alexametrics
31.5 C
Jombang
Wednesday, August 10, 2022

Masjid Al Awwabin Jatirejo, Dulunya Dikenal sebagai Musala Maling

Resminya, Masjid Al Awwabin Dusun Jatirejo Barat, Desa Jatirejo, Kecamatan Diwek berdiri pada 1984. Puluhan tahun sebelumnya, masjid ini masih berupa musala. ’’Sesuai akta, berdirinya masjid ini 1984,’’ kata KH Moh Irfan, 52, ketua takmir Masjid Al Awwabin saat ditemui, Rabu (23/2).

Lokasi masjid ini sangat strategis. Berada di pinggir jalan desa dan di kompleks PP Mambaul Hikam. Alhasil, santri dan masyarakat bisa menggunakannya secara bersama-sama. Pada Rabu (23/2) sore, di masjid terlihat ada sejumlah santri tengah duduk melingkar. Mereka tengah asyik menngaji dibimbing seorang ustad. ’’Sore, malam dan habis Subuh, santri ada jadwal ngaji di masjid ini,’’ ucap Gus Irfan, sapaan KH Moh Irfan.

Bangunan masjid sekarang ini sangat luas. Ukurannya 13 meter X 17 meter. sehingga bisa menampung hingga ratusan jamaah. ’’Lantai duanya juga sama, ukurannya segitu,’’ jelasnya.

Gus Irfan menambahkan, sebelum menjadi bangunan masjid seperti sekarang, dulunya masih berupa musala. Ukurannya pun lebih kecil. ’’Sebelum menjadi masjid, ini dulu musala,’’ ucap Gus Irfan didampingi tiga jamaah tertua, Husen, 73, Basuni, 73 dan Solihin, 74.

Sayangnya di antara mereka, tidak ada yang tahu, kapan pastinya tahun pendirian musala yang menjadi cikal bakal masjid. ’’1957 ketika saya kecil, musalanya sudah ada,’’ kata Husen.

Kala itu, musalanya masih berbentuk angkringan atau rumah kayu. Lantainya galar yang terbuat dari bambu. ’’Waktu loncat naik, saya pernah terperosok, sehingga kaki saya luka,’’ ucap Husen sembari menunjukkan bekas luka di betisnya.

Baca Juga :  Jemari yang Dirindukan Surga

Saat itu, ukuran musala angkring sangat kecil. ’’Sekitar empat meter persegi,’’ ujar Husen. Yang wakaf tanahnya, suami istri Kasban dan Saripah.

Pada 1965 pasca G30S/PKI, jamaah membeludak. karena luas bangunan terbatas, sehingga musala angkringan tidak mampu menampung seluruh jamaah. Sehingga oleh masyarakat akhirnya direhab menjadi lebih luas. ’’Ukurannya sekitar 6 meter persegi,’’ terangnya. Namun dindingnya masih gedeg.

Pada 1969, musala kembali direhab. ’’Kali ini dindingnya tembok,’’ ungkap Husen.

Setelah itu, musala sering dipakai tidur maling. ’’Maling yang dari sini cuma satu, tapi ngajak dari daerah-daerah lain,’’ bebernya. Hingga akhirnya dijuluki musala maling. ’’Dulu ada orang Seblak namanya Pak Rodin. Setiap Subuh, maling-maling itu dibangunkan diajak salat Subuh,’’ jelas Husen.

Pada peristiwa penembakan misterius (Petrus) 1982-1985, maling-maling itu ikut menjadi korban. Sehingga setelahnya, tak ada lagi maling yang tidur di musala.

Pada 1983, KH Zubaidi Muslih mulai menempati rumah di selatan musala. Kiai Zubaidi merintis PP Mambaul Hikam dengan tiga santri.

’’Pada 1984, Kiai Zubaidi mengumpulkan masyarakat untuk membangun masjid,’’ jelasnya. Sejak itulah musala berganti menjadi masjid hingga sekarang ini.

Baca Juga :  Student Journalism: Jodoh Cerminan Diri

Pada 2002, bangunan masjid diperbesar dan ditambah satu lantai di atas. Atap Masjid Al Awwabin susun tiga seperti umumnya masjid peninggalan Wali Songo. Tiga cungkup itu menyiratkan Islam, iman dan ihsan.

 

Kentongan Berusai Lebih 50 Tahun

Di Masjid Al Awwabin Dusun Jatirejo Barat, Desa Jatirejo, Kecamatan Diwek ada kentongan lawas. Umurnya lebih dari 50 tahun. ’’Saya kecil sekitar 1957, kentongan itu sudah ada,’’ kata Husen,73, jamaah Masjid Al Awwabin.

Kentongan itu terbuat dari kayu nangka. ’’Karena peninggalan lama, kentongan itu kita simpan,’’ ujar KH Moh Irfan, ketua takmir Masjid Al Awwabin. Sebab hanya itu yang tersisa dari peninggalan musala lama.

Gus Irfan menjelaskan, yang memberi nama Masjid Al Awwabin adalah KH Adlan Aly Cukir. ’’Harapannya, agar siapapun yang ke masjid menjadi tobat dan semakin lama semakin baik,’’ urainya.

Dalam kitab Sirojut Tolibin karya Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Jampes syarah Minjahul Abidin karya Imam Ghozali disebutkan tiga tingkatan taubat. Pertama taubat, yakni taubat karena takut siksa. Kedua inabah, taubat karena ingin mendapatkan pahala. Ketiga atau yang tertinggi adalah aubah, orangnya disebut awwabin. Yakni taubat murni karena Allah subhanahu wa ta’ala. Bukan karena takut siksa. Juga bukan karena mengharap pahala.

