alexametrics
31.1 C
Jombang
Wednesday, May 25, 2022

Ulama hingga Tokoh Nasional Antarkan Lily Wahid ke Peristirahatan Terakhir

JOMBANG – Sesuai rencana, jenazah almarhumah Lily Khadijah Wahid akhirnya dimakamkan di Tebuireng, Selasa kemarin (10/5) sore. Ratusan pentakziyah ulama dan sejumlah tokoh nasional turut hadir, mengantarnya menuju peristirahatan terakhir.

Sejak pagi, persiapan pemakaman Lily Wahid terlihat di Tebuireng. Liang lahat untuk peristirahatan terakhir telah digali sejak pagi, dan rampung pukul 10.00. Menjelang siang, sejumlah tamu dan pentakziyah mulai berdatangan.

Perwakilan keluarga KH A Wahid Hasyim seperti Nyai Hj Farida, istri almarhum KH Salahudin Wahid, bersama anak dan keluarganya, serta Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid putri pertama Gus Dur nampak datang lebih dulu. Menyusul kemudian, sejumlah kerabat dari Pesantren Tebuireng lainnya.

Sejumlah tokoh lokal dan nasional juga terlihat hadir menyambut jenazah Lily. Sebut saja KH Marzuki Mustamar Ketua PWNU Jatim, ulama dan penceramah KH Ahmad Muwafiq dan Ketua Dewan Pers Muhammad Nuh. Sekitar pukul 15.00, rombongan Gubernur Jatim bersama Forkompimda Jatim dan Bupati Jombang bersama Forkopimda Jombang juga hadir melakukan takziyah.

Jenazah Lily sampai di Tebuireng sekitar pukul 16.00, setelah menempuh perjalanan darat. Jenazah yang masih dalam peti itu terlebih dahulu dibawa ke ndalem kasepuhan sebelum disalatkan di Masjid Tebuireng. Pengasuh PP Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz, ditunjuk jadi imam salat jenazah. Ratusan pentakziyah lain terlihat memenuhi halaman masjid.

Baca Juga :  Mulok Jadi Pertimbangan Kelulusan

Usai salat, jenazah dibawa langsung menuju liang lahat yang sudah disiapkan. Rasa haru, terlihat jelas di wajah keluarga Pesantren Tebuireng. “Saya mewakili keluarga Lily Wahid maupun keluarga Wahid Hasyim mengucapkan terimaksaih sebanyak-banyaknya kepada Gus Kikin, karena sudah mengijinkan Bulek Lilik dimakamkan di sini,” ucap Arif Rahman Hamid, perwakilan keluarga saat memberikan sambutan.

Arif menyebut, tante yang sudah dianggap sebagai ibu sendiri itu adalah guru baginya. Guru yang mengajarkannya tentang hal memaafkan, selama apapun permasalahannya. Arif juga mengisahkan bagaimana ia dan Lily Wahid akhirnya berbaikan setelah sempat memiliki hubungan tak baik bertahun-tahun 2006 lalu. “Saya belajar bagaimana jika ada orang yang melukai, harus bisa memaafkan, saya belajar banyak dari Lily Khadijah Wahid,” ucapnya.

Sementara Gus Kikin yang mendapat giliran sambutan kedua, menyebutkan rasa kehilangan yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Lily Wahid. “Sore ini kita mengantarkan seseorang yang begitu dekat. Seseorang yang biasa bercengkrama dengan akrab, yang begitu peduli dengan hubungan silaturahim, seseorang yang begitu gigih memperjuangkan kebenaran,” ucapnya sembari menahan rasa haru.

Baca Juga :  Gelar Corporate Gathering Badan Usaha Menengah – Besar

Selama hidup, Gus Kikin mengenal Lily Wahid sebagai pribadi yang sangat baik. Selain istiqamah bermalam di Tebuireng setiap beberapa bulan sekali, ia juga guru dan teman diskusi untuk banyak hal. Terlebih untuk kemajuan Pesantren Tebuireng. “Banyak hal yang dia lakukan demi teman, kerabat, keluarga dan orang yang tak pernah berhitung dalam membantu orang lain. Kami keluarga Pondok Pesantren Tebuireng juga dzuriyah KH Hasyim Asy’ari merasa sangat kehilangan,” tegasnya.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, yang mendapat giliran ketiga, membacakan apresiasinya kepada Lily Wahid lantaran kepeduliannya kepada anak-anak dan nasib bangsa ke depan. “Beliau sempat mengutarakan ide untuk membahas gagasan pentingnya penguatan kepada anak-anak, penguatan tentang Matematika,” imbuhnya.

Namun, sakit lebih dahulu menyerang Lily Wahid hingga pertemuan keduanya belum sempat berlangsung. Lily harus dirawat di rumah sakit setelah mengalami masalah pada jantungnya. “Namun kita perlu belajar banyak, beliau dengan usia seperti ini, masih memikirkan masa depan Bangsa,” pungkas Khofifah.

