alexametrics
22.4 C
Jombang
Saturday, June 25, 2022

Toriqoh 182: Nafsu Musuh Terbesar

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso sekaligus Ketua MUI Jombang, KH Cholil Dahlan, mengingatkan pentingnya mengendalikan nafsu. Karena nafsu adalah musuh terbesar. ’’Ahli hikmah mengatakan, orang yang menyangka bahwa ada musuh yang lebih besar dibanding nafsu, berarti dia tidak mengenal nafsu,’’ tuturnya.

Kiai Cholil lalu menjelaskan tiga macam nafsu. Pertama, nafsu ammarah bissu, yang mengajak kejelekan. Nafsu ini sangat berbahaya apabila melekat pada diri seseorang manusia. Nafsu ini mengarahkan manusia kepada perbuatan dan perilaku yang dilarang agama.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam QS Yusuf 53. Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Imam Syafii menyatakan, nafsumu jika tidak kamu sibukkan dengan hal-hal yang baik, akan menyibukkan kamu dengan hal-hal yang batil.

Inilah sebabnya warga tariqah dibimbing zikir dengan kaifiah dan haiah tertentu untuk membersihkan nafsu. Agar nafsu bisa dikendalikan. Bukan sebaliknya, diri kita yang dikendalikan oleh nafsu.

Baca Juga :  Pasutri Bandar Narkoba asal Jombang Hadapi Sidang Tuntutan dan Vonis

Kiai Cholil menjelaskan, setiap kita melakukan dosa dan maksiat mengikuti nafsu, di hati kita akan muncul noda hitam. Semakin banyak noda hitam dalam hati, maka cahaya ilahi dalam hati akan tertutup. Sehingga akhirnya, semua organ tubuh akan condong mengikuti nafsu.

Zikir itu menghapus noda dosa. Orang yang banyak zikir, hatinya akan bersih dari noda. Sehingga cahaya ilahi di hatinya akan terang. Ini akan membuat semua organ mencerminkan zikir.

Kedua, nafsu lawwamah. ’’Nafsu lawwamah yakni nafsu yang mencegah orang berbuat baik,’’ kata Kiai Cholil. Nafsu ini akan membuat pemiliknya menyesal di akhirat nanti. Menyesal karena tidak berbuat baik. Sebagaimana disebutkan dalam QS Alqiyamah 2. Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri.

Orang yang mengikuti nafsu lawwamah, kelak akan menyesal di akhirat. Karena kebaikannya lebih sedikit dibanding keburukannya. ’’Kita harus melawan nafsu lawwamah dengan bergegas melakukan kebaikan,’’ urai Kiai Cholil.

Baca Juga :  Bersukacita karena Tuhan

Ketiga, nafsu mutmainnah. Nafsu yang telah mencapai ketenangan, nafsu yang dapat dikendalikan oleh akal sehat. Nafsu ini telah mendapat rahmat Allah SWT. Manusia yang mendapatkan nafsu ini akan mendapat rida Allah SWT di dunia dan akhirat. Orang ini akan husnul khatimah  di akhir hidupnya.

Sebagaimana disebutkan dalam QS Alfajr 27-30. Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridaiNya. Maka masuklah ke dalam hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu.

Warga tariqah dibimbing agar masuk kategori ini. Dengan kaifiah dan haiah zikir yang dibimbing mursyid, warga toriqoh akan mudah memasukkan zikir ke dalam hati.

Jika hati sudah dimasuki zikir, maka mata melihat diserta zikir. Telinga mendengar disertai zikir. Lisan berucap disertai zikir. Semua organ akan diwarnai zikir. Sehingga bisa menunggangi nafsu untuk meraih rida Allah subhanahu wa ta’ala.

- Advertisement -

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso sekaligus Ketua MUI Jombang, KH Cholil Dahlan, mengingatkan pentingnya mengendalikan nafsu. Karena nafsu adalah musuh terbesar. ’’Ahli hikmah mengatakan, orang yang menyangka bahwa ada musuh yang lebih besar dibanding nafsu, berarti dia tidak mengenal nafsu,’’ tuturnya.

Kiai Cholil lalu menjelaskan tiga macam nafsu. Pertama, nafsu ammarah bissu, yang mengajak kejelekan. Nafsu ini sangat berbahaya apabila melekat pada diri seseorang manusia. Nafsu ini mengarahkan manusia kepada perbuatan dan perilaku yang dilarang agama.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam QS Yusuf 53. Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Imam Syafii menyatakan, nafsumu jika tidak kamu sibukkan dengan hal-hal yang baik, akan menyibukkan kamu dengan hal-hal yang batil.

Inilah sebabnya warga tariqah dibimbing zikir dengan kaifiah dan haiah tertentu untuk membersihkan nafsu. Agar nafsu bisa dikendalikan. Bukan sebaliknya, diri kita yang dikendalikan oleh nafsu.

Baca Juga :  Puluhan ASN di Jombang Masih Jalani Isoman Akibat Terpapar Covid - 19

Kiai Cholil menjelaskan, setiap kita melakukan dosa dan maksiat mengikuti nafsu, di hati kita akan muncul noda hitam. Semakin banyak noda hitam dalam hati, maka cahaya ilahi dalam hati akan tertutup. Sehingga akhirnya, semua organ tubuh akan condong mengikuti nafsu.

- Advertisement -

Zikir itu menghapus noda dosa. Orang yang banyak zikir, hatinya akan bersih dari noda. Sehingga cahaya ilahi di hatinya akan terang. Ini akan membuat semua organ mencerminkan zikir.

Kedua, nafsu lawwamah. ’’Nafsu lawwamah yakni nafsu yang mencegah orang berbuat baik,’’ kata Kiai Cholil. Nafsu ini akan membuat pemiliknya menyesal di akhirat nanti. Menyesal karena tidak berbuat baik. Sebagaimana disebutkan dalam QS Alqiyamah 2. Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri.

Orang yang mengikuti nafsu lawwamah, kelak akan menyesal di akhirat. Karena kebaikannya lebih sedikit dibanding keburukannya. ’’Kita harus melawan nafsu lawwamah dengan bergegas melakukan kebaikan,’’ urai Kiai Cholil.

Baca Juga :  Student Journalism: Faedah Bergaul

Ketiga, nafsu mutmainnah. Nafsu yang telah mencapai ketenangan, nafsu yang dapat dikendalikan oleh akal sehat. Nafsu ini telah mendapat rahmat Allah SWT. Manusia yang mendapatkan nafsu ini akan mendapat rida Allah SWT di dunia dan akhirat. Orang ini akan husnul khatimah  di akhir hidupnya.

Sebagaimana disebutkan dalam QS Alfajr 27-30. Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridaiNya. Maka masuklah ke dalam hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu.

Warga tariqah dibimbing agar masuk kategori ini. Dengan kaifiah dan haiah zikir yang dibimbing mursyid, warga toriqoh akan mudah memasukkan zikir ke dalam hati.

Jika hati sudah dimasuki zikir, maka mata melihat diserta zikir. Telinga mendengar disertai zikir. Lisan berucap disertai zikir. Semua organ akan diwarnai zikir. Sehingga bisa menunggangi nafsu untuk meraih rida Allah subhanahu wa ta’ala.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/