alexametrics
31.5 C
Jombang
Wednesday, August 10, 2022

Matnur, Atlet Difabel Peraih Emas Peparprov Jatim

Sempat putus asa karena harus kehilangan tangan kirinya 20 tahun lalu, Matnur, 50, warga Dusun Dukuhsemut, Desa Sukosari, Kecamatan Jogoroto, kini meraih prestasi membanggakan. Ia meraih dua emas dan satu perak pada pekan paralimpik provinsi (peparprov) Jatim 22-23 Mei.

WENNY ROSALINA, Jogoroto

Perabotan kayu terlihat memenuhi seisi rumah. Matnur memiliki usaha mebel yang ia jalankan sendiri ditengah keterbatasannya.

Lahir di Jombang 10 Oktober 1971, Matnur kini memiliki satu cucu.

Usai salat Idul Adha, 18 tahun lalu, Matnur bersama sejumlah tetangga berniat menyalakan petasan besar  di depan rumah. Ia tak tahu, jika petasan tersebut akan membawa petaka.

Karena petasan tak kunjung meledak, Matnur mengambilnya. Dia memegangnya dengan tangan kiri. Tiba-tiba, blarrr. Petasan meledak di tangan kirinya.

Telapak tangannya hancur tak berbentuk. Tangannya kirinya harus diamputasi. Sehingga ia hidup dengan tangan kanan saja.

’’Saat itu, saya bekerja sebagai tukang kayu panggilan untuk membuat  perabotan rumah,’’ jelasnya. Hanya dengan satu tangan, praktis dia tak bisa lagi bekerja.

Enam bulan lamanya ia terpuruk. Untuk makan ia dibantu sanak saudara. ’’Sempat putus asa dan minder,’’ ungkapnya.

Saat itu, anak sulungnya masih STM. Bungsunya masih berusia tiga bulan.

Baca Juga :  Pengelolaan Kacau, BPKP Didesak Audit Keuangan dan AsetPemkab Jombang

”Yang menjadi pikiran saya, hanya  dengan punya satu tangan, bagaimana cara saya menghidupi anak-anak?’’ kenangnya.

Dia bingung harus kerja apa. ’’Siapa yang percaya dengan saya yang hanya punya satu tangan?” kisahnya.

Ia sempat berfikir untuk berjualan pentol hingga jualan sayur. Hanya saja pekerjaan itu sulit dilakukan.  Dia lantas berpikir untuk balik lagi menjadi tukang kayu. Bulan ketujuh setelah kejadian nahas itu, ia mulai bangkit. Ia membuat pintu serta jendela rumahnya. Usahanya pun berlanjut hingga sekarang.

Sejak muda, Matnur senang olahraga. Dia terkenal garang di lapangan voli. Ia bertanding antar kampung dan klub. Salah satu prestasinya, menjadi juara satu di Banjaragung Bareng 2017.

Hingga sekarang ia masih aktif voli. Enam bulan lalu, ia dikenalkan dengan Sodikul Amin, ketua NPC Jombang. Dia ditawari main atletik di Peparprov Jatim. ’’Mumpung ada peluang, saya ambil saja,” jelasnya. Dia ingin meraih prestasi hingga level tertinggi.

Sebelumnya, Matnur tak pernah belajar atletik. Dia baru belajar setelah kenal Sodikul Amin.

’’Belajarnya hanya enam bulan,’’ terangnya.

Kesibukannya di rumah membuat latihannya tak maksimal. Kadang sebulan hanya tiga sampai empat kali.

Baca Juga :  Melihat Batu Jambangan Berenkripsi di Dusun Mojounggul, Bareng

Sebulan sebelum kejuaraan, dia berlatih seminggu sekali di lapangan Catakgayam, Mojowarno mulai pukul 08.00-11.30 WIB.

Hasilnya, Matnur meraih tiga medali dalam Peparprov Jatim di Surabaya. Emas dari nomor lempar lembing dengan jarak lempar 37,15 meter. Emas tolak peluru dengan jarak lempar 7,27 meter. Perak dari nomor lempar cakram, dengan jarak lempar 18,90 meter.

Dia kini bersiap tampil mewakili Jatim diajang peparnas yang dibarengkan PON Papua Oktober nanti.

Matnur mengaku senang dan bangga bisa menjunjung tinggi nama Jombang di Jatim. ’’Mudah-mudahan Bupati Jombang memberikan perhatian kepada saya dan atlet difabel yang lain agar bisa terus latihan dan berkumpul bersama,” harapnya.

Usai kejuaraan, ia mendapatkan uang Rp 600 ribu dari NPC Jombang sebagai bentuk apresiasi. ’’Menang kalah yang berangkat kemarin diberi Pak Amin Rp 600 ribu, Alhamdulillah,” ucapnya bersyukur.

Ia berharap dapat ikut kejuaraan di tingkat nasional seperti peparnas (pekan paralimpik nasional) dan kembali membawa prestasi untuk Jatim dan Jombang. ’’Sekarang latihannya masih libur, mungkin akan lanjut lagi bulan depan,” pungkas ayah dua anak ini.

