Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Binrohtal 2.529, Wali Asli dan Palsu  

Anggi Fridianto • Jumat, 7 November 2025 | 13:13 WIB

 

 

Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

SAAT ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Selasa (4/11), Pengasuh PP Al Muhsinin, Tugu, Kepatihan, Habib Muhammad bin Salim Assegaf, menjelaskan agar tidak gampang tertipu dengan orang yang mengaku wali. ’’Wali yang asli tidak akan meninggalkan syariat dan adab,’’ tuturnya.

 

Allah Ta’ala berfirman dalam hadis qudsi; Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka sungguh Aku telah mengumumkan perang kepadanya.

 Dulu ada orang yang dianggap wali. Lalu orang-orang berbondong mendatangi. Orang yang dianggap wali itu kemudian meludah ke arah kiblat. ’’Orang-orang lalu meninggalkannya, karena seorang wali tidak mungkin meninggalkan adab,’’ jelasnya.

Meludah, kencing dan buang air besar menghadap ke arah kiblat hukumnya makruh.

 

Allah Ta’ala menjelaskan ciri-ciri wali di Quran Surat Yunus 62-63. Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.

Ciri wali yang sejati yakni iman dan takwa, bukan kemampuan menakjubkan. Seorang wali senantiasa menjalankan syariat Islam: Salat, puasa, zakat, dan menjauhi dosa. Mereka tunduk sepenuhnya kepada Alquran dan sunah.

 

Sebaliknya, jika seseorang melanggar syariat tetapi mengaku wali, maka itu tanda kebohongan.

Imam Junaid al-Baghdadi pernah berkata: Setiap jalan yang tidak dilalui dengan Alquran dan sunah adalah jalan kesesatan, meskipun disertai ribuan karomah.

 

’’Mengetahui hal gaib, kemampuan menyembuhkan penyakit, atau melakukan hal luar biasa, bisa karomah atau istidraj,’’ terangnya.

 

Karomah yakni kelebihan yang diberikan Allah Ta’ala kepada orang saleh yang taat kepada Allah.

 

Istidraj kelebihan yang diberikan kepada orang yang maksiat. Diberi kelebihan sebagai ujian dan jebakan agar semakin jauh dari Allah.

 

Allah berfirman di QS Al A’raf 182. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami beri mereka nikmat sedikit demi sedikit (dengan cara istidraj), tanpa mereka sadari.

 

Kita tidak boleh tertipu oleh orang yang bisa menebak masa depan.

Umar bin Khattab radiyallahu ‘anhu berkata: Timbanglah manusia dengan amalnya, bukan dengan ucapannya atau keanehannya.

 

KH Hasyim Asy’ari mengingatkan: Wali Allah orang yang hatinya selalu terikat dengan Allah, tunduk kepada perintah-Nya, serta menjauhi larangan-Nya. Barang siapa meninggalkan syariat, maka ia bukan wali, melainkan orang tertipu.

 

Imam al-Ghazali menyatakan; Tanda wali bukanlah karomah, tetapi istiqamah.

 

Alkisah, seorang sufi terlihat berjalan di atas air. Orang-orang pun berteriak kagum, ’’Dia wali Allah!”

Namun sang sufi berkata: ’’Ikan pun bisa berenang di air, itu bukan tanda kewalian. Tanda wali adalah yang taat kepada Allah meskipun tidak dilihat manusia.’’

(jif/naz)

 

Editor : Anggi Fridianto
#polres jombang #Binrohtal