alexametrics
28.4 C
Jombang
Thursday, May 19, 2022

Siti Rahayu: Rida Suami Bekal Utama

DUKUNGAN suami adalah bekal utama. Begitu menurut Siti Rahayu, guru biologi SMAN Mojoagung. ”Selama positif, alhamdulillah suami sangat mendukung, karena itu adalah yang terpenting bagi saya,” ungkap istri Muhammad Jazuli ini.

Menurutnya, suami memiliki peran lebih dari sekadar kepala keluarga yang mencari nafkah. Kerja sama dalam rumah juga harus dilakukan dengan kompak bersama suaminya. Bahkan suaminya tak sungkan mencuci baju setiap hari. ”Berbagi peran itu harus, karena itu adalah tanggung jawab bersama bukan hanya istri saja atau suami saja,” jelasnya.

Selama pekerjaan bisa dilakukan sendiri, maka ia akan melakukannya sendiri. Baginya pantang bergantung pada orang lain meskipun kepada suami sendiri. ”Suami saya bukan kategori suami yang manja, begitu pula saya pantang jadi istri yang manja,” tegas Rahayu.

Bagi wanita, rida suami yang paling utama. Tapi bagi suami, rida orang tua yang paling utama. Ia lantas mengulas masa lalunya. Rahayu tak bisa menahan air mata saat menceritakan tentang perjalanan kehidupannya, terlebih menyangkut orang tua. Dia lahir di Gunungkidul 17 September 1973.

Baca Juga :  Bus Pariwisata Kecelakaan di Tol, Kenek Tewas

Pada 1998 ia sempat ke Jakarta ke rumah orang tuanya. Di sana ia menjadi guru honorer di empat sekolah sekaligus. Dua MTs, satu MA dan satu SMA swasta. ”Jadi dalam seminggu saya mengajar sekitar 65 jam,” bebernya.

Selanjutnya, pada tahun 2000 ia menikah dan sempat tinggal di Jakarta. Suaminya Muhammad Jazuli yang merupakan anak bungsu harus meninggalkan orang tuanya di Jombang. ”Saat itu mertua saya sudah sakit, jantung koroner. Karena sering kambuh akhirnya saya pulang ke Jombang ikut suami,” jelasnya.

Ia memiliki prinsip kemanapun suami pergi, ia harus ikut. Artinya ia harus melepas profesinya sebagai seorang guru honorer di empat sekolah tersebut. Hingga 2001 ia memutuskan untuk tinggal di Jombang. Setelah pulang, karir suaminya begitu cepat melesat.

Dua bulan setelah pulang ke Jombang, suaminya mendapatkan kesempatan untuk menjadi dosen di Undar (Universitas Darul Ulum). Dua bulan setelahnya ia ikut tes CPNS, dengan mudahnya, suaminya berhasil lolos tes. ”Padahal di Jakarta setiap daftar kerja tes selalu yang terbaik, tapi kerja selalu tidak kerasan,” jelasnya.

Baca Juga :  Manisnya Pisang Mas Wonosalam Lebih Manis dan Panjang

Mulusnya jalan karir suaminya menurutnya karena faktor rida dari orang tua. ”Dua minggu setelah suami saya lolos CPNS, mertua saya meninggal dunia,” ulasnya sembari sesekali menyeka air mata.

Rahayu memiliki karakter yang tidak suka berdiam diri di rumah. Setelah pulang ke Jombang, aktivitasnya lebih banyak mengerjakan tugas di rumah sebagai ibu rumah tangga. ”Selama tiga tahun. Baru setelah mertua saya meninggal, saya minta izin mengajar dan alhamdulillah diizinkan,” jelasnya.

Mulanya Ia menjadi guru honorer di SMPN 1 Sumobito. Setahun setelah mengajar sebagai guru honorer, ia daftar CPNS, dan langsung diterima. ”Berkat dorongan dari suami karena usia saat itu juga sudah usia kritis untuk daftar CPNS,” katanya.

