’’Sebab di akhir zaman, ada orang yang imannya mudah lepas,’’ tuturnya. Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Sesungguhnya sesudahku nanti akan terjadi banyak fitnah yang melanda umatku secara merata. Bagaikan gelapnya malam, mereka ada yang pagi hari beriman, sore hari kafir. Mereka menjual agamanya dengan dunia yang sedikit.
Ini adalah peringatan bagi kita agar selalu berusaha dan mengantisipasi diri supaya tidak terkena fitnah tersebut. ’’Sebab jika hal itu menimpa kita, maka itu sebuah kerugian yang sangat besar,’’ tegasnya. Iman itu nikmat yang paling besar dalam kehidupan karena menjadi tiket masuk surga. ’’Surga itu lebih baik, kekal abadi, tidak ada batasnya dan tidak rusak, kok tiketnya ditinggal dan dilepas begitu saja demi meraih dunia yang kecil, sedikit, sebentar dan tidak abadi,’’ urainya.
Oleh karena itu kita harus benar-benar menjaga iman, agar terhindar dari fitnah tersebut. Diantaranya dengan dua cara. Pertama, menambah wawasan keilmuan. ’’Dengan bertambahnya ilmu maka agama seseorang menjadi kuat,’’ ungkapnya.
Kalau orang itu agamanya kuat, apapun profesi dan pekerjaannya akan menjadi baik. Hidupnya bermanfaat bagi masyarakat dan akhirnya selamat dunia akhirat. Saking pentingnya belajar menambah wawasan keilmuan, Nabi memberi motivasi, barang siapa belajar satu bab tentang ilmu, baik itu bisa mengamalkan atau tidak, maka itu lebih baik daripada salat sunah seribu rakaat.
Nabi juga mewajibkan kita semua untuk terus memperdalam ilmu agama. Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Mencari ilmu agama hukumnya wajib bagi setiap orang muslim sejak dalam kandungan hingga liang lahad. Rasulullah juga bersabda; Orang yang dikehendaki Allah SWT jadi orang baik, maka orang itu akan dipahamkan terhadap ilmu agama.
Kedua, dekat dengan ulama. Menurutnya, ulama adalah pewaris Nabi yang menyampaikan ajaran-ajaran Nabi. Sehingga orang yang selalu dekat dengan ulama maka akan selalu mendapat arahan, bimbingan dan petunjuk kehidupan. Sehingga agamanya menjadi kuat. "Ciri utama ulama yakni takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala," terangnya.
Orang yang mengerti ilmu agama, akan semakin takut melanggar larangan Allah SWT. Serta takut meninggalkan perintah Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana ditegaskan dalam QS Alfatir 28. Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Kita mendekat kepada ulama agar kecipratan ilmunya. Sehingga membuat kita takut tidak melaksanakan perintah Allah SWT. Serta takut menerjang larangan Allah SWT. (jif/naz/riz)
Editor : Achmad RW