alexametrics
31.5 C
Jombang
Wednesday, August 10, 2022

Binrohtal 1.492, Pemimpin dan Rakyat Baik

JOMBANG – Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (28/7/2022), Pengasuh PP Tebuireng Putri, KH Fahmi Amrullah Hadziq menjelaskan pentingnya menjadi pemimpin dan rakyat yang baik.

”Dengan menjadi rakyat yang baik kita akan diberi pemimpin yang baik,” tuturnya. Sebagaimana disebutkan dalam QS Al-‘An`ām 129: Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan. Pada zaman Umar bin Khattab rakyatnya baik. Sehingga punya pemimpin yang baik seperti Umar bin Khattab.

Suatu hari, saat menjadi khalifah, Umar bin Khattab memanggil seorang wanita untuk menghadap. Wanita itu dalam keadaan hamil muda. Karena mendengar bahwa dia dipanggil oleh seorang Umar bin Khattab, pemimpin yang sangat tegas, wanita itu pun mengalami keguguran akibat rasa takut dan cemas.

Keadaan itu kemudian disampaikan kepada Umar bin Khattab. Lalu, Umar mengumpulkan para sahabat Nabi lainnya. Umar pun bertanya, apakah dirinya patut dianggap bersalah karena surat panggilannya telah mengakibatkan seseorang mengalami keguguran. Para sahabat berkata, ”Tidak ya Amirul Mukminin.” Umar masih tak puas.

Baca Juga :  Masjid At-Taqwa, Masjid Bersejarah yang punya Konsep Mandiri Ekonomi

Dia lalu bertanya kepada Ali bin Abi Thalib, “Bagaimana pendapatmu, wahai Abu Hasan?” Ali bin Abi Thalib menjawab, “Kau terkena denda”.

Maka itu, Umar pun ‘dihukum’ sesuai ketentuan agama, yaitu membayar denda layaknya hukuman ‘pembunuhan tidak sengaja’. “Ambillah unta-untaku dan bagikan kepada keluarganya,” kata Umar.

Ketika Ali bin Abi Thalib berkuasa, ia diprotes oleh rakyatnya. Dengan nada keras, seseorang berkata kepada Ali, “Pada zaman Umar bin Khattab sedikit sekali aksi kejahatan dan pencurian.

Pada zaman Anda kok mulai banyak?” Ali menjawab, “Sebab pada zaman Umar, rakyat yang dipimpinnya itu seperti aku. Sekarang aku harus memimpin rakyat seperti Anda.”

Seorang khalifah Bani Umayyah mendengar perkataan buruk rakyat tentang pemerintahannya. Karena itu, sang khalifah mengundang dan mengumpulkan para tokoh dan elite rakyatnya. Dalam pertemuan itu, khalifah berkata, “Wahai rakyatku sekalian, apakah kalian ingin aku menjadi khalifah, seperti Abu Bakar As-Shiddiq dan Umar bin Khattab?” Mereka pun menjawab, “Ya”.

Kemudian sang khalifah berkata lagi, “Jika demikian halnya, jadilah kalian seperti rakyat Abu Bakar dan Umar. Karena Allah SWT yang Mahabijaksana akan memberikan pemimpin pada suatu kaum sesuai dengan amal-amal yang dikerjakannya. Jika amal mereka buruk, pemimpinnya pun akan buruk. Dan jika amal mereka baik, pemimpinnya pun akan baik.”

Baca Juga :  Binrohtal 1.480, Surga dan Neraka karena Lalat

Jika ingin rakyatnya baik, maka pemimpin harus baik. Sufyan ats-Tsauri berkata kepada Abu Ja’far al-Manshur, khalifah dari Dinasti Bani Umayyah. “Ada seorang lelaki yang bila dia baik, rakyat akan baik. Dan jika dia rusak, rusaklah rakyat semua.” Khalifah Abu Ja’far al-Manshur bertanya, “Siapa dia?” Sufyan menjawab, “Engkau!”

Pemimpin yang paling baik ialah pemimpin yang ikut berbagi dengan rakyatnya. Rakyat mendapat perlakuan keadilan yang sama, tidak ada yang diistimewakan. Sehingga pihak yang merasa kuat tidak memiliki keinginan melakukan kezaliman. Dan pihak yang lemah tidak merasa putus asa untuk mendapatkan keadilan.

Rasulullah Muhammad sollallahu alaihi wa sallam pernah berdoa: Ya Allah, barang siapa mengurusi sesuatu dari urusan umatku, lalu dia menyusahkan mereka maka susahkanlah dia. Dan barang siapa mengurusi sesuatu dari urusan umatku, lalu dia bersikap lembut kepada mereka maka bersikaplah lembut kepadanya. (jif/naz/riz)

- Advertisement -

JOMBANG – Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (28/7/2022), Pengasuh PP Tebuireng Putri, KH Fahmi Amrullah Hadziq menjelaskan pentingnya menjadi pemimpin dan rakyat yang baik.