- Advertisement -

DUKUNGAN suami adalah bekal utama. Begitu menurut Siti Rahayu, guru biologi SMAN Mojoagung. ”Selama positif, alhamdulillah suami sangat mendukung, karena itu adalah yang terpenting bagi saya,” ungkap istri Muhammad Jazuli ini.

Menurutnya, suami memiliki peran lebih dari sekadar kepala keluarga yang mencari nafkah. Kerja sama dalam rumah juga harus dilakukan dengan kompak bersama suaminya. Bahkan suaminya tak sungkan mencuci baju setiap hari. ”Berbagi peran itu harus, karena itu adalah tanggung jawab bersama bukan hanya istri saja atau suami saja,” jelasnya.

Selama pekerjaan bisa dilakukan sendiri, maka ia akan melakukannya sendiri. Baginya pantang bergantung pada orang lain meskipun kepada suami sendiri. ”Suami saya bukan kategori suami yang manja, begitu pula saya pantang jadi istri yang manja,” tegas Rahayu.

Bagi wanita, rida suami yang paling utama. Tapi bagi suami, rida orang tua yang paling utama. Ia lantas mengulas masa lalunya. Rahayu tak bisa menahan air mata saat menceritakan tentang perjalanan kehidupannya, terlebih menyangkut orang tua. Dia lahir di Gunungkidul 17 September 1973.

Baca Juga :  Tak Banyak yang Tahu, Inilah Sang Pencipta Logo Kabupaten Jombang

Pada 1998 ia sempat ke Jakarta ke rumah orang tuanya. Di sana ia menjadi guru honorer di empat sekolah sekaligus. Dua MTs, satu MA dan satu SMA swasta. ”Jadi dalam seminggu saya mengajar sekitar 65 jam,” bebernya.

Selanjutnya, pada tahun 2000 ia menikah dan sempat tinggal di Jakarta. Suaminya Muhammad Jazuli yang merupakan anak bungsu harus meninggalkan orang tuanya di Jombang. ”Saat itu mertua saya sudah sakit, jantung koroner. Karena sering kambuh akhirnya saya pulang ke Jombang ikut suami,” jelasnya.

- Advertisement -

Ia memiliki prinsip kemanapun suami pergi, ia harus ikut. Artinya ia harus melepas profesinya sebagai seorang guru honorer di empat sekolah tersebut. Hingga 2001 ia memutuskan untuk tinggal di Jombang. Setelah pulang, karir suaminya begitu cepat melesat.

Dua bulan setelah pulang ke Jombang, suaminya mendapatkan kesempatan untuk menjadi dosen di Undar (Universitas Darul Ulum). Dua bulan setelahnya ia ikut tes CPNS, dengan mudahnya, suaminya berhasil lolos tes. ”Padahal di Jakarta setiap daftar kerja tes selalu yang terbaik, tapi kerja selalu tidak kerasan,” jelasnya.

Baca Juga :  Pemilihan Ketua KONI Harus Transparan

Mulusnya jalan karir suaminya menurutnya karena faktor rida dari orang tua. ”Dua minggu setelah suami saya lolos CPNS, mertua saya meninggal dunia,” ulasnya sembari sesekali menyeka air mata.

Rahayu memiliki karakter yang tidak suka berdiam diri di rumah. Setelah pulang ke Jombang, aktivitasnya lebih banyak mengerjakan tugas di rumah sebagai ibu rumah tangga. ”Selama tiga tahun. Baru setelah mertua saya meninggal, saya minta izin mengajar dan alhamdulillah diizinkan,” jelasnya.

Mulanya Ia menjadi guru honorer di SMPN 1 Sumobito. Setahun setelah mengajar sebagai guru honorer, ia daftar CPNS, dan langsung diterima. ”Berkat dorongan dari suami karena usia saat itu juga sudah usia kritis untuk daftar CPNS,” katanya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/