Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

KH Mustain Syafii: Quraish (1)

Rojiful Mamduh • Sabtu, 14 Februari 2026 | 08:24 WIB

 

KH Mustain Syafiie dengan rubrik Tafsir kontemporer yang diasuhnya
KH Mustain Syafiie dengan rubrik Tafsir kontemporer yang diasuhnya

Sebelumnya telah ditutur munasabah, relevansi surah al-Fil dengan surah berikutnya, yakni surah Quraish. Di situ ulama’ melihat isyarah bahwa dalam syariah harus mendahulukan pemberantasan keburukan setuntas-tuntasnya lebih dahulu, baru membangun kemaslahatan. Dan tesis ini mutlak ada di kalangan mereka.

 

Perkoro seberapa besaran pemberantasan kemungkaran tersebut, itu disesuaikan kemampuan masing-masing. Jika bisa dengan fisik, ya pakai fisik dan ini urusannya sing kuoso, sing duwe negoro, polisi dan sebangsanya.

 

 Makanya, lulusan pesantren itu jangan semuanya jadi kiai, penting juga ada yang jadi penguasa. Penguasa yang santri, yang tangguh dan berprinsip.

Perjudian, narkoba, pelacuran, adu ayam ramai di satu daerah. Kiai dan penceramah, sampe ndomble diplenthosi thok sama nandar dan mucikari, malah ditawari sueger-segeran.  Tapi kalau polisi yang turun dengan keimanan tegas, membawa senapan, dor..dor..dor, maka buyar semua dan bersih seketika.

 

Meski demikian, tidak berarti pembuyaran kemaksiatan itu dengan fisik. Ada juga dengan magic, dengan wirid asal tenanan dan sakti. Di zaman PKI berkuasa dulu, di daerah penulis ada ludruk yang pentas setiap malam. Lokasinya dekat pesantren dan tentu mengganggu. Kiainya sakti dan ludruknya diwirid. Panggung dan keber-keber sering dan tiba-tiba terbakar tanpa diketahui penyebabnya. Akhirnya buyar.

 

Di sebuah negara bagian di Amerika ada lima belas titik pusat penjualan narkoba. Gembong serta bodyguard berkuasa di sana.  Aparat keamanan setempat tak berani datang menghalau dan cenderung ramah-ramah saja.

Ada masjid kecil dalam perkampungan sederhana. Imamnya bernama Syekh Siraj Wahhaj. Seorang muslim yang berprinsip dan berkeimanan tangguh. Faham kalau masyarakat resah, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Syekh itu mengumpulkan muslim seadanya dan didoktrim: ”Jangan biarkan tempat kita ini dikuasai setan. Ayo kita bareng-bareng memohon perlindungan kepada Tuhan Allah SWT."

 

Masyarakat diajak istighotsah di gang-gang dan membaca wirid tertentu serta berdoa sebisa-sebisanya.  Terus menerus dan istiqamah. Akhirnya, pembeli barang haram yang umumnya datang dari luar daerah itu berkurang sedikit demi sedikit, sehingga mempengaruhi omzet.

 Akhirnya tidak ada yang datang.

Bandarnya kecewa, tapi tak bisa marah. Lalu bertanya kepada beberapa pelanggan: Mengapa..?

Jawab mereka: "Lho kami sudah datang ke tempat biasa dan ingin melakukan transaksi seperti biasa. Tapi.. kami melihat ada sosok tinggi besar berdiri di sudut dan di lorong-lorong. Dia melototi kami dan itu serem serta sangat menakutkan. Lalu.. kami pilih beli ke tempat lain yang lebih aman."

 

Itulah makhluk langit yang hadir membantu muslim yang serius memperjuangan agama, yang seirus memberantas kemaksiatan, tapi tak punya kemampuan fisik. Lalu.. negeri ini.. banyak kiai, banyak akademisi, banyak organisasi Islam, banyak ahli hukum Islam .. tapi kok..?

 

Sekali lagi, maraknya kemungkaran, amoral, korupsi di negeri ini bukan karena mereka kuat, tetapi lebih karena orang salehnya yang diam."

Editor : Anggi Fridianto
#Jombang #KH Mustain Syafii #Tafsir Quran