Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal diPolres Jombang: 3 Golongan Manusia Pasca Ramadan

Rojiful Mamduh • Rabu, 25 Maret 2026 | 06:03 WIB

 

 

Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

Saat khotbah Idul Fitri di Masjid Agung Jannatul Fuadah Polres Jombang, Sabtu (21/3), Pengasuh Pondok Pesantren, MQ Fizia, Cukir, Diwek, H Samsul Anam Alhafid, menjelaskan tiga golongan manusia pasca Ramadan. ’’Pertama, golongan yang beruntung, yang puasanya diterima oleh Allah Ta’ala,’’ tuturnya.

 

Kriterianya, saat Ramadan giat ibadah, pasca Ramadan semakin giat. ’’Inilah tanda diterimanya puasa,’’ terangnya. Yakni setelah melakukan kebaikan, dia terus semakin baik dan semakin baik.

 

Orang yang benar-benar meraih keberkahan Ramadan akan menjadikan bulan itu sebagai titik awal perubahan. Ia tidak kembali kepada kebiasaan lama, bahkan semakin meningkat dalam ketaatan.

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: Balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya.

Artinya, jika seseorang dimudahkan untuk terus beramal setelah Ramadan, itu pertanda amalnya diterima.

 

Dikisahkan seorang salaf, setelah Ramadan tetap menjaga qiyamul lail. Ketika ditanya, ia berkata: ’’Jika aku hanya beribadah di Ramadan saja, lalu siapa Tuhanku di bulan lainnya?’’

 

Golongan kedua orang yang lalai dan rugi. Sebelum Ramadan tidak giat, saat Ramadan giat, setelahnya kembali lalai

 

Golongan ini hanya ’’musiman”. Ketika suasana mendukung, ia beribadah. Namun ketika Ramadan berlalu, ia kembali pada kelalaian.

 

Allah Ta’ala berfirman di Surat An-Nahl 92. Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai-berai kembali.Ini gambaran orang yang merusak amalnya sendiri setelah susah payah membangunnya.

 

Ada orang yang rajin ke masjid di Ramadan. Setelah itu ia menghilang. Seorang alim berkata:

’’Seandainya ia benar mengenal Allah di Ramadan, ia tidak akan meninggalkan-Nya setelah Ramadan.”

 

Ketiga, sebelum Ramadan malas, saat Ramadan tetap malas, setelahnya tetap malas. Inilah orang yang celaka.

 Ramadan datang tidak memberi bekas apa-apa dalam hidupnya.

 

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam didatangi malaikat Jibril alaihissalam kemudian berkata: Celaka bagi seseorang yang mendapati Ramadan namun tidak diampuni dosanya. Nabi pun mengucapkan amin!

Ini menunjukkan betapa besarnya peluang ampunan di Ramadan. Jika sampai tidak mendapatkan ampunan, maka itu benar-benar kerugian besar.

 

Malaikat berkata lagi, celakalah orang yang punya orang tua namun tidak berbakti. Nabi pun mengucapkan amin.

Malaikat juga mendoakan celaka bagi agar orang yang disebut nama Nabi namun tak mau bersalawat. Nabi pun mengucapkan amin.

 

Seorang tabi’in menangis ketika Ramadan berlalu. Ia berkata: Yang aku takutkan bukan Ramadan pergi, tapi aku tidak berubah setelahnya.

 

Pada hari Idul Fitri iblis menangis. Ia bersedih karena Allah telah mengampuni banyak dosa umat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.

 

Namun iblis tidak menyerah. Ia bertekad untuk kembali menyesatkan manusia dengan: Syahwat, kesenangan dunia, minuman haram (khamr) serta permusuhan dan ego.

Inilah sebabnya sering terjadi: Suami istri bertengkar saat Idul Fitri. Orang tua dan anak saling mendendam. Tetangga tidak saling memaafkan. Padahal Idul Fitri adalah momentum kembali kepada fitrah.

 

Rasulullah bersabda: Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. (jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#Jombang #polres jombang #Binrohtal