab; Wahai Rasul, anakku itu rajin salat, rajin puasa dan banyak sedekah.

- Advertisement -

Lantas bagaimana keadaanmu kepadanya? desak Rasulullah. Ibunya menjawab; aku tidak suka kepadanya. Karena ia lebih mementingkan istrinya dan durhaka kepadaku. Murka sang ibu membuat Alqamah terhalang mengucap syahadat.

Nabi lantas berkata kepada Bilal; Hai Bilal, kumpulkanlah kayu bakar sebanyak-banyaknya.  

’’Untuk apa, ya Rasul?’’ sela ibunda Alqamah. Nabi menjawab hendak membakar Alqamah.
’’Wahai Rasul, dia itu anakku. Hatiku tetap tak tega melihatmu membakar tubuhnya. Apalagi dilakukan di depan mataku sendiri,’’ rajuk ibunda Alqamah.  

’’Wahai ibunda Alqamah, azab Allah itu lebih berat dan lebih kekal. Jika kau ingin Allah mengampuninya, maka ridai dia. Demi Dzat yang menggenggam jiwaku, salat, puasa, dan sedekah Alqamah tidak ada manfaatnya selama engkau masih murka kepadanya,’’ kata Rasulullah.

Baca Juga :  Hanger Produksi Warga Plosokendal Tembus Pasar Luar Jombang

Ibunya lalu berkata; Wahai Rasulullah, di hadapan Allah, para malaikat-Nya dan seluruh kaum Muslimin yang hadir, aku bersaksi, aku meridai anakku Alqamah.

Nabi lantas minta Bilal kembali melihat Alqamah. Dari luar rumah, Bilal mendengar Alqamah mengucap La ilaha illallah. Setelah itu, Alqamah menghembuskan nafas terakhir.

Rasulullah minta jenazahnya dimandikan dan dikafani. Rasul juga ikut menyalati.

Pada saat pemakaman, Nabi berdiri di pinggir lubang kubur dan berpidato. Wahai kaum Muhajirin dan Ansor, siapa saja yang mementingkan istrinya daripada ibunya, maka laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia adalah untuknya. Allah tidak akan menerima kebaikan dan keadilannya kecuali ia bertobat kepada Allah, memperbaiki sikapnya kepada ibu dan berusaha mengejar ridanya. Sesungguhnya rida Allah berada pada rida ibu. Murka Allah juga berada pada murka ibu.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/