24.6 C
Jombang
Saturday, January 28, 2023

Binrohtal 1.908, Buah Prasangka Baik

JOMBANG – Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (25/1), Pengasuh PP Almasruriyah, Tebuireng, Gus M Mirza, menjelaskan pentingnya berprasangka baik.

’’Kita harus berprasangka baik agar dijadikan Allah sebagai orang baik,’’ tuturnya. Dalam QS Alhujurat 12, Allah SWT bahkan melarang prasangka buruk. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk, karena sebagian prasangka buruk itu dosa.

Suatu ketika, Ibrahim bin Adham berjalan di tepi pantai. Dia melihat sepasang manusia berduaan dengan mesra. Dia menyangka, mereka sepasang kekasih yang sedang mabuk. Apalagi di sekelilingnya ada botol minuman berserakan.

Tiba-tiba, dalam jarak beberapa meter di depan mereka, gelombang laut mengganas menerjang pinggiran pantai. Menghanyutkan lima lelaki. Pria mabuk yang sedang bermesraan di pinggir pantai itu berlari menyelamatkan. Empat orang berhasil dia selamatkan.

Setelah itu, si lelaki menuju ke arah Ibrahim bin Adham. Tiba-tiba ia mengucapkan beberapa kalimat, padahal Ibrahim bin Adham tidak bertanya sepatah katapun. ’’Tadi itu saya hanya bisa menyelamatkan empat nyawa, sementara kamu seharusnya menyelamatkan sisa satu nyawa yang tidak bisa saya selamatkan.’’

Baca Juga :  MAN 3 Jombang: Nilai Tryout ANBK Jadi Bekal Pembinaan

Belum selesai kebingungan Ibrahim bin Adham, pria itu kembali berkata; ’’Wanita yang di sebelahku itu adalah ibuku. Dan, minuman yang kami minum hanyalah air biasa,’’ katanya memberikan penjelasan. Seolah ia mampu membaca semua apa yang dipikirkan oleh Ibrahim bin Adham.

Kejadian itu menyadarkan Ibrahim bin Adham. Seketika hatinya dipenuhi sesal dan tobat. Pria yang sempat dianggap ahli maksiat ternyata jauh lebih baik dibandingkan dirinya yang terkenal ahli ibadah. Kejadian itu membekas dalam hidup Ibrahim bin Adham hingga wafatnya. Sehingga ia selalu berprasangka baik kepada semua orang.

’’Kepada Allah SWT, kita juga harus berprasangka baik,’’ tegasnya. Suatu ketika, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam menjenguk orang sakit. Nabi bertanya kepadanya; Bagaimana perasaanmu? Orang itu menjawab; Aku takut menghadap Allah SWT dengan dosa-dosaku.

Baca Juga :  38 SD di Jombang Kurang Siswa, Muridnya Tak Sampai 50 Orang

Rasulullah lalu berpesan; Allah SWT akan menyelamatkanmu dari apa yang kamu takuti. Orang itu pun akhirnya berprasangka baik bahwa Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya.

Setelah orang itu wafat, sejumlah sahabat ketemu dengannya dalam mimpi. Para sahabat bertanya; Bagaimana balasan Allah SWT kepadamu? Orang itu menjawab; Allah mengampuniku sebab prasangka baikku kepada Allah SWT.

Sebesar apapun dosa kita, kita harus berprasangka baik bahwa Allah SWT pasti akan mau mengampuni. Maksimal, usia kita hanya 100 tahun. Jika selama 100 tahun kita terus berbuat dosa, itu masih sangat kecil dibanding besarnya ampunan Allah SWT. Sebelum kita lahir Allah SWT sudah maha pengampun. Setelah kita matipun, Allah SWT tetap maha pengampun. (jif/naz/riz)

JOMBANG – Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (25/1), Pengasuh PP Almasruriyah, Tebuireng, Gus M Mirza, menjelaskan pentingnya berprasangka baik.

’’Kita harus berprasangka baik agar dijadikan Allah sebagai orang baik,’’ tuturnya. Dalam QS Alhujurat 12, Allah SWT bahkan melarang prasangka buruk. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk, karena sebagian prasangka buruk itu dosa.

Suatu ketika, Ibrahim bin Adham berjalan di tepi pantai. Dia melihat sepasang manusia berduaan dengan mesra. Dia menyangka, mereka sepasang kekasih yang sedang mabuk. Apalagi di sekelilingnya ada botol minuman berserakan.

Tiba-tiba, dalam jarak beberapa meter di depan mereka, gelombang laut mengganas menerjang pinggiran pantai. Menghanyutkan lima lelaki. Pria mabuk yang sedang bermesraan di pinggir pantai itu berlari menyelamatkan. Empat orang berhasil dia selamatkan.

Setelah itu, si lelaki menuju ke arah Ibrahim bin Adham. Tiba-tiba ia mengucapkan beberapa kalimat, padahal Ibrahim bin Adham tidak bertanya sepatah katapun. ’’Tadi itu saya hanya bisa menyelamatkan empat nyawa, sementara kamu seharusnya menyelamatkan sisa satu nyawa yang tidak bisa saya selamatkan.’’

Baca Juga :  Airlangga: Arahan Presiden Seluruh Fisik PSN Rampung Sebelum 2024

Belum selesai kebingungan Ibrahim bin Adham, pria itu kembali berkata; ’’Wanita yang di sebelahku itu adalah ibuku. Dan, minuman yang kami minum hanyalah air biasa,’’ katanya memberikan penjelasan. Seolah ia mampu membaca semua apa yang dipikirkan oleh Ibrahim bin Adham.

Kejadian itu menyadarkan Ibrahim bin Adham. Seketika hatinya dipenuhi sesal dan tobat. Pria yang sempat dianggap ahli maksiat ternyata jauh lebih baik dibandingkan dirinya yang terkenal ahli ibadah. Kejadian itu membekas dalam hidup Ibrahim bin Adham hingga wafatnya. Sehingga ia selalu berprasangka baik kepada semua orang.

’’Kepada Allah SWT, kita juga harus berprasangka baik,’’ tegasnya. Suatu ketika, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam menjenguk orang sakit. Nabi bertanya kepadanya; Bagaimana perasaanmu? Orang itu menjawab; Aku takut menghadap Allah SWT dengan dosa-dosaku.

Baca Juga :  Terbukti Indisipliner, Sejumlah ASN di Jombang Disanksi

Rasulullah lalu berpesan; Allah SWT akan menyelamatkanmu dari apa yang kamu takuti. Orang itu pun akhirnya berprasangka baik bahwa Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya.

Setelah orang itu wafat, sejumlah sahabat ketemu dengannya dalam mimpi. Para sahabat bertanya; Bagaimana balasan Allah SWT kepadamu? Orang itu menjawab; Allah mengampuniku sebab prasangka baikku kepada Allah SWT.

Sebesar apapun dosa kita, kita harus berprasangka baik bahwa Allah SWT pasti akan mau mengampuni. Maksimal, usia kita hanya 100 tahun. Jika selama 100 tahun kita terus berbuat dosa, itu masih sangat kecil dibanding besarnya ampunan Allah SWT. Sebelum kita lahir Allah SWT sudah maha pengampun. Setelah kita matipun, Allah SWT tetap maha pengampun. (jif/naz/riz)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/