Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gus Zu'em: Perang: Iran dan Badar

A
Penulis: Anggi Fridianto❯

Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As'ad
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As'ad


Advertisement

MENURUT para pakar pertahanan, peperangan yang terjadi antara Iran melawan AS dan Israel adalah perang asimetris.

Suatu pertempuran yang tidak berimbang. Tidak hanya satu negara melawan dua negara, tapi juga dalam hal dukungan kekuatan militernya.

Dari laman Global Firepower 2026, tertulis angkatan perang AS menempati urutan 1 di dunia, Israel 15 sedang Iran ke 16. Maka wajar bila Trump dan Netanyahu sangat percaya diri untuk bisa menaklukkan Iran dalam waktu singkat.

Advertisement

Tapi ternyata, hingga hari ke 15, Iran masih bisa melancarkan serangan balasan pada negeri zionis dan kepentingan AS di teluk. Akibatnya, Trump pun panik, sehingga pernyataan-pernyataannya mulai ngelantur.

Misalnya, ketika wartawan menanyakan tanggung jawab AS atas terbunuhnya 167 siswi SD yang menjadi target rudal Tomahawk. Dengan enteng dia bilang : “Tomahawk itu rudal hebat, sehingga banyak negara yang memilikinya, termasuk Iran” Trump bermaksud melemparkan tuduhan bahwa Iran sendirilah pelakunya.

Maka para pengamat militer dunia pun tertawa guling-guling sambil bilang : “memangnya beli rudal itu bisa COD online”.

Advertisement

Bahkan Rabu lalu, Trump dengan ringan menyatakan bahwa keputusan menyerang Iran itu atas masukan yang diterimanya dari Menlu, Menhan, penasihat militer dan negosiatornya (Witkoff).

Ungkapan yang dengan mudah bisa dipahami sebagai upayanya untuk lempar tanggung jawab atau cari kambing hitam, karena dia sudah merasa terdesak. Maka ketika dia ingin segera mengakhiri perangnya tapi Iran tak membuka pintu untuk merundingkan gencatan senjata, dia pun makin stres.

Dalam perspektif pertarungan hegemoni internasional, ketika terjadi peperangan asimetris, kemenangan perang bukan ditentukan oleh siapa yang paling banyak menjatuhkan korban, tapi siapa yang bisa bertahan. Maka ketika Iran hingga saat ini masih bisa bertahan bahkan konsisten meluncukan drone dan rudalnya ke sasaran musuh, Iranlah pemenang sejati perang ini.

Lazim dalam setiap peperangan, tiap negara memiliki kata sandi atas operasi tempurnya itu. Kali ini,  AS dan Israel menggunakan kata sandi “Epic Fury” (Amarah yang hebat), sedang  Iran menggunakan sandi yang lebih ideologis diksinya  : “True Promise”  ( Janji sejati ). Sementara itu, masyarakat Iran menyebut peperangan ini sebagai “perang Ramadhan”.

Sebuah sebutan yang merefleksikan harapan untuk mendapatkan kemenangan dari Allah sebagaimana kemenangan tentara Islam dalam tiga peperangan yang dipimpin Rasulullah pada bulan Ramadhan, yaitu :  Perang Badar (2 H), Fathu Makkah ( 8 H) dan Tabuk ( 9 H).

Dari perspektif ketiga peperangan Ramadhan tersebut, yang paling tepat untuk mendiskripsikan perang Iran saat ini adalah perang Badar.  Sama-sama asimetrisnya.

Dari beberapa literatur tarih, dikisahkan bahwa tentara Islam berkekuatan hanya 313 orang, 2 kuda, 70 onta dan bersenjatakan pedang, tombak serta panah seadanya.

Sedang tentara Quraisy berjumlah tiga kali lipatnya lebih. Bersenjata “modern” seperti tentara Romawi, dengan 100 kuda dan ratusan unta. Secara teoritis dengan hitungan di atas kertas, kemenangan Quraisy di depan mata.

Namun apa yang terjadi.? Dengan semangat juang yang tinggi dan tanpa menakuti kematian, atas pertolongan Allah, tentara Rasulullah meraih kemenangan.

Tentara Quraisy banyak yang tak menduga daya tempur lawannya demikian dahsyat dan menggentarkan, sehingga begitu melihat kawannya bergelimpangan, merekapun lari tinggal glanggang.

Akhirnya tentara Rasulullah berhasil menawan 70 orang, yang diperlakukannya secara manusiawi. Bahkan dilepaskan dengan tebusan materi atau mengajar baca-tulis penduduk Madinah.

Faktor penentu kemenangan tentara Islam saat itu, terlepas dari pertolongan Allah, adalah sikap sahabat yang penuh kesetiaan, keberanian, keteguhan iman, dan ketaatan total pada pemimpinnya.

Sikap dan semangat sahabat Badar itulah yang saat ini “merasuki” tentara Iran. Solidaritas emosional dan keberanian mereka dipadatkan oleh kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat gempuran rudal agresor.

Oleh karena itu, layaknya tentara Quraisy, para jenderal AS dan Israel saat ini pun terkejut melihat keganasan lawannya.  Akibatnya, mereka sekarang sibuk menyeret pihak lain dan mencari pintu keluar dari kekacauan yang mereka mulai sendiri. Hasbunallah wani’mal wakil.

 

Advertisement

Artikel Terkait

Tak Sekadar Penghijauan, Desa Jombok Jombang Sulap Pinggir Jalan Jadi Kebun Buah Gratis

Tak Sekadar Penghijauan, Desa Jombok Jombang Sulap Pinggir Jalan Jadi Kebun Buah Gratis

Ruas jalan dan tanggul sungai di Desa Jombok, Kecamatan Ngoro, tak sekadar menjadi akses mobilitas warga. Beragam pohon buah tumbuh subur di sepanjang jalur tersebut. Saat berbuah, hasilnya boleh dinikmati

Tiga Perkara yang Dirahasiakan Allah, Jangan Remehkan Amal Kecil dan Sesama Manusia

Tiga Perkara yang Dirahasiakan Allah, Jangan Remehkan Amal Kecil dan Sesama Manusia

Saat ngaji usai salat Zuhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (5/11), pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Khoir, Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung, KH Miftahul Khoiri, menjelaskan hal yang dirahasi

Sopir Truk Hino Pemicu Kecelakaan Maut di Mojoagung Positif Sabu, Ini Kata Polisi

Sopir Truk Hino Pemicu Kecelakaan Maut di Mojoagung Positif Sabu, Ini Kata Polisi

Fakta baru terungkap dari kecelakaan maut yang melibatkan truk Hino dan Honda Beat di simpang tiga Ringroad Mojoagung, Desa Gambiran, Kecamatan Mojoagung.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer