Jumat, 03 Dec 2021
Radar Jombang
Home / Kota Santri
icon featured
Kota Santri

Binrohtal 1.297: Kunci Makrifat

25 November 2021, 18: 00: 40 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Binrohtal 1.297: Kunci Makrifat

Pengasuh Pesantren Falahul Muhibbin, Watugaluh, Diwek, KH Nurhadi (Mbah Bolong)

Share this      

Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Rabu (24/11), Pengasuh Pesantren Falahul Muhibbin, Watugaluh, Diwek, KH Nurhadi (Mbah Bolong), menjelaskan kunci makrifat. ’’Agar makrifat, kita harus kenal Allah subhanahu wa ta’ala,’’ tuturnya.

Mbah Bolong menjelaskan, setiap salat kita selalu membaca Fatihah. Pada ayat keenam kita berdoa; Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka.

’’Nikmat ini ada tiga,’’ kata Mbah Bolong. Pertama iman, kedua makrifat dan ketiga istiqamah.

Baca juga: Student Journalism: Beda Manusia dan Jin

Nah, untuk bisa makrifat, kita harus mengenal Allah SWT, melalui sifat-sifat-Nya. ’’Kita harus tahu sifat jalal Allah sehingga ada rasa takut dan berhenti maksiat,’’ tegasnya.

Takut kepada Allah beda dengan takut pada mercon. ’’Kalau takut mercon, maka kita menghindarinya,’’ jelasnya. Sebaliknya, jika kita takut kepada Allah SWT, maka kita harus semakin mendekat kepadaNya.

Mbah Bolong lalu mencontohkan sifat jalalnya Allah SWT. Suatu hari ada orang memperbanyak baca salawat di makam Nabi Muhammad sallallau alaihi wa sallam di Madinah. Lalu ada orang yang tidak menyukanya. Orang yang tidak suka ini lantas mengundangnya ke rumah untuk diajak makan. Begitu tiba di rumahnya, ternyata orang yang gemar membaca salawat tadi dipotong lidahnya.

Akhirnya, si pembaca salawat membawa potongan lidahnya ke makam Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Disitu dia munajat; Wahai Nabi, jika engkau juga tidak suka dengan salawat yang aku baca, maka biarkan aku tanpa lidah. Namun jika engka suka dengan salawat yang aku baca, maka tolonglah aku. Orang itu lantas mimpi didatangi Nabi Muhammad SAW. Dan nabi menyambung lidahnya. Begitu bangun, orang itu mendapati lidahnya telah tersambung kembali.

Tahun berikutnya, dia kembali memperbanyak salawat di makam nabi. Lalu datang pemuda mengajaknya makan di rumah. Ternyata, itu adalah rumah tempatnya dulu dipotong lidahnya. Si pemuda membenarkannya. Yang memotong dulu adalah ayahnya. Setelah memotong itu, ayahnya ngamuk dan berubah jadi kera sehingga sekarang di kurung. Si anak mengundangnya ke rumah dengan tujuan agar bapaknya dimaafkan. Setelah dimaafkan, bapaknya kembali jadi manusia dan mati.

Seperti itulah ketika Allah menunjukkan sifat jalalnya. ’’Kalau Allah menunjukkan sifat jalalnya, kita semua pasti habis karena dosa-dosa kita,’’ tegasnya. Dengan tahu sifat jalal Allah, kita harus takut maksiat. Meninggalkan dan menjauhi maksiat.

Namun kita juga harus tahu sifat jamal Allah SWT sehingga selalu punya harapan kepadaNya. Sebelum kita lahir, Allah sudah maha pengampun. Setelah kita mati, Allah juga tetap maha pengampun. Sebanyak apapun dosa kita, pasti akan diampuni oleh Allah SWT jika kita mau bertobat.

’’Antara khouf dan roja, takut kepada Allah dan berharap kepada Allah ini harus imbang,’’ pesan Mbah Bolong.

(jo/jif/jif/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia