Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

KH Moh Mahrus Ungkap Nikmat Terbesar Puasa Diterima, Ini Tandanya

Rojiful Mamduh • Rabu, 18 Maret 2026 | 04:20 WIB

 

Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

 

 

SAAT ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Senin (16/3), Rois Syuriyah MWCNU Kecamatan Ngoro, KH Moh Mahrus, menjelaskan pentingnya berusaha agar puasa diterima. ’’Nikmat terbesar yakni puasa diterima oleh Allah Ta’ala,’’ tuturnya.

 

Ketika Idul Fitri tiba, para malaikat menyeru dengan penuh kebahagiaan: ’’Berbahagialah orang yang puasanya diterima (hani’an laka).’’

 Inilah nikmat terbesar bagi seorang mukmin—bukan sekadar menyelesaikan Ramadan, tetapi diterimanya amal puasa di sisi Allah Ta’ala.

 

Sebaliknya, musibah terbesar bukanlah kehilangan harta atau jabatan, melainkan ketika puasa tidak diterima. Namun kita tetap berharap, semoga Allah menutup kekurangan kita dan menjauhkan kita dari keburukan.

 

Allah Ta’ala berfirman di QS Al-Ma’idah 27. Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.

 

 Ali bin Abi Thalib radiyallahu anhu pernah bertanya kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam; Siapakah orang yang puasanya diterima?

 

Nabi menjawab: Seandainya aku mengetahui siapa yang puasanya diterima, niscaya aku akan datang memberi selamat kepadanya. Dan seandainya aku mengetahui siapa yang tidak diterima, niscaya aku akan datang bertakziah kepadanya.

Kita tidak pernah tahu apakah amal kita diterima, sehingga kita harus selalu berharap dan khawatir.

 

Hasan al-Bashri berkata: Seorang mukmin mengumpulkan antara kebaikan dan rasa takut, sedangkan orang munafik mengumpulkan keburukan dan rasa aman.

Seorang tabi’in menangis di hari Idul Fitri. Ketika ditanya, ia berkata, ’’Aku khawatir, apakah aku termasuk yang kembali (fitri) atau justru termasuk yang tertolak?” Tangisan itu bukan karena sedih, tetapi karena takut amalnya tidak diterima.

 Baca Juga: Akhlak Sosial dan Kepedulian Sesama

’’Agar puasa kita diterima, di hari-hari terakhir Ramadan perhatikan empat hal,’’ terangnya.

 

Pertama, menghidupkan malam dengan meningkatkan ibadah. Nabi bersabda; Barang siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan berharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Orang yang salat Isya berjamaah, tarawih, dan Subuh berjamaah sudah termasuk mendapat Lailatul Qadar.

 

Kedua, membangunkan keluarga untuk ibadah. Nabi tidak hanya beribadah sendiri, tetapi juga membangunkan keluarganya.

Allah Ta’ala berfirman di Surat Thaha 132. Perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.

 

Ketiga, mengencangkan ikat pinggang. Meningkatkan kesungguhan dalam ibadah dan menjauhi hal-hal yang melalaikan. Nabi mengencangkan sarungnya dan menghidupkan malamnya di sepuluh terakhir.

 Baca Juga: Memaafkan: Cara Sunyi Membebaskan Diri  

Keempat, memperbanyak doa: Allahumma taqabbal siyamana wa qiyamana, wa ruku’ana, wa sujudana. Ya Allah, terimalah puasa, salat, rukuk, dan sujud kami.

 

Allah berfirman di Surat Al-Mu’minun 60. Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan dengan hati yang takut.

Aisyah bertanya, siapa mereka? Nabi menjawab: Mereka adalah orang yang berpuasa, salat, dan bersedekah, tetapi takut tidak diterima.”

 

Para sahabat berdoa selama 6 bulan setelah Ramadan: Ya Allah terimalah amal kami. Dan 6 bulan berikutnya mereka berdoa agar dipertemukan kembali dengan Ramadan.

(jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#Ramadan #Jombang #Kota Santri #Puasa