Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal di Polres Jombang, Delapan Hikmah Puasa

Rojiful Mamduh • Senin, 23 Februari 2026 | 08:40 WIB

 

 

Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

 

Saat ngaji usai salat tarawih di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Jumat (20/2), Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Jombang, KH Agung Bahroni menjelaskan hikmah puasa. ’’Dalam Risalah Fis Shiyam, Habib Abdullah bin Husein al-Masyhur menjelaskan puasa memiliki delapan hikmah,’’ tuturnya.

 

Pertama, puasa melahirkan ketakwaan dan rasa malu kepada Allah Ta’ala. Puasa mendidik kita merasa diawasi Allah Ta’ala dalam keadaan tersembunyi sekalipun. Kita bisa saja makan diam-diam, tetapi tidak melakukannya karena yakin Allah Ta’ala melihatnya.

 

Dalam hadis qudsi, Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda: Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.

Puasa istimewa karena ibadah rahasia antara hamba dan Rabb-nya.

 

Kedua, mengenal nikmat Allah Ta’ala dengan sebenar-benarnya. Orang yang kenyang sulit memahami arti seteguk air. Tetapi ketika ia haus, ia sadar bahwa air adalah karunia luar biasa.

Allah Ta’ala berfirman di QS An-Nahl 18. Jika kalian menghitung nikmat Allah Ta’ala, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.

Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu berkata: Nikmat yang tidak disyukuri akan pergi, dan nikmat yang disyukuri akan kekal.

 

Puasa menghidupkan rasa syukur. Ketika berbuka dengan kurma dan air, seorang mukmin merasakan kebahagiaan yang mungkin tak ia rasakan saat makan mewah di luar Ramadan.

 

Ketiga, melahirkan empati dan kasih sayang. Saat perut kosong, hati menjadi lembut. Orang kaya yang berpuasa merasakan sedikit dari apa yang dirasakan fakir miskin setiap hari.

 

Rasulullah manusia paling dermawan, dan kedermawanannya lebih terasa di bulan Ramadan.

Hasan al-Basri rahimahullah sering menangis ketika berbuka dan berkata: ’’Betapa banyak orang yang hari ini tidak memiliki apa yang kita miliki.’’

Puasa menumbuhkan empati sosial, menggerakkan tangan untuk memberi, dan hati untuk peduli.

 

Keempat, kejernihan pikiran dan kekuatan rohani. Banyak ulama dan ahli hikmah mengurangi makan ketika ingin fokus beribadah atau menulis.

Imam al-Ghazali rahimahullah menjelaskan, kenyang berlebihan mengeraskan hati dan menumpulkan kecerdasan.

Puasa menajamkan hati dan pikiran. Karena itu, banyak karya besar lahir dari jiwa-jiwa yang terbiasa menahan diri.

 

Kelima, puasa menyehatkan pencernaan. Rasulullah bersabda; Berpuasalah niscaya kalian sehat.

Secara medis modern, puasa terbukti membantu metabolisme dan memberi waktu istirahat bagi sistem pencernaan. Para dokter menyatakan, pola makan terkontrol membantu mengurangi risiko berbagai penyakit metabolik.

 

Keenam, mengendalikan syahwat. Rasulullah bersabda: Wahai para pemuda, barang siapa mampu menikah maka menikahlah. Barang siapa belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu perisai baginya.

 

Puasa melemahkan dorongan biologis dan melatih kontrol diri. Inilah yang membedakan manusia dari hewan: Kemampuan menahan dan mengarahkan syahwat sesuai tuntunan Ilahi.

Orang yang mampu menahan lapar, ia akan mampu menahan amarah dan syahwatnya.

 

Ketujuh, puasa sebagai obat penyakit. Selain penyakit jasmani, puasa juga obat bagi penyakit hati: Riya, sombong, dan cinta dunia.

Kedelapan, roh puasa, jangan hanya menahan lapar. Rasulullah bersabda: Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.

Rasulullah bersabda; Ada lima hal yang menghapus pahala puasa. Dusta atau bohong. Gibah atau menggunjing. Namimah atau adu domba. Sumpah palsu dan memandang dengan syahwat. (jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#Jombang #polres jombang #Puasa