- Advertisement -

Sempat putus asa karena harus kehilangan tangan kirinya 20 tahun lalu, Matnur, 50, warga Dusun Dukuhsemut, Desa Sukosari, Kecamatan Jogoroto, kini meraih prestasi membanggakan. Ia meraih dua emas dan satu perak pada pekan paralimpik provinsi (peparprov) Jatim 22-23 Mei.

WENNY ROSALINA, Jogoroto

Perabotan kayu terlihat memenuhi seisi rumah. Matnur memiliki usaha mebel yang ia jalankan sendiri ditengah keterbatasannya.

Lahir di Jombang 10 Oktober 1971, Matnur kini memiliki satu cucu.

Usai salat Idul Adha, 18 tahun lalu, Matnur bersama sejumlah tetangga berniat menyalakan petasan besar  di depan rumah. Ia tak tahu, jika petasan tersebut akan membawa petaka.

Karena petasan tak kunjung meledak, Matnur mengambilnya. Dia memegangnya dengan tangan kiri. Tiba-tiba, blarrr. Petasan meledak di tangan kirinya.

- Advertisement -

Telapak tangannya hancur tak berbentuk. Tangannya kirinya harus diamputasi. Sehingga ia hidup dengan tangan kanan saja.

’’Saat itu, saya bekerja sebagai tukang kayu panggilan untuk membuat  perabotan rumah,’’ jelasnya. Hanya dengan satu tangan, praktis dia tak bisa lagi bekerja.

Enam bulan lamanya ia terpuruk. Untuk makan ia dibantu sanak saudara. ’’Sempat putus asa dan minder,’’ ungkapnya.

Saat itu, anak sulungnya masih STM. Bungsunya masih berusia tiga bulan.

Baca Juga :  Oleng, Carry Hantam Pembatas Tol

”Yang menjadi pikiran saya, hanya  dengan punya satu tangan, bagaimana cara saya menghidupi anak-anak?’’ kenangnya.

Dia bingung harus kerja apa. ’’Siapa yang percaya dengan saya yang hanya punya satu tangan?” kisahnya.

Ia sempat berfikir untuk berjualan pentol hingga jualan sayur. Hanya saja pekerjaan itu sulit dilakukan.  Dia lantas berpikir untuk balik lagi menjadi tukang kayu. Bulan ketujuh setelah kejadian nahas itu, ia mulai bangkit. Ia membuat pintu serta jendela rumahnya. Usahanya pun berlanjut hingga sekarang.

Sejak muda, Matnur senang olahraga. Dia terkenal garang di lapangan voli. Ia bertanding antar kampung dan klub. Salah satu prestasinya, menjadi juara satu di Banjaragung Bareng 2017.

Hingga sekarang ia masih aktif voli. Enam bulan lalu, ia dikenalkan dengan Sodikul Amin, ketua NPC Jombang. Dia ditawari main atletik di Peparprov Jatim. ’’Mumpung ada peluang, saya ambil saja,” jelasnya. Dia ingin meraih prestasi hingga level tertinggi.

Sebelumnya, Matnur tak pernah belajar atletik. Dia baru belajar setelah kenal Sodikul Amin.

’’Belajarnya hanya enam bulan,’’ terangnya.

Kesibukannya di rumah membuat latihannya tak maksimal. Kadang sebulan hanya tiga sampai empat kali.

Baca Juga :  SMK Dwija Bhakti 1 Jombang Center of Excellence

Sebulan sebelum kejuaraan, dia berlatih seminggu sekali di lapangan Catakgayam, Mojowarno mulai pukul 08.00-11.30 WIB.

Hasilnya, Matnur meraih tiga medali dalam Peparprov Jatim di Surabaya. Emas dari nomor lempar lembing dengan jarak lempar 37,15 meter. Emas tolak peluru dengan jarak lempar 7,27 meter. Perak dari nomor lempar cakram, dengan jarak lempar 18,90 meter.

Dia kini bersiap tampil mewakili Jatim diajang peparnas yang dibarengkan PON Papua Oktober nanti.

Matnur mengaku senang dan bangga bisa menjunjung tinggi nama Jombang di Jatim. ’’Mudah-mudahan Bupati Jombang memberikan perhatian kepada saya dan atlet difabel yang lain agar bisa terus latihan dan berkumpul bersama,” harapnya.

Usai kejuaraan, ia mendapatkan uang Rp 600 ribu dari NPC Jombang sebagai bentuk apresiasi. ’’Menang kalah yang berangkat kemarin diberi Pak Amin Rp 600 ribu, Alhamdulillah,” ucapnya bersyukur.

Ia berharap dapat ikut kejuaraan di tingkat nasional seperti peparnas (pekan paralimpik nasional) dan kembali membawa prestasi untuk Jatim dan Jombang. ’’Sekarang latihannya masih libur, mungkin akan lanjut lagi bulan depan,” pungkas ayah dua anak ini.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/