alexametrics
31.1 C
Jombang
Wednesday, May 25, 2022

Binrohtal 1.301: 8 Hiasan Kehidupan

Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Senin (29/11), KH Khairil Anam Denanyar, menjelaskan hiasan kehidupan. ’’Dalam kitab Nashoihul Ibad, Sayyidina Abu Bakar RA menyampaikan delapan hiasan dalam kehidupan manusia,’’ tuturnya.

Pertama, menjaga diri dari meminta minta, merupakan hiasan bagi orang fakir. Kedua, syukur merupakan hiasan untuk nikmat. Ketiga, sabar hiasan untuk musibah. Keempat, tawaduk merupakan hiasan untuk kedudukan.

Kelima, santun hiasan ilmu. ’’Setinggi apapun ilmu seseorang tanpa dihiasi dengan sikap santun atau adab yang baik maka akan hina,’’ jelasnya. Yang membedakan orang berilmu dan tidak berilmu adalah akhlaknya.

Contohnya sikap suami dalam menghadapi istri. Ketika istri marah, suami yang tidak berilmu akan ikut marah. Membalas kejelekan dengan kejelekan sehingga rumah tangga gampang bubar. Sebaliknya, orang berilmu, ketika istri marah, dia akan diam. Walaupun istri marah, suami yang berilmu akan tetap bersikap baik. Mengikuti perintah Alquran Surat Annisa 19; Dan bergaullah dengan istrimu secara baik. Juga mencontoh Khalifah Umar bin Khottob yang hanya duduk diam kala dimarahi istri. Padahal Umar sangat garang di medan perang. Setan pun minggir ketika Umar lewat. Namun kepada istrinya, Umar hanya diam saat dimarahi. Ini karena dia mengamalkan ilmu yakni perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam agar baik kepada keluarga.

Baca Juga :  Binrohtal 1.321: Umur 40 Tahun

Keenam, rendah hati hiasan pencari Ilmu. ’’Agar Ilmu yang diperoleh menjadi ilmu yang manfaat dan barokah, maka para pencari ilmu harus punya sikap rendah hati, menghormati guru-gurunya dan juga mau berusaha sungguh-sungguh agar harapan dan cita-citanya tercapai,’’ terangnya. Untuk sampai pada puncak harapan harus melewati sebuah proses. ’’Tidak ada ceritanya sukses tiba-tiba datang dengan sendirinya,’’ jelasnya.

Ilmu  ibarat air yang jernih. Hanya mau mengalir ke tempat yang lebih rendah. Makanya orang yang mencari ilmu tak boleh sombong. Orang yang sombong selalu merasa lebih baik dan lebih pandai dibanding orang lain. Ibarat gelas, orang sombong seperti gelas yang tertutup. Sehingga tak bisa dimasuki air. Orang yang rendah hati ibarat gelas yang terbuka sehingga bisa dimasuki ilmu.

Selama kita rendah hati dan mau terus belajar, maka ilmu akan terus bertambah. Pada saat kita sombong, kita akan enggan belajar dan ketika itulah kita akan menjadi bodoh.

Baca Juga :  Minta Inventarisir Pabrik Pembuang Limbah

Ketujuh,  tidak mengungkit-ungkit amal merupakan hiasan kebaikan. Kebaikan yang telah dilakukan manusia akan dipetik hasilnya kelak di akhirat. Asal kebaikan itu tidak lenyap di tengah jalan. Sebab bisa jadi kebaikan itu tidak bisa dirasakan hasilnya ludes dimakan oleh hama penyakit. ’’Diantara hama penyakit yang menyerang dan memakan kebaikan manusia  yakni mengungkit-ungkit kebaikan yang telah dilakukan,’’ urainya. Misalnya ikut sedekah dalam pembangunan masjid. Namun setelah itu diungkit-ungkit dan ngomong di hadapan orang bahwa masjid itu kalau tak disumbang oleh dirinya tidak akan jadi. Undat-undat seperti ini menghapus pahala amal kita. Sebagaimana disebutkan dalam QS Albaqarah 264. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima.

Kedelapan, khusyuk hiasan salat. Agar salat menjadi baik dan bermakna, maka hendaknya dilakukan dengan khusyuk, yaitu fokus dan konsentrasi. ’’Orang menghadap menteri saja harus sopan, fokus dan konsentrasi, apalagi salat yang menghadap Allah subhanahu wa ta’ala,’’ bebernya.