- Advertisement -

Resminya, Masjid Al Awwabin Dusun Jatirejo Barat, Desa Jatirejo, Kecamatan Diwek berdiri pada 1984. Puluhan tahun sebelumnya, masjid ini masih berupa musala. ’’Sesuai akta, berdirinya masjid ini 1984,’’ kata KH Moh Irfan, 52, ketua takmir Masjid Al Awwabin saat ditemui, Rabu (23/2).

Lokasi masjid ini sangat strategis. Berada di pinggir jalan desa dan di kompleks PP Mambaul Hikam. Alhasil, santri dan masyarakat bisa menggunakannya secara bersama-sama. Pada Rabu (23/2) sore, di masjid terlihat ada sejumlah santri tengah duduk melingkar. Mereka tengah asyik menngaji dibimbing seorang ustad. ’’Sore, malam dan habis Subuh, santri ada jadwal ngaji di masjid ini,’’ ucap Gus Irfan, sapaan KH Moh Irfan.

Bangunan masjid sekarang ini sangat luas. Ukurannya 13 meter X 17 meter. sehingga bisa menampung hingga ratusan jamaah. ’’Lantai duanya juga sama, ukurannya segitu,’’ jelasnya.

Gus Irfan menambahkan, sebelum menjadi bangunan masjid seperti sekarang, dulunya masih berupa musala. Ukurannya pun lebih kecil. ’’Sebelum menjadi masjid, ini dulu musala,’’ ucap Gus Irfan didampingi tiga jamaah tertua, Husen, 73, Basuni, 73 dan Solihin, 74.

Sayangnya di antara mereka, tidak ada yang tahu, kapan pastinya tahun pendirian musala yang menjadi cikal bakal masjid. ’’1957 ketika saya kecil, musalanya sudah ada,’’ kata Husen.

Kala itu, musalanya masih berbentuk angkringan atau rumah kayu. Lantainya galar yang terbuat dari bambu. ’’Waktu loncat naik, saya pernah terperosok, sehingga kaki saya luka,’’ ucap Husen sembari menunjukkan bekas luka di betisnya.

Baca Juga :  Binrohtal 1.306: Tiga Macam Musibah
- Advertisement -

Saat itu, ukuran musala angkring sangat kecil. ’’Sekitar empat meter persegi,’’ ujar Husen. Yang wakaf tanahnya, suami istri Kasban dan Saripah.

Pada 1965 pasca G30S/PKI, jamaah membeludak. karena luas bangunan terbatas, sehingga musala angkringan tidak mampu menampung seluruh jamaah. Sehingga oleh masyarakat akhirnya direhab menjadi lebih luas. ’’Ukurannya sekitar 6 meter persegi,’’ terangnya. Namun dindingnya masih gedeg.

Pada 1969, musala kembali direhab. ’’Kali ini dindingnya tembok,’’ ungkap Husen.

Setelah itu, musala sering dipakai tidur maling. ’’Maling yang dari sini cuma satu, tapi ngajak dari daerah-daerah lain,’’ bebernya. Hingga akhirnya dijuluki musala maling. ’’Dulu ada orang Seblak namanya Pak Rodin. Setiap Subuh, maling-maling itu dibangunkan diajak salat Subuh,’’ jelas Husen.

Pada peristiwa penembakan misterius (Petrus) 1982-1985, maling-maling itu ikut menjadi korban. Sehingga setelahnya, tak ada lagi maling yang tidur di musala.

Pada 1983, KH Zubaidi Muslih mulai menempati rumah di selatan musala. Kiai Zubaidi merintis PP Mambaul Hikam dengan tiga santri.

’’Pada 1984, Kiai Zubaidi mengumpulkan masyarakat untuk membangun masjid,’’ jelasnya. Sejak itulah musala berganti menjadi masjid hingga sekarang ini.

Baca Juga :  Ingin Memuliakan Alquran

Pada 2002, bangunan masjid diperbesar dan ditambah satu lantai di atas. Atap Masjid Al Awwabin susun tiga seperti umumnya masjid peninggalan Wali Songo. Tiga cungkup itu menyiratkan Islam, iman dan ihsan.

 

Kentongan Berusai Lebih 50 Tahun

Di Masjid Al Awwabin Dusun Jatirejo Barat, Desa Jatirejo, Kecamatan Diwek ada kentongan lawas. Umurnya lebih dari 50 tahun. ’’Saya kecil sekitar 1957, kentongan itu sudah ada,’’ kata Husen,73, jamaah Masjid Al Awwabin.

Kentongan itu terbuat dari kayu nangka. ’’Karena peninggalan lama, kentongan itu kita simpan,’’ ujar KH Moh Irfan, ketua takmir Masjid Al Awwabin. Sebab hanya itu yang tersisa dari peninggalan musala lama.

Gus Irfan menjelaskan, yang memberi nama Masjid Al Awwabin adalah KH Adlan Aly Cukir. ’’Harapannya, agar siapapun yang ke masjid menjadi tobat dan semakin lama semakin baik,’’ urainya.

Dalam kitab Sirojut Tolibin karya Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Jampes syarah Minjahul Abidin karya Imam Ghozali disebutkan tiga tingkatan taubat. Pertama taubat, yakni taubat karena takut siksa. Kedua inabah, taubat karena ingin mendapatkan pahala. Ketiga atau yang tertinggi adalah aubah, orangnya disebut awwabin. Yakni taubat murni karena Allah subhanahu wa ta’ala. Bukan karena takut siksa. Juga bukan karena mengharap pahala.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/