Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

KH MustainSyafii: Rahasia Rezeki Lancar

Rojiful Mamduh • Sabtu, 13 Desember 2025 | 14:39 WIB

 

Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.
Rubrik Tafsir Kontemporer yang diasuh KH Mustain Syafii.

Wa man ya’mal mitsqal dzarrah syarra yarah. Menyambung terma mendahulukan amal baik dengan balasan surga dan pengakhiran perbuatan buruk yang mesti berakibat siksa neraka. Selain paparan di atas adalah begitulah keengganan Tuhan. Sesungguhnya Dia sama sekali tidak menghendaki hamba-Nya masuk neraka.

Seperti yang kita saksikan di dunia ini, di mana hotel-hotel mewah dibangun di tempat terbuka dan pintu mesti dibuka dua puluh empat jam penuh, lengkap dengan penjaga dan resepsionis yang siap menerima tamu kapan saja. Tidak sama dengan penjara, ada di tempat tertutup dan pintu selalu dikunci. Dan terpaksa dibuka ketika bajingan sudah ada di depan pintu. ’’Dzarrah’’, dalam transliterasi modern dipakai untuk istilah benda super mungil, jasad renik, seperti kuman, bahkan dipakai untuk membahasakan ’’atom’’ yang tentu tak kasat mata. Harus pakai alat pembesar khusus, microskop. Tapi Tuhan tidak butuh itu semua. Lebih kecil dari itu pasti mengetahui.

Terhadap keimanan, Alquran acapkali mengangkat petani sebagai percontohan.

Petani itu menanam biji segar, dimasukkan ke dalam tanah, lalu diuruki. Sikap begitu itu, dianggop ’’goblok’’, yo ’’goblok’’. Lha wong kacang seger, digoreng kan enak, dinikmati sebagai camilian. Lha kok dipendem di dalam tanah.

Pak tani menjawab: ’’Yo kamu yang goblok, tidak bisa berpikir ke depan’’. Ya, memang kacang itu ditandur di dalam tanah. Tapi dengan harapan posistif, dengan keimanan mantap, bahwa sekian bulan ke depan bakal tumbuh kacang-kacang banyak dan dipanen. Itulah keberuntungan. Wong gak iman hari akhir, gak percoyo suwargo neroko itu lebih bodoh ketimbang anak kecil. Anak TK, anak SD rajin bangun pagi, rajin pergi ke sekolah dan serius

belajar. Karena mereka beriman, yakin, bahwa ke depan bakal menjadi orang berilmu dan berguna.

Sama dengan keimanan kita kepada hari akhir nanti, di mana semua amal perbuatan akan mendapatkan balasan. Balasan versi akhirat yang pasti jauh lebih ’’wah’’ dan tak terkira. Hal mana tidak bisa dibuktikan saat di dunia. Ya, karena dunia hanya tempat menanam, sedangkan akhirat tempat memanen.

Tidak bisa, pahala salat lima waktu ditagih sekarang. Tidak bisa, pahala berpuasa dibayar sekarang. Bahkan yang rajin beribadah dengan yang tak beribadah, tampilannya tak beda. Apalagi rezekinya..?

Sungguh tak ada korelasi positif, tak ada jaminan bahwa yang bertakwa mesti lebih kaya ketimbang yang tidak. Lihat, daftar orang terkaya di dunia, didominasi oleh mereka yang tidak beriman. Ya, tapi yang bertakwa dijamin ’’makhraja’’, berkecukupan dan kemudahan.

 

Untuk itu, hidup harus cerdas dan berpikir imani. Jangan sampai nyonyor dunia-akhirat. Di dunia hidup miskin, di akhirat nambah melarat. Kasihan wong melarat dan gak mau beribadah. Sadarlah, bahwa hidup miskin itu bukanlah takdir. Melainkan keputusan yang dipilih sendiri. Jika anda muslim dan beriman sungguhan tidak akan jatuh melarat. Itu jaminan Tuhan. Gusti Allah gak tego memelaratkan hamba-Nya yang bertakwa. Wong melarat itu pasti malas usaha lahiriah. Wong melarat itu malas usaha batiniyah.

Pasti malas salat wajib berjamaah. Pasti tidak aktif salat tahajjud. Pasti tidak aktif salat Duha. Pasti tidak istiqamah baca surat al-Waqi’ah. Allah a’lam.

 

 

Editor : Anggi Fridianto
#Jombang #KH Mustain Syafii