alexametrics
26.4 C
Jombang
Wednesday, May 25, 2022

Dampak Covid-19, Industri Kerupuk Rumahan di Sumobito Kurangi Produksi

JOMBANG – Pandemi Covid-19 berdampak pada pelaku usaha. Salah satunya dirasakan pengusaha kerupuk ikan di wilayah Sumobito. Sejak pandemi, permintaan kerupuk anjlok.

Muhammad Dhofar, salah satu produsen kerupuk kulit ikan di Desa Badas, Kecamatan Sumobito mengatakan pandemi Covid-19 sangat berdampak terhadap usahanya. ”Permintaan pasar masih sepi. Kalau pun ada, tidak banyak. Jadi produksi belum bisa maksimal seperti hari biasa,” terangnya.

Dia mensinyalir, salah satu penyebab sepinya permintaan disebabkan daya beli warga menurun. ”Kalau normal, setiap tiga hari sekali bisa produksi 10 kilogram. Sekarang bisa produksi 3 kilo saja sudah bagus sekali,” tambahnya.

Masalah semakin kompleks, karena bahan baku kulit ikan juga sulit didapat. ”Rebutan dengan tengkulak dari luar Jatim,” ungkapnya, kemarin (10/8).

Baca Juga :  Industri Rumahan Kerupuk Kulit Ikan di Sumobito

Dhofar mengatakan selama ini bahan baku kulit disuplai salah satu pengepul dari Tembelang. ”Yang mencari kulit ikan dari luar Jatim sangat banyak. Seringkali kalah bersaing dalam harga dan jumlah pembelian,” lanjut Dhofar.

Dirinya mengaku sudah setahunan menggunakan kulit ikan untuk bahan baku kerupuk. ”Kalau dari tepung kan sudah biasa,” katanya.

Kulit yang dijadikan Dhofar bahan baku kerupuk berasal dari ikan patin dan ikan kakap. Perkilo kulit ikan patin mentah, ia beli dengan harga Rp 15 ribu. Sedangkan kulit ikan kakap per kilo seharga Rp 17 ribu. ”Untuk beberapa bulan ini, kulit ikan kakap sementara tidak dipakai. Karena penyusutan bahan bakunya sangat tinggi,” imbuh Dhofar.

Baca Juga :  Tabrak Honda Prima, Pengendara Vixion Tewas di Jalan Kretarto Jombang
- Advertisement -

JOMBANG – Pandemi Covid-19 berdampak pada pelaku usaha. Salah satunya dirasakan pengusaha kerupuk ikan di wilayah Sumobito. Sejak pandemi, permintaan kerupuk anjlok.

Muhammad Dhofar, salah satu produsen kerupuk kulit ikan di Desa Badas, Kecamatan Sumobito mengatakan pandemi Covid-19 sangat berdampak terhadap usahanya. ”Permintaan pasar masih sepi. Kalau pun ada, tidak banyak. Jadi produksi belum bisa maksimal seperti hari biasa,” terangnya.

Dia mensinyalir, salah satu penyebab sepinya permintaan disebabkan daya beli warga menurun. ”Kalau normal, setiap tiga hari sekali bisa produksi 10 kilogram. Sekarang bisa produksi 3 kilo saja sudah bagus sekali,” tambahnya.

Masalah semakin kompleks, karena bahan baku kulit ikan juga sulit didapat. ”Rebutan dengan tengkulak dari luar Jatim,” ungkapnya, kemarin (10/8).

Baca Juga :  Hari Keenam, Banjir di Desa Brangkal Bandarkedungmulyo Mulai Surut

Dhofar mengatakan selama ini bahan baku kulit disuplai salah satu pengepul dari Tembelang. ”Yang mencari kulit ikan dari luar Jatim sangat banyak. Seringkali kalah bersaing dalam harga dan jumlah pembelian,” lanjut Dhofar.

Dirinya mengaku sudah setahunan menggunakan kulit ikan untuk bahan baku kerupuk. ”Kalau dari tepung kan sudah biasa,” katanya.

- Advertisement -

Kulit yang dijadikan Dhofar bahan baku kerupuk berasal dari ikan patin dan ikan kakap. Perkilo kulit ikan patin mentah, ia beli dengan harga Rp 15 ribu. Sedangkan kulit ikan kakap per kilo seharga Rp 17 ribu. ”Untuk beberapa bulan ini, kulit ikan kakap sementara tidak dipakai. Karena penyusutan bahan bakunya sangat tinggi,” imbuh Dhofar.

Baca Juga :  Cerita Pemilik Warung Indonesia Yang Viral di Korea Selatan

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/