alexametrics
26.4 C
Jombang
Wednesday, May 25, 2022

Binrohtal 1426, Syawal Bukan Suwal

SAAT ngaji di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Senin (9/5), KH Khairil Anam Denanyar menjelaskan makna Syawal. ’’Syawal itu maknanya meningkat,’’ tuturnya.

Makanya di bulan Syawal ini, amal ibadah kita harus meningkat. Amal ibadah kita tak boleh menurun. ’’Kalau melorot itu bukan Syawal, tapi suwal,’’ ucapnya disambut tawa jamaah.

Gus Anam menjelaskan, Idul Fitri adalah hari kemenangan. Menang dari hawa nafsu. Karena selama Ramadan kita bisa menang atas hawa nafsu. Hawa nafsu tidak mau puasa, kita perangi sehingga kita menang bisa puasa. Hawa nafsu tidak mau salat malam, kita perangi sehingga menang bisa salat tarawih.

Hawa nafsu tidak mau sedekah, kita perangi sehingga menang bisa sedekah dan zakat fitrah. Hawa nafsu tidak mau baca Alquran, kita perangi sehingga menang bisa tadarus tiap malam. ’’Inilah sebabnya, Idul Fitri disebut hari kemenangan. Karena kita menang mengalahkan hawa nafsu di bulan Ramadan,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Binrohtal 1.398: Puasa Penuh Kebaikan

Orang yang tidak puasa di bulan Ramadan, otomatis tidak ikut menang. ’’Setiap ada puasa, pasti ada hari raya,’’ tegasnya. Setiap ada perang, pasti ada kemenangan.

Hawa nafsu adalah musuh abadi. Karena itu kita harus terus memeranginya. ’’Orang yang menang melawan hawa nafsu di bulan Ramadan, harus terus menang di bulan-bulan lainnya,’’ tegasnya.

Gus Anam menjelaskan, orang yang puasa Ramadan akan dihapus dosa-dosanya. Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Orang yang berpuasa ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala, dosa-dosanya akan dihapus oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

’’Yang dihapus adalah dosa-dosa kecil yang berhubungan dengan Allah subhanahu wa ta’ala,’’ tegasnya.

Sedangkan dosa yang berhubungan dengan sesama manusia, tidak ikut dihapus lewat puasa. Makanya kita harus mohon maaf kepada sesama manusia.  Agar dosa-dosa yang berhubungan dengan sesama manusia juga dihapus.

Baca Juga :  Camat Mojowarno: Jenazah yang Dimakamkan di Mojowangi Positif Covid-19

Kalau dosa kepada Allah dihapus dan dosa kepada sesama manusia dihapus, kita akan kembali ke fitrah. Seperti bayi yang baru lahir. ’’Bayi itu tidak punya dosa,’’ ucapnya. Bayi tidak bisa sombong. Bayi tidak bisa angkuh. Bayi tidak bisa memaki apalagi ngerasani. Bayi tidak bisa menyakiti. Bayi tidak bisa mengambil hak orang lain.

’’Agar kita dimaafkan orang lain, maka kita juga harus mau memaafkan orang lain,’’ pesan Gus Anam.

Minta maaf dan memaafkan itu ajaran Islam. Makanya di Indonesia ada tradisi halalbihalal. Semua orang berkumpul kemudian saling minta maaf dan memberi maaf. Lalu makan-makan.

’’Halalbihalal itu hanya kemasan. Sedangkan isinya adalah ajaran agama untuk saling memaafkan,’’ tegasnya.

Dengan adanya halalbihalal kita tidak harus mendatangi satu per satu. Cukup datang di satu tempat, kita sudah ketemu orang dari manapun.

- Advertisement -

SAAT ngaji di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Senin (9/5), KH Khairil Anam Denanyar menjelaskan makna Syawal. ’’Syawal itu maknanya meningkat,’’ tuturnya.

Makanya di bulan Syawal ini, amal ibadah kita harus meningkat. Amal ibadah kita tak boleh menurun. ’’Kalau melorot itu bukan Syawal, tapi suwal,’’ ucapnya disambut tawa jamaah.

Gus Anam menjelaskan, Idul Fitri adalah hari kemenangan. Menang dari hawa nafsu. Karena selama Ramadan kita bisa menang atas hawa nafsu. Hawa nafsu tidak mau puasa, kita perangi sehingga kita menang bisa puasa. Hawa nafsu tidak mau salat malam, kita perangi sehingga menang bisa salat tarawih.

Hawa nafsu tidak mau sedekah, kita perangi sehingga menang bisa sedekah dan zakat fitrah. Hawa nafsu tidak mau baca Alquran, kita perangi sehingga menang bisa tadarus tiap malam. ’’Inilah sebabnya, Idul Fitri disebut hari kemenangan. Karena kita menang mengalahkan hawa nafsu di bulan Ramadan,’’ jelasnya.

Baca Juga :  SMPN Ngusikan Laksanakan Belajar Daring

Orang yang tidak puasa di bulan Ramadan, otomatis tidak ikut menang. ’’Setiap ada puasa, pasti ada hari raya,’’ tegasnya. Setiap ada perang, pasti ada kemenangan.

Hawa nafsu adalah musuh abadi. Karena itu kita harus terus memeranginya. ’’Orang yang menang melawan hawa nafsu di bulan Ramadan, harus terus menang di bulan-bulan lainnya,’’ tegasnya.

- Advertisement -

Gus Anam menjelaskan, orang yang puasa Ramadan akan dihapus dosa-dosanya. Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Orang yang berpuasa ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala, dosa-dosanya akan dihapus oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

’’Yang dihapus adalah dosa-dosa kecil yang berhubungan dengan Allah subhanahu wa ta’ala,’’ tegasnya.

Sedangkan dosa yang berhubungan dengan sesama manusia, tidak ikut dihapus lewat puasa. Makanya kita harus mohon maaf kepada sesama manusia.  Agar dosa-dosa yang berhubungan dengan sesama manusia juga dihapus.

Baca Juga :  Binrohtal 1.401: Pahala Sunah seperti Wajib

Kalau dosa kepada Allah dihapus dan dosa kepada sesama manusia dihapus, kita akan kembali ke fitrah. Seperti bayi yang baru lahir. ’’Bayi itu tidak punya dosa,’’ ucapnya. Bayi tidak bisa sombong. Bayi tidak bisa angkuh. Bayi tidak bisa memaki apalagi ngerasani. Bayi tidak bisa menyakiti. Bayi tidak bisa mengambil hak orang lain.

’’Agar kita dimaafkan orang lain, maka kita juga harus mau memaafkan orang lain,’’ pesan Gus Anam.

Minta maaf dan memaafkan itu ajaran Islam. Makanya di Indonesia ada tradisi halalbihalal. Semua orang berkumpul kemudian saling minta maaf dan memberi maaf. Lalu makan-makan.

’’Halalbihalal itu hanya kemasan. Sedangkan isinya adalah ajaran agama untuk saling memaafkan,’’ tegasnya.

Dengan adanya halalbihalal kita tidak harus mendatangi satu per satu. Cukup datang di satu tempat, kita sudah ketemu orang dari manapun.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/