- Advertisement -

JOMBANG – Sesuai rencana, jenazah almarhumah Lily Khadijah Wahid akhirnya dimakamkan di Tebuireng, Selasa kemarin (10/5) sore. Ratusan pentakziyah ulama dan sejumlah tokoh nasional turut hadir, mengantarnya menuju peristirahatan terakhir.

Sejak pagi, persiapan pemakaman Lily Wahid terlihat di Tebuireng. Liang lahat untuk peristirahatan terakhir telah digali sejak pagi, dan rampung pukul 10.00. Menjelang siang, sejumlah tamu dan pentakziyah mulai berdatangan.

Perwakilan keluarga KH A Wahid Hasyim seperti Nyai Hj Farida, istri almarhum KH Salahudin Wahid, bersama anak dan keluarganya, serta Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid putri pertama Gus Dur nampak datang lebih dulu. Menyusul kemudian, sejumlah kerabat dari Pesantren Tebuireng lainnya.

Sejumlah tokoh lokal dan nasional juga terlihat hadir menyambut jenazah Lily. Sebut saja KH Marzuki Mustamar Ketua PWNU Jatim, ulama dan penceramah KH Ahmad Muwafiq dan Ketua Dewan Pers Muhammad Nuh. Sekitar pukul 15.00, rombongan Gubernur Jatim bersama Forkompimda Jatim dan Bupati Jombang bersama Forkopimda Jombang juga hadir melakukan takziyah.

Jenazah Lily sampai di Tebuireng sekitar pukul 16.00, setelah menempuh perjalanan darat. Jenazah yang masih dalam peti itu terlebih dahulu dibawa ke ndalem kasepuhan sebelum disalatkan di Masjid Tebuireng. Pengasuh PP Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz, ditunjuk jadi imam salat jenazah. Ratusan pentakziyah lain terlihat memenuhi halaman masjid.

Baca Juga :  Liga Jatim Seri 1 Cabor Paralayang Ditunda

Usai salat, jenazah dibawa langsung menuju liang lahat yang sudah disiapkan. Rasa haru, terlihat jelas di wajah keluarga Pesantren Tebuireng. “Saya mewakili keluarga Lily Wahid maupun keluarga Wahid Hasyim mengucapkan terimaksaih sebanyak-banyaknya kepada Gus Kikin, karena sudah mengijinkan Bulek Lilik dimakamkan di sini,” ucap Arif Rahman Hamid, perwakilan keluarga saat memberikan sambutan.

- Advertisement -

Arif menyebut, tante yang sudah dianggap sebagai ibu sendiri itu adalah guru baginya. Guru yang mengajarkannya tentang hal memaafkan, selama apapun permasalahannya. Arif juga mengisahkan bagaimana ia dan Lily Wahid akhirnya berbaikan setelah sempat memiliki hubungan tak baik bertahun-tahun 2006 lalu. “Saya belajar bagaimana jika ada orang yang melukai, harus bisa memaafkan, saya belajar banyak dari Lily Khadijah Wahid,” ucapnya.

Sementara Gus Kikin yang mendapat giliran sambutan kedua, menyebutkan rasa kehilangan yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Lily Wahid. “Sore ini kita mengantarkan seseorang yang begitu dekat. Seseorang yang biasa bercengkrama dengan akrab, yang begitu peduli dengan hubungan silaturahim, seseorang yang begitu gigih memperjuangkan kebenaran,” ucapnya sembari menahan rasa haru.

Baca Juga :  Gelar Corporate Gathering Badan Usaha Menengah – Besar

Selama hidup, Gus Kikin mengenal Lily Wahid sebagai pribadi yang sangat baik. Selain istiqamah bermalam di Tebuireng setiap beberapa bulan sekali, ia juga guru dan teman diskusi untuk banyak hal. Terlebih untuk kemajuan Pesantren Tebuireng. “Banyak hal yang dia lakukan demi teman, kerabat, keluarga dan orang yang tak pernah berhitung dalam membantu orang lain. Kami keluarga Pondok Pesantren Tebuireng juga dzuriyah KH Hasyim Asy’ari merasa sangat kehilangan,” tegasnya.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, yang mendapat giliran ketiga, membacakan apresiasinya kepada Lily Wahid lantaran kepeduliannya kepada anak-anak dan nasib bangsa ke depan. “Beliau sempat mengutarakan ide untuk membahas gagasan pentingnya penguatan kepada anak-anak, penguatan tentang Matematika,” imbuhnya.

Namun, sakit lebih dahulu menyerang Lily Wahid hingga pertemuan keduanya belum sempat berlangsung. Lily harus dirawat di rumah sakit setelah mengalami masalah pada jantungnya. “Namun kita perlu belajar banyak, beliau dengan usia seperti ini, masih memikirkan masa depan Bangsa,” pungkas Khofifah.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/