alexametrics
29.2 C
Jombang
Monday, September 26, 2022

Masjid Pondok Tua di Jogoroto ini Sempat Jadi Tempat Ngaji KH Hasyim Asy’ari

JOMBANG – Masjid Almanshur di Dusun/Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto termasuk masjid tua. Usianya sudah lebih satu abad. Bahkan, masjid ini disebut-sebut sempat jadi tempat KH Hasyim Asy’ari mengaji dan menimba ilmu.

”Berdirinya hampir bersamaan dengan Pondok Pesantren Midanutta’lim Mayangan. Karena untuk mendukung kegiatan pesantren, pasti ada masjid,” kata Gus M Ali Imron, Ketua Takmir Masjid Almanshur.

PP Midanutta’lim berdiri sekitar tahun 1830. Pendirinya Kiai Hafidz yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Kampil.  Mulanya, Mbah Kampil mengajar di sebuah musala kecil yang terbuat dari bambu.

Sepeninggal Mbah Kampil, pesantren dilanjutkan KH Nur Syam, mulai 1860 sampai dengan 1902. Pada periode ini sudah tampak perkembangannya. Masyarakat yang ngaji semakin banyak. Baik anak-anak maupun dewasa. Meski belum klasikal.

Baca Juga :  Sudah Dinonaktifkan, AH Juga Terancam Diberhentikan dari Jabatannya

Setelah itu, dilanjutkan menantunya, KH Manshur, mulai 1902 hingga 1936. Pada periode ini, perkembangan pesantren semakin pesat. Lokasi pesantren sudah seperti yang ada sekarang ini. Pembangunannya dimulai 1905 yang dilengkapi pula dengan sebuah langgar tempat ibadah. Inilah cikal bakal Masjid Almanshur. ”KH Hasyim Asy’ari pernah belajar kitab Ibnu Aqil dari KH Manshur,” terangnya. Kemungkinan ngajinya hanya tabarukan. Karena kala itu KH Hasyim Asy’ari sudah alim.

Sepeninggal KH Manshur, pesantren dilanjutkan putranya, KH Minhajut Tullab mulai 1936. Pada masa ini mulai ada pendidikan formal berbentuk madrasah. ”Bangunan awal Masjid Almanshur masih kita pertahankan,” kata Gus Ali Imron. Ukurannya 5X5 meter persegi. Ditandai keramik warna kuning. ”Orang dulu membangunnya penuh perjuangan,” kata Gus Miftah, Kepala MI Midanutta’lim.

Baca Juga :  SMAN 1 Jombang Isi MPLS dengan Game Kebersamaan dan Demo Ekstrakulikuler

Keramik bangunan lawas ada lima baris. ”Untuk tiga barisnya saja, zaman dulu membutuhkan dana senilai sawah banon seratus (1.400 meter persegi, Red),” bebernya. Masjid Almanshur sudah beberapa kali direnovasi. Dari bangunan awal 5×5 meter, kini 12×14 meter. Juga ada bangunan lantai dua. ”Lantai duanya untuk kamar santri,” jelasnya.

JOMBANG – Masjid Almanshur di Dusun/Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto termasuk masjid tua. Usianya sudah lebih satu abad. Bahkan, masjid ini disebut-sebut sempat jadi tempat KH Hasyim Asy’ari mengaji dan menimba ilmu.

”Berdirinya hampir bersamaan dengan Pondok Pesantren Midanutta’lim Mayangan. Karena untuk mendukung kegiatan pesantren, pasti ada masjid,” kata Gus M Ali Imron, Ketua Takmir Masjid Almanshur.

PP Midanutta’lim berdiri sekitar tahun 1830. Pendirinya Kiai Hafidz yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Kampil.  Mulanya, Mbah Kampil mengajar di sebuah musala kecil yang terbuat dari bambu.

Sepeninggal Mbah Kampil, pesantren dilanjutkan KH Nur Syam, mulai 1860 sampai dengan 1902. Pada periode ini sudah tampak perkembangannya. Masyarakat yang ngaji semakin banyak. Baik anak-anak maupun dewasa. Meski belum klasikal.

Baca Juga :  Student Journalism: Bukti Iman

Setelah itu, dilanjutkan menantunya, KH Manshur, mulai 1902 hingga 1936. Pada periode ini, perkembangan pesantren semakin pesat. Lokasi pesantren sudah seperti yang ada sekarang ini. Pembangunannya dimulai 1905 yang dilengkapi pula dengan sebuah langgar tempat ibadah. Inilah cikal bakal Masjid Almanshur. ”KH Hasyim Asy’ari pernah belajar kitab Ibnu Aqil dari KH Manshur,” terangnya. Kemungkinan ngajinya hanya tabarukan. Karena kala itu KH Hasyim Asy’ari sudah alim.

Sepeninggal KH Manshur, pesantren dilanjutkan putranya, KH Minhajut Tullab mulai 1936. Pada masa ini mulai ada pendidikan formal berbentuk madrasah. ”Bangunan awal Masjid Almanshur masih kita pertahankan,” kata Gus Ali Imron. Ukurannya 5X5 meter persegi. Ditandai keramik warna kuning. ”Orang dulu membangunnya penuh perjuangan,” kata Gus Miftah, Kepala MI Midanutta’lim.

Baca Juga :  Ziarah dan Berdoa untuk Guru

Keramik bangunan lawas ada lima baris. ”Untuk tiga barisnya saja, zaman dulu membutuhkan dana senilai sawah banon seratus (1.400 meter persegi, Red),” bebernya. Masjid Almanshur sudah beberapa kali direnovasi. Dari bangunan awal 5×5 meter, kini 12×14 meter. Juga ada bangunan lantai dua. ”Lantai duanya untuk kamar santri,” jelasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/