Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gus Zu'em: Jombang yang Asyik

A
Penulis: Anggi Fridianto❯
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As
Kolom Gus Zuem, sebuah tulisan dari KH Zaimudin As

KENANGAN masa lalu terlintas di benak saya. Pemandangan yang dulu sering membuat saya tersenyum: santri-santri yang melepas sandal, tiga langkah sebelum bersalaman dengan Ayahanda.


Advertisement

Dari sikap hormatnya yang luar biasa  itu, saya bisa pastikan mereka adalah santri-santri Madura. Ada getaran ta’dhim yang terasa dari ujung kaki hingga ujung kepala. Sementara santri asli Jombang, tak demikian.

Mereka tentu saja hormat pada kiai, tapi ekspresinya biasa-biasa saja. Tidak melepas sandal, cukup salim mencium tangan. Membungkukkan diri sejajar dengan telapak tangan atau perut kiai.

Kenangan tersebut muncul, dalam pertemuan yang diselenggarakan Kejaksaan Negeri Jombang pada forum rapat tim Pengawasan Aliran Kepercayaan dan Aliran Keagamaan Masyarakat (PAKEM) Jumat lalu.

Advertisement

Saat itu Pak Munif Kusnan (ketua FKUB) memaparkan betapa kondusifnya masyarakat Jombang dalam menjaga kerukunan beragama. Bahkan ketika di luar Jombang memanas tentang kontroversi habib, masyarakat kota santri ini adem ayem saja.

Tidak menganggap penting isu sanad darah biru kanjeng nabi tersebut.

 

Advertisement

Sikap itu bisa dilihat dua tahun lalu, ketika seorang habib dari Yaman di Tebuireng, sambutan para ustadz dan santri Jombang wajar-wajar saja, sebagaimana menyambut kiai sepuh lainnya. Tidak mengelu-elukan seperti yang dilakukan para muhibbin di luar Jombang.

Masyarakat Jombang, rupanya, sejak lama belajar satu hal penting: bahwa penghormatan tidak harus menyingkirkan kewajaran. Hal itu ditopang dengan penampilan para kiai kita yang tidak menonjolkan atribut keulamaannya di masyarakat.

Sangat merakyat. Mayoritas tidak mengenakan tsurban tebal yang melingkari kepala. Kesan inklusifnya demikian kuat.

Sehingga nuansa egalitarian dalam struktur sosial masyarakat Jombang sangat terasa.  Para kiai Jombang ini, dengan gaya khas (tenang, teduh, dan tidak suka ribut) sejak awal menanamkan pesan persaudaraan yang intens dalam bermasyarakat.

Oleh karena itu, Jombang relatif tahan guncangan ketika provokasi berbau SARA berhembus dalam berbagai  momentum politik lokal maupun nasional.

Pada kesempatan tersebut, saya meminta kepada pihak yang berwenang untuk menjaga kerukunan dan keutuhan masyarakat Jombang dengan membentengi kami dari musuh yang menyusup melalui internet.

Sebab, dengan ledakan yang terjadi di masjid SMAN 72 Jakarta, kita harus waspada. Mengingat pelakunya adalah murid yang merangkai peledaknya secara mandiri dengan panduan yang mereka dapatkan dari kanal Youtube dengan bebas.

Adapun pemicunya adalah keterasingan jiwa, baik dari keluarga maupun pergaulan teman-temannya. Dia tidak punya teman curhat atau sekedar bercengkerama.

Dia tidak memiliki ruang tengah untuk saling pandang dan sentuh secara nyata dengan sesamanya. Ruang tengah miliknya hanya diisi entitas dunia maya.

Karena itu, tugas kita hari ini bukan lagi merukunkan masyarakat lintas agama atau penghayat kepercayaan di Jombang. Kita sudah rukun sejak dulu kala. Yang perlu kita lakukan adalah menjaga “ruang tengah” itu dari serangan provokator digital: akun-akun yang kerjaannya menyusun narasi kebencian, menggosok-gosok luka sosial, dan menunggangi kecemasan publik.

Di Jombang, modal sosialnya sudah kuat. Tapi benteng sosial itu tetap perlu dijaga. Caranya.? Sederhana: menguatkan tradisi ngobrol, ngopi, dan ketemu langsung, karena obrolan tatap muka tidak punya fitur “anonim”.

Mengajarkan literasi digital di sekolah dan pesantren, bukan sekadar soal keamanan akun, tapi juga kemampuan mengenali manipulasi. Dan tentu saja, mencontohkan kewajaran (moderasi) dalam beragama.

Pada akhirnya, Jombang yang asyik bukan sekadar soal tidak ada konflik. Ia adalah cara hidup yang menolak berlebihan: tidak berlebihan dalam menghormati, tidak berlebihan dalam menentang, dan tidak berlebihan dalam merespons isu-isu yang sebenarnya hanya ingin membuat kita saling curiga.

Di tengah dunia yang semakin suka drama, Jombang memberi pelajaran kecil tapi penting: ketenangan itu menular.

Dan mungkin, kalau ketenangan itu terus dirawat, ia bisa menjadi vaksin sosial yang mencegah kita ikut tercebur dalam pusaran provokasi digital. Jombang tetap asyik bukan karena tidak ada masalah, tetapi karena masyarakatnya memilih jalan cerdas: merawat keguyuban tanpa mengabaikan kewaspadaan. Salam sehat penuh rahmat.

Advertisement

Artikel Terkait

Tak Sekadar Penghijauan, Desa Jombok Jombang Sulap Pinggir Jalan Jadi Kebun Buah Gratis

Tak Sekadar Penghijauan, Desa Jombok Jombang Sulap Pinggir Jalan Jadi Kebun Buah Gratis

Ruas jalan dan tanggul sungai di Desa Jombok, Kecamatan Ngoro, tak sekadar menjadi akses mobilitas warga. Beragam pohon buah tumbuh subur di sepanjang jalur tersebut. Saat berbuah, hasilnya boleh dinikmati

Tiga Perkara yang Dirahasiakan Allah, Jangan Remehkan Amal Kecil dan Sesama Manusia

Tiga Perkara yang Dirahasiakan Allah, Jangan Remehkan Amal Kecil dan Sesama Manusia

Saat ngaji usai salat Zuhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (5/11), pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Khoir, Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung, KH Miftahul Khoiri, menjelaskan hal yang dirahasi

Sopir Truk Hino Pemicu Kecelakaan Maut di Mojoagung Positif Sabu, Ini Kata Polisi

Sopir Truk Hino Pemicu Kecelakaan Maut di Mojoagung Positif Sabu, Ini Kata Polisi

Fakta baru terungkap dari kecelakaan maut yang melibatkan truk Hino dan Honda Beat di simpang tiga Ringroad Mojoagung, Desa Gambiran, Kecamatan Mojoagung.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer