Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Bukan Sekadar Momentum Lebaran! Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Quran Jombang Ini Ungkap Tiga Makna Idul Fitri

Rojiful Mamduh • Minggu, 13 April 2025 | 13:04 WIB
Binrohtal di Masjid Polres Jombang
Binrohtal di Masjid Polres Jombang

Radarjombang.id - Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Selasa (8/4), Pengasuh PP Hidayatul Quran, Sentul, Tembelang, Ustad Yusuf Hidayat Alhafiz, menjelaskan makna Idul Fitri.

’’Ada tiga makna Idul Fitri,’’ tuturnya.

Pertama, fitri yang berarti suci alias kondisi manusia yang tanpa dosa sebagaimana saat ia dilahirkan.

Rasulullah Muhammad Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Barangsiapa berpuasa Ramadan dan melaksanakan qiyamul lail Ramadan dengan niat iman dan mengharap pahala maka dosanya akan diampuni.

 Baca Juga: Binrohtal 2.363: Menjaga Spirit Ramadan

Kedua, iftor yang berarti berbuka. Idul Fitri tanggal 1 Syawal merupakan hari diwajibkan berbuka dengan makan, minum dan bergembira bagi umat Islam. Pada hari itu diharamkan berpuasa.

Ini menyiratkan kemenangan setelah kita melawan dan menahan hawa nafsu dengan berpuasa. Berbuka puasa setiap hari disebut iftor, yang secara harfiah dapat dipahami memenuhi fitrah yang suci dan baik. 

Secara simbolis makan dan minum yang halal dan baik adalah merupakan bagian dari fitrah manusia yang suci. Makanya Islam mewajibkan ikhtiar makan, minum, tidur, menikah, bekerja dan seterusnya secara halal dan baik.

Ketiga, fatoro yang berarti kembali kepada kejadian awal diciptakannya manusia. Manusia lahir ke dunia ini dalam keadaan suci dan bersih, tanpa membawa dosa apapun.

Berpuasa dengan iman dan penuh harapan pahala selama bulan Ramadan membuat kita kembali suci.

 Rasulullah bersabda; Barangsiapa yang melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan dengan penuh keimanan kepada Allah SWT, maka apabila ia memasuki Idul Fitri, ia akan kembali menjadi fitrah seperti bayi yang lahir dari rahim ibunya.

Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi atau Nasrani.

Baca Juga: Binrohtal 2.291: Tiga Inti Akhlak

Nabi Muhammad SAW pernah melarang sahabat Utsman ibn Mazh'um yang ingin menempuh hidup suci dengan melakukan semacam pertapaan.

Nabi juga melarang keras pikiran sahabat beliau yang ingin menempuh hidup tidak menikah seumur hidup, karena menyalahi fitrah.

Idul Fitri mengandung makna kembali kepada hakikat dari manusia dan kemanusiaan. Manusia diciptakan Allah SWT dalam fitrah kesucian dengan adanya ikatan perjanjian yang kuat antara Allah SWT dan manusia sebelum manusia itu lahir ke bumi.

Allah SWT mengingatkan agar manusia tetap pada fitrahnya dalam Surah Ar-Rum ayat 30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah).

Tetaplah atas fithrah Allah yang telah menciptkan fitrah manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Kita harus istiqamah, konsisten dalam menempuh jalan Islam yang lurus (benar) dalam keyakinan (keimanan) dan kebenaran (haq) dengan tidak berpaling dari keyakinan dan kebenaran tersebut. Istiqamah dalam semua bentuk ketaatan kepada Allah lahir, batin dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya.

Idul Fitri adalah tanda kemenangan atas godaan duniawi dan bukti keberhasilan seseorang dalam mendisiplinkan diri. Imam Al-Ghazali menjelaskan; Orang yang merayakan Idul Fitri tetapi tetap mengikuti hawa nafsunya setelah Ramadan, maka ia belum benar-benar menang. (jif/naz)

 

 

Editor : Anggi Fridianto
#Kota Santri #polres jombang #Lebaran #makna idul fitri