alexametrics
22.5 C
Jombang
Saturday, June 25, 2022

Binrohtal 1437, Keutamaan Mencari nafkah

SAAT  ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Selasa (24/5), Pengasuh PP Hidayatul Quran, Sentul, Tembelang, Ustad Yusuf Hidayat Alhafid, menjelaskan keutaman mencari nafkah.

Mencari rezeki halal untuk melaksanakan kewajiban memberi nafkah keluarga termasuk jihad di jalan Alllah subhanahu wa ta’ala. ’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Sesungguhnya diantara dosa-dosa itu ada dosa yang tidak dapat dihapus oleh salat, puasa, haji, dan umrah, tetapi dapat terhapus oleh lelahnya seseorang dalam mencari nafkah,’’ tuturnya.

Ustad Yusuf cerita, suatu ketika Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam duduk bersama para sahabatnya. Mereka lalu melihat seorang pemuda, kulitnya nampak keras dan terlihat kuat, dan ia pagi-pagi pergi bekerja. Para sahabat membicarakannya; Sayang sekali pemuda ini! Andaikan masa muda dan kekuatannya digunakan di jalan Allah!

Baca Juga :  Jelang Muktamar NU, Berharap Kembali ke Khittah

Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam lalu bersabda; Kalian jangan berkata demikian! Jika seseorang bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya maka ia berada di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk kedua orang tua atau keturunannya yang lemah untuk kecukupan mereka, ia juga berada di jalan Allah. Dan jika ia bekerja untuk menyombongkan diri atau menumpuk-numpuk harta, maka ia sedang berada di jalan setan!

Luqman al-Hakim, seorang bijak yang namanya diabadikan dalam Alquran sebagai nama salah satu surah, pernah berwasiat pada anaknya. Wahai Anakku, cukupilah diri agar tidak fakir dengan pekerjaan yang halal. Sesungguhnya fakirnya seseorang menjadikan ia berpotensi mengalami tiga persoalan. Pertama, keyakinan yang rapuh. Kedua, akal yang lemah. Ketiga, hilangnya harga diri. Dan yang paling parah dari tiga hal tersebut adalah diremehkan orang banyak.

Baca Juga :  Toriqoh 186: Mulia karena Ilmu

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Barangsiapa yang di waktu sore merasa capek lelah lantaran pekerjaan kedua tangannya mencari nafkah, maka di saat itu diampuni dosa-dosanya.

Nabi juga bersabda; Tidak ada yang lebih baik dari usaha seorang laki-laki kecuali dari hasil tangannya alias bekerja sendiri. Dan apa saja yang dinafkahkan oleh seorang laki-laki kepada diri, istri, anak dan pembantunya adalah sedekah.

Nabi Musa alaihissalam mempekerjakan dirinya sebagai buruh selama delapan tahun untuk menjaga kehormatan dirinya dan untuk mendapatkan makanan halal bagi perutnya. (jif/riz)

 

- Advertisement -

SAAT  ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Selasa (24/5), Pengasuh PP Hidayatul Quran, Sentul, Tembelang, Ustad Yusuf Hidayat Alhafid, menjelaskan keutaman mencari nafkah.

Mencari rezeki halal untuk melaksanakan kewajiban memberi nafkah keluarga termasuk jihad di jalan Alllah subhanahu wa ta’ala. ’’Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Sesungguhnya diantara dosa-dosa itu ada dosa yang tidak dapat dihapus oleh salat, puasa, haji, dan umrah, tetapi dapat terhapus oleh lelahnya seseorang dalam mencari nafkah,’’ tuturnya.

Ustad Yusuf cerita, suatu ketika Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam duduk bersama para sahabatnya. Mereka lalu melihat seorang pemuda, kulitnya nampak keras dan terlihat kuat, dan ia pagi-pagi pergi bekerja. Para sahabat membicarakannya; Sayang sekali pemuda ini! Andaikan masa muda dan kekuatannya digunakan di jalan Allah!

Baca Juga :  Meningkatkan Derajat Puasa

Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam lalu bersabda; Kalian jangan berkata demikian! Jika seseorang bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya maka ia berada di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk kedua orang tua atau keturunannya yang lemah untuk kecukupan mereka, ia juga berada di jalan Allah. Dan jika ia bekerja untuk menyombongkan diri atau menumpuk-numpuk harta, maka ia sedang berada di jalan setan!

Luqman al-Hakim, seorang bijak yang namanya diabadikan dalam Alquran sebagai nama salah satu surah, pernah berwasiat pada anaknya. Wahai Anakku, cukupilah diri agar tidak fakir dengan pekerjaan yang halal. Sesungguhnya fakirnya seseorang menjadikan ia berpotensi mengalami tiga persoalan. Pertama, keyakinan yang rapuh. Kedua, akal yang lemah. Ketiga, hilangnya harga diri. Dan yang paling parah dari tiga hal tersebut adalah diremehkan orang banyak.

Baca Juga :  Atsar Ramadan

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam bersabda; Barangsiapa yang di waktu sore merasa capek lelah lantaran pekerjaan kedua tangannya mencari nafkah, maka di saat itu diampuni dosa-dosanya.

- Advertisement -

Nabi juga bersabda; Tidak ada yang lebih baik dari usaha seorang laki-laki kecuali dari hasil tangannya alias bekerja sendiri. Dan apa saja yang dinafkahkan oleh seorang laki-laki kepada diri, istri, anak dan pembantunya adalah sedekah.

Nabi Musa alaihissalam mempekerjakan dirinya sebagai buruh selama delapan tahun untuk menjaga kehormatan dirinya dan untuk mendapatkan makanan halal bagi perutnya. (jif/riz)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/