Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Rahasia Besar Bulan Syakban: Jembatan Spiritual Menuju Ramadan

Rojiful Mamduh • Minggu, 8 Februari 2026 | 08:50 WIB
Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

RadarJombang.id - Ustad Hasanudin, menjelaskan pentingnya menjadikan Syakban sebagai jembatan spiritual menuju Ramadan.

Hal itu diungkapkannya saat khotbah di Masjid Annur Satlantas Polres Jombang, Jumat (6/1).

’’Di bulan Syakban ini seorang mukmin diajak untuk menata kembali niat, memperkuat amal, serta membersihkan hati sebelum memasuki bulan suci Ramadan yang penuh keberkahan,’’ tuturnya.

Syekh Abdul Qadir al-Jilani menjelaskan dalam kitab Al-Ghunyah, kata Syakban tersusun dari lima huruf yang masing-masing mengandung makna spiritual.

Huruf syin melambangkan syaraf (kemuliaan). Huruf ‘ain menunjuk pada ‘uluw (ketinggian derajat).

Huruf ba’ berasal dari birr (kebaikan). Huruf alif dari ulfah (kasih sayang). Serta huruf nun dari nur (cahaya).

Ini menunjukkan, Syakban bulan kemuliaan. Peningkatan derajat, penguatan amal kebaikan, dan penumbuhan kasih sayang. Serta penyinaran hati dengan cahaya ilahi.

Pada bulan ini Allah Ta’ala membuka pintu-pintu kebaikan. Melimpahkan keberkahan, menghapus kesalahan, dan menutup berbagai keburukan.

’’Di bulan Syakban kita harus melakukan evaluasi dan persiapan menyambut Ramadan,’’ tegasnya.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam banyak berpuasa di bulan Syakban.

Ketika ditanya alasannya, Nabi menjawab; Syakban itu bulan yang sering dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadan. Padahal ia adalah bulan diangkatnya amal kepada Allah, dan aku senang ketika amalku diangkat dalam keadaan berpuasa.

Ali bin Abi Thalib radiyallahu anhu berpesan agar kaum muslimin mempersiapkan diri sebelum Ramadan, baik secara fisik maupun spiritual.

Sementara itu, Abu Bakar Al-Balkhi, seorang ulama tabi‘in, mengatakan: Rajab bulan menanam, Syakban bulan menyiram, dan Ramadan bulan memanen.

Syakban fase pemantapan amal sebelum memasuki puncak ibadah di bulan Ramadan.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan, Syakban berfungsi sebagai latihan agar seorang mukmin tidak merasa berat ketika memasuki Ramadan.

Ia menekankan pentingnya membiasakan diri dengan puasa, membaca Alquran, dan memperbanyak istighfar.

Dalam tradisi para wali Allah, Syakban dipandang sebagai bulan pembersihan hati.

Syekh Abdul Qadir al-Jilani menasihati murid-muridnya agar menjadikan Syakban sebagai waktu memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.

Karena hati yang bersih adalah kunci keberhasilan ibadah Ramadan.

Dikisahkan, sebagian salafus shalih menghabiskan enam bulan sebelum Ramadan untuk memohon agar dipertemukan dengan Ramadan.

Serta enam bulan setelahnya untuk memohon agar amal Ramadan diterima.

Di antara mereka, ada yang ketika memasuki Syakban sudah mulai mengurangi aktivitas duniawi.

Memperbanyak baca Alquran. Serta menyambung silaturahmi dan saling memaafkan.

Ini mengajarkan, keberhasilan Ramadan tidak ditentukan saat Ramadan itu sendiri, melainkan oleh kesiapan hati sejak Syakban. (jif/naz)

 

Editor : Achmad RW