alexametrics
28.4 C
Jombang
Thursday, May 19, 2022

Kerajinan Kayu Potong dengan Ukiran Laser

SIAPA sangka, dari potongan kayu lempengan, Anton Widodo Trimuryono, 33, asal Desa Sambongdukuh, Kecamatan Jombang mampu membuat kerajinan unik dan bernilai. Sketsa wajah, tulisan, jam hingga souvenir lain mambu diukir diatas lempengan kayu.

Semua kerajian itu dibuat di rumahnya. Di teras dan ruang tamu rumahnya, ratusan lempengan kayu ditumpuk. Banyak yang masih polos, namun beberapa telah tampak bentuk dan garis diatasnya. ’’Yang polos itu bahan. Kalau yang sudah ada tulisannya barang display, sudah jadi,” terang pemilik usaha kerajinan kayu potong ini.

Sudah dua tahun ini Anton membuat kerajinan. Inspirasinya bermula saat sang kakak memulai usaha grafir dan punya alat laser. Ia yang sudah lama akrab dengan perkayuan, mencoba peruntungan dengan membuat kerajinan dari kayu potong.

’’Saya dulu suka bikin kursi dari kayu gelondongan, lalu mencoba pakai kayu potong. Kok pasar nerima, akhirnya ya berlanjut,” ucapnya.

Baca Juga :  Binrohtal 1.198: Ngaji Berbuah Akhlak

Meski terlihat sederhana, pembuatan kerajinan ini memakan waktu lama. Pertama, Anton harus mencari bahan utama, kayu mahoni. Anton hanya menggunakan kayu jenis mahoni untuk kerajinannya.

Kayu mahoni lebih halus seratnya, kulitnya juga tidak mudah terkelupas. ’’Yang membuat menarik kulit kayu di pinggirnya itu,” sambungnya.

Setelah dapat, kayu ini harus dipotong tipis hingga membentuk lempengan. Anton biasa memotongnya dengan ketebalan 1,5 hingga dua sentimeter. Setelah itu, kayu harus dikeringkan untuk mengurangi kadar air. Proses ini memakan waktu paling lama.

’’Pengeringannya biasanya empat hari, setelah kering baru digosok sampai halus,’’ jelasnya. Kemudian dilakukan proses untuk menutup serat kayu.

Setelah bahan siap, barulah bagian utama dimulai, yakni pengukiran. Anton menggunakan metode laser grafir untuk mengukir bagian utama kerajinannya. ’’Untuk desain biasanya dari pemesan. Desainnya bebas,’’ ungkapnya. Setelah desain selesai, baru dipernis lagi.

Baca Juga :  Pengisian Sekda Definitif Ditarget Tahun Ini Tuntas

Ia mengaku bisa membuat hingga 30 buah kerajinan setiap bulan. Untuk harga, ia tak bisa mematok pasti. Harganya bergantung pada lebar lempengan kayu, juga banyaknya proses pelaseran. ’’Yang jelas paling murah Rp 5 ribu untuk yang diameter 5 sentimeter,’’ urainya. Paling mahal Rp 250 ribu untuk diameter 20 sentimeter. ’’Tapi tetap tergantung ukirannya,” rincinya.

Kerajinan ini sejak awal dipasarkan secara online lewat media sosial. Sehingga mampu menembus pasar yang sangat luas. Karyanya sudah merambah Jombang dan kota-kota sekitarnya. ’’Paling jauh sampai ke Sumatera Barat,” tegasnya.

- Advertisement -

SIAPA sangka, dari potongan kayu lempengan, Anton Widodo Trimuryono, 33, asal Desa Sambongdukuh, Kecamatan Jombang mampu membuat kerajinan unik dan bernilai. Sketsa wajah, tulisan, jam hingga souvenir lain mambu diukir diatas lempengan kayu.

Semua kerajian itu dibuat di rumahnya. Di teras dan ruang tamu rumahnya, ratusan lempengan kayu ditumpuk. Banyak yang masih polos, namun beberapa telah tampak bentuk dan garis diatasnya. ’’Yang polos itu bahan. Kalau yang sudah ada tulisannya barang display, sudah jadi,” terang pemilik usaha kerajinan kayu potong ini.

Sudah dua tahun ini Anton membuat kerajinan. Inspirasinya bermula saat sang kakak memulai usaha grafir dan punya alat laser. Ia yang sudah lama akrab dengan perkayuan, mencoba peruntungan dengan membuat kerajinan dari kayu potong.

’’Saya dulu suka bikin kursi dari kayu gelondongan, lalu mencoba pakai kayu potong. Kok pasar nerima, akhirnya ya berlanjut,” ucapnya.

Baca Juga :  Prospek Beternak Ayam Hias

Meski terlihat sederhana, pembuatan kerajinan ini memakan waktu lama. Pertama, Anton harus mencari bahan utama, kayu mahoni. Anton hanya menggunakan kayu jenis mahoni untuk kerajinannya.

Kayu mahoni lebih halus seratnya, kulitnya juga tidak mudah terkelupas. ’’Yang membuat menarik kulit kayu di pinggirnya itu,” sambungnya.

- Advertisement -

Setelah dapat, kayu ini harus dipotong tipis hingga membentuk lempengan. Anton biasa memotongnya dengan ketebalan 1,5 hingga dua sentimeter. Setelah itu, kayu harus dikeringkan untuk mengurangi kadar air. Proses ini memakan waktu paling lama.

’’Pengeringannya biasanya empat hari, setelah kering baru digosok sampai halus,’’ jelasnya. Kemudian dilakukan proses untuk menutup serat kayu.

Setelah bahan siap, barulah bagian utama dimulai, yakni pengukiran. Anton menggunakan metode laser grafir untuk mengukir bagian utama kerajinannya. ’’Untuk desain biasanya dari pemesan. Desainnya bebas,’’ ungkapnya. Setelah desain selesai, baru dipernis lagi.

Baca Juga :  Warga Terdampak Banjir di Jombok Mulai Keluhkan Gatal-gatal

Ia mengaku bisa membuat hingga 30 buah kerajinan setiap bulan. Untuk harga, ia tak bisa mematok pasti. Harganya bergantung pada lebar lempengan kayu, juga banyaknya proses pelaseran. ’’Yang jelas paling murah Rp 5 ribu untuk yang diameter 5 sentimeter,’’ urainya. Paling mahal Rp 250 ribu untuk diameter 20 sentimeter. ’’Tapi tetap tergantung ukirannya,” rincinya.

Kerajinan ini sejak awal dipasarkan secara online lewat media sosial. Sehingga mampu menembus pasar yang sangat luas. Karyanya sudah merambah Jombang dan kota-kota sekitarnya. ’’Paling jauh sampai ke Sumatera Barat,” tegasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/