alexametrics
21.7 C
Jombang
Monday, August 8, 2022

Binrohtal 1.458, Ketaatan yang Tidak Mutlak

JOMBANG – Saat khotbah di Masjid Satlantas, Polres Jombang, Jumat (17/6), Ustaz Hasanudin Sambong, menjelaskan pentingnya taat kepada pemimpin. Namun, wujud ketaatan itu derajatnya berbeda dengan taatnya manusia kepada Allah dan Rasul-Nya.

’’Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu,’’ tuturnya mengutip QS Annisa 59. Ayat itu memerintahkan kita taat pada Allah, rasulullah dan ulil amri. ’’Namun derajat ketaatannya berbeda,’’ ungkapnya.

Perintah taat kepada Allah menggunakan kalimat taatilah. Perintah taat kepada rasul juga menggunakan kata taatilah. ’’Ini menunjukkan, taat kepada Allah dan rasulullah itu bersifat mutlak,’’ tegasnya.

Sedangkan taat kepada ulil amri derajatnya lebih rendah. Perintah taatnya tidak mutlak. ’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Allah SWT,’’ tegasnya.

Artinya, kita harus taat ulil amri hanya pada hal-hal yang tidak bersifat maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Tapi jika diperintah maksiat kepada Allah SWT, maka kita tak boleh taat.

Baca Juga :  Peduli di Masa Pandemi, Pengusaha Jombang Bagi Sembako

Pada zaman penjajahan Jepang, orang Indonesia tiap pagi disuruh membungkuk ke arah matahari. Ini karena Jepang meyakini, kaisar mereka keturunan dewa matahari. Para kiai menolak perintah itu. Karena membungkuk ke arah matahari dianggap menyembah matahari. Padahal orang Islam hanya boleh menyembah Allah SWT. Umat Islam hanya rukuk dan sujud kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Adapun definisi ulil amri ada empat. Sebagaimana disebutkan Imam al-Mawardi dalam kitab tafsirnya. Pertama, ulil amri bermakna umara. Para pemimpin masalah keduniaan seperti pemerintahan.

Ibn Abbas mengatakan, ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Huzafah bin Qays as-Samhi ketika Rasul mengangkatnya menjadi pemimpin dalam sariyah (perang yang tidak diikuti oleh Rasulullah Muhammad SAW.) Sedangkan As-Sady berpendapat, ayat ini turun berkenaan dengan Amr bin Yasir dan Khalid bin Walid ketika keduanya diangkat oleh Rasul sebagai pemimpin dalam sariyah.

Baca Juga :  Binrohtal 1.471, Keistimewaan Bulan Zulhijah

Kedua, ulil amri bermakna ulama dan fuqaha. Ini menurut pendapat Jabir bin Abdullah, al-Hasan, Atha, dan Abi al-Aliyah. Ketiga, pendapat dari Mujahid yang mengatakan, ulil amri adalah sahabat-sahabat Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Keempat, pendapat Ikrimah yang menyebutkan, makna ulil amri hanya kepada dua sahabat saja, yaitu Abu Bakar dan Umar.

Ahmad Mustafa al-Maraghi menyebutkan, ulil amri itu umara (pemerintah), ahli hikmah, ulama, pemimpin pasukan dan seluruh pemimpin lainnya dan zuama yang manusia merujuk kepada mereka dalam hal kebutuhan dan kemaslahatan umum.

Termasuk ulil amri ialah ahlul halli wal aqdi (legeslatif) yang dipercaya oleh umat. Termasuk juga ulama, pemimpin militer dan pemimpin dalam kemaslahatan umum. Seperti pemimpinnya pedagang, pemimpinnya petani, pemimpinnya buruh dan pemimpinnya profesi-profesi lainnya. (jif/riz)

- Advertisement -

JOMBANG – Saat khotbah di Masjid Satlantas, Polres Jombang, Jumat (17/6), Ustaz Hasanudin Sambong, menjelaskan pentingnya taat kepada pemimpin. Namun, wujud ketaatan itu derajatnya berbeda dengan taatnya manusia kepada Allah dan Rasul-Nya.

’’Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu,’’ tuturnya mengutip QS Annisa 59. Ayat itu memerintahkan kita taat pada Allah, rasulullah dan ulil amri. ’’Namun derajat ketaatannya berbeda,’’ ungkapnya.

Perintah taat kepada Allah menggunakan kalimat taatilah. Perintah taat kepada rasul juga menggunakan kata taatilah. ’’Ini menunjukkan, taat kepada Allah dan rasulullah itu bersifat mutlak,’’ tegasnya.

Sedangkan taat kepada ulil amri derajatnya lebih rendah. Perintah taatnya tidak mutlak. ’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Allah SWT,’’ tegasnya.

Artinya, kita harus taat ulil amri hanya pada hal-hal yang tidak bersifat maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Tapi jika diperintah maksiat kepada Allah SWT, maka kita tak boleh taat.

Baca Juga :  Binrohtal 1.490, Hidayah untuk Bertobat

Pada zaman penjajahan Jepang, orang Indonesia tiap pagi disuruh membungkuk ke arah matahari. Ini karena Jepang meyakini, kaisar mereka keturunan dewa matahari. Para kiai menolak perintah itu. Karena membungkuk ke arah matahari dianggap menyembah matahari. Padahal orang Islam hanya boleh menyembah Allah SWT. Umat Islam hanya rukuk dan sujud kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

- Advertisement -

Adapun definisi ulil amri ada empat. Sebagaimana disebutkan Imam al-Mawardi dalam kitab tafsirnya. Pertama, ulil amri bermakna umara. Para pemimpin masalah keduniaan seperti pemerintahan.

Ibn Abbas mengatakan, ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Huzafah bin Qays as-Samhi ketika Rasul mengangkatnya menjadi pemimpin dalam sariyah (perang yang tidak diikuti oleh Rasulullah Muhammad SAW.) Sedangkan As-Sady berpendapat, ayat ini turun berkenaan dengan Amr bin Yasir dan Khalid bin Walid ketika keduanya diangkat oleh Rasul sebagai pemimpin dalam sariyah.

Baca Juga :  Binrohtal 1.484, Doa dari Nabi Khidir

Kedua, ulil amri bermakna ulama dan fuqaha. Ini menurut pendapat Jabir bin Abdullah, al-Hasan, Atha, dan Abi al-Aliyah. Ketiga, pendapat dari Mujahid yang mengatakan, ulil amri adalah sahabat-sahabat Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Keempat, pendapat Ikrimah yang menyebutkan, makna ulil amri hanya kepada dua sahabat saja, yaitu Abu Bakar dan Umar.

Ahmad Mustafa al-Maraghi menyebutkan, ulil amri itu umara (pemerintah), ahli hikmah, ulama, pemimpin pasukan dan seluruh pemimpin lainnya dan zuama yang manusia merujuk kepada mereka dalam hal kebutuhan dan kemaslahatan umum.

Termasuk ulil amri ialah ahlul halli wal aqdi (legeslatif) yang dipercaya oleh umat. Termasuk juga ulama, pemimpin militer dan pemimpin dalam kemaslahatan umum. Seperti pemimpinnya pedagang, pemimpinnya petani, pemimpinnya buruh dan pemimpinnya profesi-profesi lainnya. (jif/riz)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/