”Dengan menjadi rakyat yang baik kita akan diberi pemimpin yang baik,” tuturnya. Sebagaimana disebutkan dalam QS Al-‘An`ām 129: Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan. Pada zaman Umar bin Khattab rakyatnya baik. Sehingga punya pemimpin yang baik seperti Umar bin Khattab.

Suatu hari, saat menjadi khalifah, Umar bin Khattab memanggil seorang wanita untuk menghadap. Wanita itu dalam keadaan hamil muda. Karena mendengar bahwa dia dipanggil oleh seorang Umar bin Khattab, pemimpin yang sangat tegas, wanita itu pun mengalami keguguran akibat rasa takut dan cemas.

Keadaan itu kemudian disampaikan kepada Umar bin Khattab. Lalu, Umar mengumpulkan para sahabat Nabi lainnya. Umar pun bertanya, apakah dirinya patut dianggap bersalah karena surat panggilannya telah mengakibatkan seseorang mengalami keguguran. Para sahabat berkata, ”Tidak ya Amirul Mukminin.” Umar masih tak puas.

Baca Juga :  Binrohtal 1.450, Memuliakan Tulisan Bismilah

Dia lalu bertanya kepada Ali bin Abi Thalib, “Bagaimana pendapatmu, wahai Abu Hasan?” Ali bin Abi Thalib menjawab, “Kau terkena denda”.

Maka itu, Umar pun ‘dihukum’ sesuai ketentuan agama, yaitu membayar denda layaknya hukuman ‘pembunuhan tidak sengaja’. “Ambillah unta-untaku dan bagikan kepada keluarganya,” kata Umar.

- Advertisement -

Ketika Ali bin Abi Thalib berkuasa, ia diprotes oleh rakyatnya. Dengan nada keras, seseorang berkata kepada Ali, “Pada zaman Umar bin Khattab sedikit sekali aksi kejahatan dan pencurian.

Pada zaman Anda kok mulai banyak?” Ali menjawab, “Sebab pada zaman Umar, rakyat yang dipimpinnya itu seperti aku. Sekarang aku harus memimpin rakyat seperti Anda.”

Seorang khalifah Bani Umayyah mendengar perkataan buruk rakyat tentang pemerintahannya. Karena itu, sang khalifah mengundang dan mengumpulkan para tokoh dan elite rakyatnya. Dalam pertemuan itu, khalifah berkata, “Wahai rakyatku sekalian, apakah kalian ingin aku menjadi khalifah, seperti Abu Bakar As-Shiddiq dan Umar bin Khattab?” Mereka pun menjawab, “Ya”.

Kemudian sang khalifah berkata lagi, “Jika demikian halnya, jadilah kalian seperti rakyat Abu Bakar dan Umar. Karena Allah SWT yang Mahabijaksana akan memberikan pemimpin pada suatu kaum sesuai dengan amal-amal yang dikerjakannya. Jika amal mereka buruk, pemimpinnya pun akan buruk. Dan jika amal mereka baik, pemimpinnya pun akan baik.”

Baca Juga :  Masjid At-Taqwa, Masjid Bersejarah yang punya Konsep Mandiri Ekonomi

Jika ingin rakyatnya baik, maka pemimpin harus baik. Sufyan ats-Tsauri berkata kepada Abu Ja’far al-Manshur, khalifah dari Dinasti Bani Umayyah. “Ada seorang lelaki yang bila dia baik, rakyat akan baik. Dan jika dia rusak, rusaklah rakyat semua.” Khalifah Abu Ja’far al-Manshur bertanya, “Siapa dia?” Sufyan menjawab, “Engkau!”

Pemimpin yang paling baik ialah pemimpin yang ikut berbagi dengan rakyatnya. Rakyat mendapat perlakuan keadilan yang sama, tidak ada yang diistimewakan. Sehingga pihak yang merasa kuat tidak memiliki keinginan melakukan kezaliman. Dan pihak yang lemah tidak merasa putus asa untuk mendapatkan keadilan.

Rasulullah Muhammad sollallahu alaihi wa sallam pernah berdoa: Ya Allah, barang siapa mengurusi sesuatu dari urusan umatku, lalu dia menyusahkan mereka maka susahkanlah dia. Dan barang siapa mengurusi sesuatu dari urusan umatku, lalu dia bersikap lembut kepada mereka maka bersikaplah lembut kepadanya. (jif/naz/riz)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/