SAAT ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Kamis (5/1), Rois Syuriyah MWCNU Ploso sekaligus Ketua MUI Ploso, KH Ainul Yakin, menyampaikan pentingnya memperbanyak amal ibadah di bulan Syakban ini. ’’Syakban ini ibarat latihan pra operasi sebelum memasuki operasi besar bernama Ramadan,’’ tuturnya.
Ramadan ibarat operasi rohani yang menuntut kesiapan fisik, mental, dan spiritual.
Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Bulan Syakban sering dilalaikan manusia, yaitu bulan di antara Rajab dan Ramadan.
Imam Ibn Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata: Bulan Syakban laksana ladang bagi Ramadan. Siapa yang menanam di Syakban, ia akan memanen di Ramadan.
Pelayanan masyarakat dan tugas negara sering kali membuat kita lalai mempersiapkan iman. Maka Syakban hadir sebagai alarm rohani, agar kita tidak kaget ketika Ramadan datang.
Allah Ta’ala di QS Al-Hasyr 18. Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.
Ayat ini mengajarkan perlunya evaluasi dan persiapan.
Ada tiga amalan utama di Syakban. Pertama, melatih kedisiplinan ibadah, pemanasan rohan.
Jika seseorang baru memulai membaca Alquran, salat malam, dan puasa sunah tepat pada 1 Ramadan, maka fisik dan jiwanya akan terasa berat. Oleh karena itu, Rasulullah memperbanyak puasa di bulan Syakban.
Aisyah radiyallahu ‘anha berkata: Aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunah selain di bulan Sya’ban.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib radiyallahu anhu berkata: Siapa yang membiasakan diri dalam ketaatan sebelum Ramadan, maka Ramadan akan terasa ringan baginya.
Maka mulailah dari sekarang: Mencicil bacaan Alquran, menjaga salat berjamaah, memperbanyak zikir, dan puasa sunah bagi yang mampu. Agar saat Ramadan tiba, mesin iman kita sudah panas dan siap tempur.
Kedua, bulan laporan amal, ajang evaluasi diri. Rasulullah menjelaskan, amal-amal diangkat kepada Allah di bulan Syakban. Ini mengajarkan kita pentingnya evaluasi.
Umar bin Khattab berkata: Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum ia ditimbang.
Syakban waktu yang tepat untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah shalat kita sudah tepat waktu. Apakah tugas kita dijalankan dengan amanah. Apakah pelayanan kita kepada masyarakat sudah ikhlas. Karena husnul khatimah sering kali ditentukan oleh bagaimana seseorang menutup amalnya.
Ketiga, membersihkan hati dan urusan sesama. Ramadan bulan suci. Maka wadahnya—yaitu hati—harus bersih.
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah berkata: Tidak akan masuk cahaya Allah ke dalam hati yang dipenuhi dengki dan kesombongan.
Jika ada ganjalan dengan rekan sejawat, kesalahpahaman dalam tugas, atau pelayanan yang kurang berkenan kepada masyarakat, inilah saatnya membersihkan diri. Memaafkan bukan tanda lemah, tetapi tanda kuatnya iman. (jif/naz)
Editor : Anggi Fridianto