alexametrics
22.7 C
Jombang
Saturday, June 25, 2022

Aris Miatus Sholihah: Selaraskan Ilmu Agama dan Umum

SELAIN berhasil mendidik siswa, Mia juga sebisa mungkin berhasil mendidik anak-anaknya sendiri. Terutama dalam menyelaraskan ilmu agama dengan ilmu umum. Dengan didukung penuh sang suami, Abdul Mukhed, kedua anaknya mondok sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Sejauh ini, ia merasa lantunan doa yang ia panjatkan dari dulu mulai terjawab. Kedua anaknya terbilang penurut. Si sulung sudah tahfidz 30 juz dengan kemauannya sendiri. ”Dan mereka selalu jawab nggeh, saya minta untuk hafalan Alquran nggeh, dan Alhamdulillah sekarang sudah hafal, tinggal wisuda saja, selalu tertunda karena pandemi, sekarang kuliah di UM,” katanya.

Setelah dididik mandiri hingga tamat sekolah dasar, Mia ingin semua anaknya menempuh pendidikan di pondok pesantren. Menurutnya, ilmu pengetahuan dan ilmu agama harus berjalan beriringan. ”Karena tantangan hidup ke depan luar biasa, maka perlu diberi pondasi yang kokoh untuk memperkuat spiritual anak,” bebernya.

Baca Juga :  Rini Guru SMPN 1 Peterongan Jombang Sumbang Perak PON Papua

Meski begitu, ia berpendapat bahwa orang tua hanya mengarahkan. Anak-anaklah yang akan menentukan hidupnya sendiri. “Kebetulan anak-anak saya penurut,” jelas dia. Pada masa kehamilan anak kedua, tak henti ia berdoa dan rutin membaca Alquran. Sebelum si bungsu lahir, ayahnya sempat nadzar ingin khataman di makam KH Wahab Hasbullah.

Setelah anaknya lahir, nadzar itu ditunaikan dan tiga tahun setelah kelahiran, baru tuntas. ”Untuk menunaikan nadzar sangat sulit, berat sekali, sampai tiga tahun baru khatam, tidak sekaligus, tapi dicicil per satu juz. Alhamdulillah setelah khatam, perkembangan anak luar biasa, sangat cerdas,” jelasnya.

Selama masa pandemi, ia juga tak memberi batasan terlalu ketat kepada anaknya untuk bermain smartphone. Justru ia mendorong agar lebih mengenal dunia digital, meski harus terus dipantau termasuk channel yang dilihat.

Terbukti, melalui piranti canggih itu anak keduanya yang kini duduk di kelas 5 SD sudah fasih berbahasa Inggris. ”Saya guru bahasa inggris, ayahnya juga, tapi anak kedua justru pandai berbahasa inggris belajar dari Youtube, itulah manfaatnya anak dikenalkan dengan digital,” jelas wanita kelahiran Kediri, 11 Mei 1977 ini.

Baca Juga :  DPRD Jombang Segera Panggil PT Hutama Karya

Begitu juga dengan si sulung, ia tak membatasi geraknya dalam berorganisasi di kampus. Tapi secara otomatis, ia memiliki unit kegiatan mahasiswa untuk memperdalam ilmu hafalannya. ”Saya pantau dari jauh, Alhamdulillah selalu memberi laporan tanpa saya minta,” jelasnya.

Lebih dari itu, ia membagikan tipsnya agar anak-anak yang dididik memiliki hati lembut. Setiap tidur, ia membacakan surat Al Insyirah di dada anak-anaknya. ”Itu rutin saya lakukan sampai sekarang, al insyirah tiga kali,” pungkas Mia.

- Advertisement -

SELAIN berhasil mendidik siswa, Mia juga sebisa mungkin berhasil mendidik anak-anaknya sendiri. Terutama dalam menyelaraskan ilmu agama dengan ilmu umum. Dengan didukung penuh sang suami, Abdul Mukhed, kedua anaknya mondok sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Sejauh ini, ia merasa lantunan doa yang ia panjatkan dari dulu mulai terjawab. Kedua anaknya terbilang penurut. Si sulung sudah tahfidz 30 juz dengan kemauannya sendiri. ”Dan mereka selalu jawab nggeh, saya minta untuk hafalan Alquran nggeh, dan Alhamdulillah sekarang sudah hafal, tinggal wisuda saja, selalu tertunda karena pandemi, sekarang kuliah di UM,” katanya.

Setelah dididik mandiri hingga tamat sekolah dasar, Mia ingin semua anaknya menempuh pendidikan di pondok pesantren. Menurutnya, ilmu pengetahuan dan ilmu agama harus berjalan beriringan. ”Karena tantangan hidup ke depan luar biasa, maka perlu diberi pondasi yang kokoh untuk memperkuat spiritual anak,” bebernya.

Baca Juga :  Hari Ini Pria Cabul di Mojowarno Jombang Jalani Sidang Putusan

Meski begitu, ia berpendapat bahwa orang tua hanya mengarahkan. Anak-anaklah yang akan menentukan hidupnya sendiri. “Kebetulan anak-anak saya penurut,” jelas dia. Pada masa kehamilan anak kedua, tak henti ia berdoa dan rutin membaca Alquran. Sebelum si bungsu lahir, ayahnya sempat nadzar ingin khataman di makam KH Wahab Hasbullah.

Setelah anaknya lahir, nadzar itu ditunaikan dan tiga tahun setelah kelahiran, baru tuntas. ”Untuk menunaikan nadzar sangat sulit, berat sekali, sampai tiga tahun baru khatam, tidak sekaligus, tapi dicicil per satu juz. Alhamdulillah setelah khatam, perkembangan anak luar biasa, sangat cerdas,” jelasnya.

Selama masa pandemi, ia juga tak memberi batasan terlalu ketat kepada anaknya untuk bermain smartphone. Justru ia mendorong agar lebih mengenal dunia digital, meski harus terus dipantau termasuk channel yang dilihat.

- Advertisement -

Terbukti, melalui piranti canggih itu anak keduanya yang kini duduk di kelas 5 SD sudah fasih berbahasa Inggris. ”Saya guru bahasa inggris, ayahnya juga, tapi anak kedua justru pandai berbahasa inggris belajar dari Youtube, itulah manfaatnya anak dikenalkan dengan digital,” jelas wanita kelahiran Kediri, 11 Mei 1977 ini.

Baca Juga :  Rini Guru SMPN 1 Peterongan Jombang Sumbang Perak PON Papua

Begitu juga dengan si sulung, ia tak membatasi geraknya dalam berorganisasi di kampus. Tapi secara otomatis, ia memiliki unit kegiatan mahasiswa untuk memperdalam ilmu hafalannya. ”Saya pantau dari jauh, Alhamdulillah selalu memberi laporan tanpa saya minta,” jelasnya.

Lebih dari itu, ia membagikan tipsnya agar anak-anak yang dididik memiliki hati lembut. Setiap tidur, ia membacakan surat Al Insyirah di dada anak-anaknya. ”Itu rutin saya lakukan sampai sekarang, al insyirah tiga kali,” pungkas Mia.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/