Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Jannatul Fuadah Polres Jombang, Selasa (17/3), Pengasuh PP Shofwanul Hikmah, KH Roihan Sugondo, menjelaskan keutamaan bekerja saat puasa. ’’Bekerja saat puasa lelahnya luar biasa. Tetapi pahalanya juga berlipat ganda,’’ tuturnya.
Allah Ta’ala berfirman di Quran Surat Az-Zumar 10. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang pahalanya tanpa batas.
Bekerja dalam keadaan berpuasa bentuk kesabaran yang nyata. Menahan lapar saja sudah ibadah, apalagi ditambah dengan menjalankan amanah pekerjaan.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipatgandakan.
Sahabat Abdullah bin Umar radiyallahu anhu tetap berdagang di pasar saat berpuasa. Ketika ditanya mengapa tidak beristirahat, beliau menjawab bahwa bekerja sambil berpuasa membuatnya lebih merasa bergantung kepada Allah dan menjaga dirinya dari hal sia-sia.
Puasa adalah ibadah yang sangat rahasia. Tidak ada yang tahu apakah seseorang benar-benar berpuasa selain Allah Ta’ala. Dalam hadis qudsi, Allah berfirman: Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.
Bekerja saat puasa melatih seseorang untuk tetap jujur, profesional, dan amanah meskipun kondisi fisik tidak prima.
Imam Ghazali menjelaskan bahwa puasa yang sempurna adalah yang mampu menjaga seluruh anggota tubuh dari maksiat, termasuk dalam aktivitas sehari-hari seperti bekerja.
Seorang tabi’in, Hasan al-Basri, dikenal tetap bekerja keras di siang hari Ramadan. Beliau berkata, ’’Puasa bukan alasan untuk bermalas-malasan, tetapi untuk membersihkan niat dalam setiap amal.’’
Islam sangat menekankan pentingnya amanah dalam pekerjaan. Allah Ta’ala berfirman di QS An-Nisa 58. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.
Bekerja dengan sungguh-sungguh saat berpuasa berarti menjaga amanah yang telah diberikan, baik oleh atasan maupun masyarakat.
Umar bin Khattab pernah berkata; Aku tidak suka melihat seseorang menganggur, tidak dalam urusan dunia dan tidak pula dalam urusan akhirat.
Dikisahkan seorang pekerja pada masa khalifah Umar tetap bekerja di bawah terik matahari saat puasa. Ketika ditawari untuk pulang lebih awal, ia berkata, ’’Jika aku kurangi amanahku, bagaimana aku mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah?’’
Puasa dan kerja menghapus dosa. Rasulullah bersabda: Barang siapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Jika puasa saja sudah menghapus dosa, maka puasa yang diiringi dengan kesungguhan bekerja akan semakin menambah nilai ibadah.
Imam Nawawi menjelaskan, amal yang disertai kesulitan (masyaqqah) sering kali memiliki pahala yang lebih besar selama dilakukan dengan ikhlas.
Syekh Abdul Qadir al-Jilani, dikenal tetap berdakwah dan mengajar dalam kondisi puasa. Murid-muridnya heran melihat kekuatannya. Beliau menjawab, ’’Kelelahan ini adalah jalan menuju ampunan Allah.’’
Rasa lelah yang dirasakan saat bekerja sambil berpuasa tidak akan sia-sia. Rasulullah bersabda; Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus oleh salat dan puasa, tetapi bisa dihapus oleh kesusahan (keletihan) dalam mencari nafkah.
Setiap tetes keringat yang keluar karena bekerja dalam keadaan taat akan menjadi saksi kebaikan di akhirat. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto