alexametrics
23 C
Jombang
Wednesday, June 29, 2022

Masjid At-Taqwa, Masjid Bersejarah yang punya Konsep Mandiri Ekonomi

JOMBANG – Masjid At-Taqwa yang terletak di Dusun Sumoyono, Desa Cukir, Kecamatan Diwek memiliki sejarah panjang. Masjid ini dulunya merupakan musala panggung yang dibangun sekitar 1945. Masjid ini, juga punya konsep sangat bagus untuk memakmurkan masjid dengan keuangan yang mandiri.

Khoirul Abidin, 42, ketua takmir masjid menceritakan, masjid ini berdiri di atas tanah wakaf salah satu warga bernama Sakiban. ”Dulunya belum masjid, namun musala panggung yang dibangun masyarakat Dusun Sumoyono,’’ ujar dia ditemui Jawa Pos Radar Jombang kemarin (23/6).

Kemudian, karena jumlah jamaah terus bertambah akhirnya musala tersebut dibangun menjadi masjid tahun 1971. ”Kita renovasi termasuk memperluas area masjid,’’ tambahnya.

Baca Juga :  Masjid Al Karim, Masjid Berarsitektur Perpaduan Jawa Timur dan Jawa Tengah

Tak berhenti di situ, panitia setempat kembali merenovasi masjid untuk yang kedua kalinya tahun 1983. ”Tahun 1983, kita bangun serambi masjid,’’ terangnya.

Terakhir, masjid At Taqwa kembali direnovasi yang ketiga kalinya tahun 2000-an. Ada beberapa perubahan mencolok khususnya pemasangan keramik di dinding masjid. Namun, sejak awal konsep kesederhanaan masjid ini tak berubah. ”Memang masjid ini memiliki konsep sederhana,’’ papar dia.

Pantauan di lokasi, masjid ini berada di tengah kawasan permukiman warga Dusun Sumoyono. Masjid ini memiliki halaman dan area pekarangan kebun yang cukup luas. Ia mencatat, total luas tanah yang sudah bersertifikat 365 m2 dan yang belum bersertifikat 2.100 m2. ”Kalau luas bangunan utama sendiri 5 x 19 m,’’ jelas dia.

Baca Juga :  SMAN Kesamben Bangun Masjid Konsep Majaphitan yang Dilengkapi Kolam Ikan

Serambi masjid ini memiliki banyak tiang penyangga. Kemudian, atap masjid memiliki gaya atap tumpang mirip atap masjid khas Demak.

Masjid tersebut, tak hanya dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan keagamaan, namun juga pusat kegiatan masyarakat. Di antaranya, pengajian kitab setiap Ramadan, pengajian rutin malam Jumat Pahing bersama KH Nurhadi (Mbah Bolong), pembacaan shalawat nabi setiap malam Jumat legi, kajian fikih setiap Minggu sore, kultum subuh setiap Rabu pagi, pembinaan seni baca Alquran setiap Sabtu siang. ”Ada juga kegiatan peringatan hari besar Islam lainnya,’’ pungkasnya.

Selanjutnya….






Reporter: Anggi Fridianto
- Advertisement -

JOMBANG – Masjid At-Taqwa yang terletak di Dusun Sumoyono, Desa Cukir, Kecamatan Diwek memiliki sejarah panjang. Masjid ini dulunya merupakan musala panggung yang dibangun sekitar 1945. Masjid ini, juga punya konsep sangat bagus untuk memakmurkan masjid dengan keuangan yang mandiri.

Khoirul Abidin, 42, ketua takmir masjid menceritakan, masjid ini berdiri di atas tanah wakaf salah satu warga bernama Sakiban. ”Dulunya belum masjid, namun musala panggung yang dibangun masyarakat Dusun Sumoyono,’’ ujar dia ditemui Jawa Pos Radar Jombang kemarin (23/6).

Kemudian, karena jumlah jamaah terus bertambah akhirnya musala tersebut dibangun menjadi masjid tahun 1971. ”Kita renovasi termasuk memperluas area masjid,’’ tambahnya.

Baca Juga :  Masjid Jami Keramat Al Amien Desa Brodot, Dipercaya Ada sejak 1923

Tak berhenti di situ, panitia setempat kembali merenovasi masjid untuk yang kedua kalinya tahun 1983. ”Tahun 1983, kita bangun serambi masjid,’’ terangnya.

Terakhir, masjid At Taqwa kembali direnovasi yang ketiga kalinya tahun 2000-an. Ada beberapa perubahan mencolok khususnya pemasangan keramik di dinding masjid. Namun, sejak awal konsep kesederhanaan masjid ini tak berubah. ”Memang masjid ini memiliki konsep sederhana,’’ papar dia.

Pantauan di lokasi, masjid ini berada di tengah kawasan permukiman warga Dusun Sumoyono. Masjid ini memiliki halaman dan area pekarangan kebun yang cukup luas. Ia mencatat, total luas tanah yang sudah bersertifikat 365 m2 dan yang belum bersertifikat 2.100 m2. ”Kalau luas bangunan utama sendiri 5 x 19 m,’’ jelas dia.

Baca Juga :  Student Journalism: Akibat Cinta Dunia
- Advertisement -

Serambi masjid ini memiliki banyak tiang penyangga. Kemudian, atap masjid memiliki gaya atap tumpang mirip atap masjid khas Demak.

Masjid tersebut, tak hanya dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan keagamaan, namun juga pusat kegiatan masyarakat. Di antaranya, pengajian kitab setiap Ramadan, pengajian rutin malam Jumat Pahing bersama KH Nurhadi (Mbah Bolong), pembacaan shalawat nabi setiap malam Jumat legi, kajian fikih setiap Minggu sore, kultum subuh setiap Rabu pagi, pembinaan seni baca Alquran setiap Sabtu siang. ”Ada juga kegiatan peringatan hari besar Islam lainnya,’’ pungkasnya.

Selanjutnya….






Reporter: Anggi Fridianto

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/