alexametrics
23 C
Jombang
Wednesday, June 29, 2022

Biji dan Kulit Kakao di Kecamatan Wonosalam Jombang Bermanfaat

ADA komoditi unggulan lain di Kecamatan Wonosalam. Pohon kakao. Biji kakao yang menjadi bahan dasar pembuatan coklat ini banyak dikembangkan petani setempat. Termasuk kulitnya bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak.

Seperti yang terlihat di sepanjang perkebunan kakao Desa Sambirejo, Kecamatan Wonosalam. Ribuan pohon kakau menjulang tinggi. Sebagian pohon, ada buah yang siap dipanen. ”Panen kakao dapat dilakukan sepanjang tahun. Tapi umumnya setahun dua kali,’’ ujar Mohammad Ali, salah seorang petani kakao.

Dijelaskan, biji kakao merupakan bahan dasar pembuatan coklat. Buah dengan nama latin theobroma cacao ini membutuhkan proses fermentasi dan pengeringan untuk dapat dijadikan coklat. ”Setelah buah matang di pohon, harus segera dipetik. kalau tidak nanti akan dijadikan sarang serangga buah. Kami menyebutnya kupu-kupu malam,’’ tambahnya.

Di kebun Ali sendiri, sedikitnya ada 5.000 pohon kakao dengan berbagai ukuran. Mulai kecil, sedang dan besar. Namun dari total pohon tersebut belum semua produktif. Karena  beberapa pohon baru ditanam setahun lalu. Perkebunan kakao umumnya ditanam dengan sistem tumpang sari.

Baca Juga :  Karateka Asal Jombang Nurina Dyatika Terbiasa Kuliah Online

”Jadi di kebun saya ada durian, kakao, cengkih dan pohon kayu. Sehingga potensi hasil panennya lebih besar,’’ jelas dia. Dalam setahun, Ali bisa memanen kakao dua kali. Jika cuaca mendukung, hasil panen bisa maksimal. “Setahun kemarin saya dapat kisaran 5 ton,’’ tambahnya.

Harga jual kakao kering hasil fermentasi juga lumayan tinggi. Saat ini perkilonya Rp 20 ribu. ”Saya jual ke tengkulak asal Pare. Tapi itu sudah difermentasi kering,’’ papar dia. Buah kakao tak hanya dimanfaatkan bijinya. Kulitnya juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak.

”Setelah panen biasanya disortir. Kita manfaatkan kulit dan bijinya. kulit dimanfaatkan untuk pakan ternak. Kulit memang tidak boleh dibuang di kebun karena bisa mengundang serangga buah,’’ jelas dia. Mengatasi hama ini diakuinya cukup sulit. Sebab, menggunakan pestisida saja belum maksimal. ”Serangga ini meninggalkan telur di ujung buah yang baru jadi. Kemudian berkembang di dalam buah,’’ paparnya.

Baca Juga :  KONI Jombang Agendakan Porkab Pertengahan Agustus

Belakangan terakhir, Ali juga belajar mengolah sendiri kakao hasil perkebunannya. Ia menggunakan sejumlah mesin pengolah kakao. Saat dicicipi, rasanya cukup beda dengan coklat yang dijual kemasan. Terutama, rasa manis dan legitnya begitu kental. Beberapa menit rasa kako masih terasa pekat di lidah.

”Saat ini sedang berproses membuat olahan kakao sendiri. Insya Allah kalau jadi, tahun depan kita kerjakan beberapa warga untuk membantu membuat produk olahan kakao,’’ pungkasnya bangga.

- Advertisement -

ADA komoditi unggulan lain di Kecamatan Wonosalam. Pohon kakao. Biji kakao yang menjadi bahan dasar pembuatan coklat ini banyak dikembangkan petani setempat. Termasuk kulitnya bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak.

Seperti yang terlihat di sepanjang perkebunan kakao Desa Sambirejo, Kecamatan Wonosalam. Ribuan pohon kakau menjulang tinggi. Sebagian pohon, ada buah yang siap dipanen. ”Panen kakao dapat dilakukan sepanjang tahun. Tapi umumnya setahun dua kali,’’ ujar Mohammad Ali, salah seorang petani kakao.

Dijelaskan, biji kakao merupakan bahan dasar pembuatan coklat. Buah dengan nama latin theobroma cacao ini membutuhkan proses fermentasi dan pengeringan untuk dapat dijadikan coklat. ”Setelah buah matang di pohon, harus segera dipetik. kalau tidak nanti akan dijadikan sarang serangga buah. Kami menyebutnya kupu-kupu malam,’’ tambahnya.

Di kebun Ali sendiri, sedikitnya ada 5.000 pohon kakao dengan berbagai ukuran. Mulai kecil, sedang dan besar. Namun dari total pohon tersebut belum semua produktif. Karena  beberapa pohon baru ditanam setahun lalu. Perkebunan kakao umumnya ditanam dengan sistem tumpang sari.

Baca Juga :  Kuliah Alternatif, Mahasiswa Unipdu Ikuti Diklat Jurnalistik

”Jadi di kebun saya ada durian, kakao, cengkih dan pohon kayu. Sehingga potensi hasil panennya lebih besar,’’ jelas dia. Dalam setahun, Ali bisa memanen kakao dua kali. Jika cuaca mendukung, hasil panen bisa maksimal. “Setahun kemarin saya dapat kisaran 5 ton,’’ tambahnya.

Harga jual kakao kering hasil fermentasi juga lumayan tinggi. Saat ini perkilonya Rp 20 ribu. ”Saya jual ke tengkulak asal Pare. Tapi itu sudah difermentasi kering,’’ papar dia. Buah kakao tak hanya dimanfaatkan bijinya. Kulitnya juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak.

- Advertisement -

”Setelah panen biasanya disortir. Kita manfaatkan kulit dan bijinya. kulit dimanfaatkan untuk pakan ternak. Kulit memang tidak boleh dibuang di kebun karena bisa mengundang serangga buah,’’ jelas dia. Mengatasi hama ini diakuinya cukup sulit. Sebab, menggunakan pestisida saja belum maksimal. ”Serangga ini meninggalkan telur di ujung buah yang baru jadi. Kemudian berkembang di dalam buah,’’ paparnya.

Baca Juga :  Grand Opening GDC Store di Jl KH Hasyim Sukses dan Meriah

Belakangan terakhir, Ali juga belajar mengolah sendiri kakao hasil perkebunannya. Ia menggunakan sejumlah mesin pengolah kakao. Saat dicicipi, rasanya cukup beda dengan coklat yang dijual kemasan. Terutama, rasa manis dan legitnya begitu kental. Beberapa menit rasa kako masih terasa pekat di lidah.

”Saat ini sedang berproses membuat olahan kakao sendiri. Insya Allah kalau jadi, tahun depan kita kerjakan beberapa warga untuk membantu membuat produk olahan kakao,’’ pungkasnya bangga.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/