- Advertisement -

Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Senin (29/11), KH Khairil Anam Denanyar, menjelaskan hiasan kehidupan. ’’Dalam kitab Nashoihul Ibad, Sayyidina Abu Bakar RA menyampaikan delapan hiasan dalam kehidupan manusia,’’ tuturnya.

Pertama, menjaga diri dari meminta minta, merupakan hiasan bagi orang fakir. Kedua, syukur merupakan hiasan untuk nikmat. Ketiga, sabar hiasan untuk musibah. Keempat, tawaduk merupakan hiasan untuk kedudukan.

Kelima, santun hiasan ilmu. ’’Setinggi apapun ilmu seseorang tanpa dihiasi dengan sikap santun atau adab yang baik maka akan hina,’’ jelasnya. Yang membedakan orang berilmu dan tidak berilmu adalah akhlaknya.

Contohnya sikap suami dalam menghadapi istri. Ketika istri marah, suami yang tidak berilmu akan ikut marah. Membalas kejelekan dengan kejelekan sehingga rumah tangga gampang bubar. Sebaliknya, orang berilmu, ketika istri marah, dia akan diam. Walaupun istri marah, suami yang berilmu akan tetap bersikap baik. Mengikuti perintah Alquran Surat Annisa 19; Dan bergaullah dengan istrimu secara baik. Juga mencontoh Khalifah Umar bin Khottob yang hanya duduk diam kala dimarahi istri. Padahal Umar sangat garang di medan perang. Setan pun minggir ketika Umar lewat. Namun kepada istrinya, Umar hanya diam saat dimarahi. Ini karena dia mengamalkan ilmu yakni perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam agar baik kepada keluarga.

Baca Juga :  Binrohtal 1.298: Kalimat Tauhid

Keenam, rendah hati hiasan pencari Ilmu. ’’Agar Ilmu yang diperoleh menjadi ilmu yang manfaat dan barokah, maka para pencari ilmu harus punya sikap rendah hati, menghormati guru-gurunya dan juga mau berusaha sungguh-sungguh agar harapan dan cita-citanya tercapai,’’ terangnya. Untuk sampai pada puncak harapan harus melewati sebuah proses. ’’Tidak ada ceritanya sukses tiba-tiba datang dengan sendirinya,’’ jelasnya.

Ilmu  ibarat air yang jernih. Hanya mau mengalir ke tempat yang lebih rendah. Makanya orang yang mencari ilmu tak boleh sombong. Orang yang sombong selalu merasa lebih baik dan lebih pandai dibanding orang lain. Ibarat gelas, orang sombong seperti gelas yang tertutup. Sehingga tak bisa dimasuki air. Orang yang rendah hati ibarat gelas yang terbuka sehingga bisa dimasuki ilmu.

- Advertisement -

Selama kita rendah hati dan mau terus belajar, maka ilmu akan terus bertambah. Pada saat kita sombong, kita akan enggan belajar dan ketika itulah kita akan menjadi bodoh.

Baca Juga :  Binrohtal 1.276: Gembira dengan Nabi

Ketujuh,  tidak mengungkit-ungkit amal merupakan hiasan kebaikan. Kebaikan yang telah dilakukan manusia akan dipetik hasilnya kelak di akhirat. Asal kebaikan itu tidak lenyap di tengah jalan. Sebab bisa jadi kebaikan itu tidak bisa dirasakan hasilnya ludes dimakan oleh hama penyakit. ’’Diantara hama penyakit yang menyerang dan memakan kebaikan manusia  yakni mengungkit-ungkit kebaikan yang telah dilakukan,’’ urainya. Misalnya ikut sedekah dalam pembangunan masjid. Namun setelah itu diungkit-ungkit dan ngomong di hadapan orang bahwa masjid itu kalau tak disumbang oleh dirinya tidak akan jadi. Undat-undat seperti ini menghapus pahala amal kita. Sebagaimana disebutkan dalam QS Albaqarah 264. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima.

Kedelapan, khusyuk hiasan salat. Agar salat menjadi baik dan bermakna, maka hendaknya dilakukan dengan khusyuk, yaitu fokus dan konsentrasi. ’’Orang menghadap menteri saja harus sopan, fokus dan konsentrasi, apalagi salat yang menghadap Allah subhanahu wa ta’ala,’’ bebernya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/