alexametrics
29.2 C
Jombang
Monday, September 26, 2022

Binrohtal 1.527, Waspada Buruknya Akhir Hidup

JOMBANG – Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Selasa (20/9), Pengasuh PP Hidayatul Quran, Sentul, Tembelang, Ustad Yusuf Hidayat Alhafid, menjelaskan pentingnya khusnul khatimah. Yakni mengakhiri hidup dalam kondisi taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

’’Sebagai muslim sejati, tentu ada harapan besar untuk bisa mengakhiri kehidupan di dunia ini dengan akhir yang baik atau khusnul khatimah,’’ tuturnya. Sebaliknya, kita khawatir mati dalam keadaan yang buruk ataul su’ul khatimah. Kita khawatir mati dalam kondisi maksiat kepada Allah SWT. Takut mati di tempat maksiat meski tidak ikut melakukan maksiat.

’’Imam Al-Ghazali menceritakan, para nabi dan para wali takut menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan kufur kepada Allah SWT,’’ tegasnya.  Nabi Isa Al-Masih alaihissalam berkata; Wahai Hawariyyin, kalian takut sekali pada maksiat. Sedangkan kami para nabi takut benar pada kekufuran.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah mengirim pasukan kaum muslimin ke wilayah Romawi untuk berperang. Mereka kalah dan ada 20 orang yang tertawan musuh. Kaisar Romawi memerintahkan salah seorang dari tawanan itu untuk masuk ke agamanya dan menyembah patung.

Baca Juga :  Binrohtal 1.438, Wasilah dengan Nabi

la berkata, Jika engkau mau masuk agamaku dan bersujud kepada berhala, aku akan mengangkatmu menjadi penguasa di sebuah negeri yang luas. Aku juga akan memberimu berbagai macam panji-panji, jubah kebesaran, mahkota dan sebuah terompet kemuliaan.

Tapi, jika engkau menolak masuk agamaku, maka akan kubunuh kau dengan cara memenggal lehermu. Tawanan itu menjawab, Aku tidak akan menjual agamaku dengan dunia.

Maka kaisar memerintahkan agar tawanan itu dibunuh. Eksekusi dilaksanakan di tengah lapangan luas. Leher prajurit itu dipenggal. Setelah putus, kepala orang itu menggelinding dan membaca QS Alfajr 27-30. Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah engkau kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai. Masuklah engkau ke golongan hamba hambaKu, dan masuklah engkau ke surga-Ku.

Kaisar murka. Didatangkan lagi tawanan yang lain. Namun dia juga menolak ajakan pindah agama. ’’Aku tidak akan menjual agamaku demi dunia. Engkau bisa memenggal leherku, tapi engkau tidak akan bisa memenggal keimananku,’’ tegasnya. Dia lantas dipenggal. Kepalanya menggelinding sambil membaca QS Alhaqqah 19-23. Maka ia dalam kehidupan yang diridai dalam surga yang tinggi dan dahan ranting yang dekat.

Baca Juga :  Binrohtal 1.479, Menghindari Sombong

Kepala itu bersanding dengan kepala tawanan pertama. Kaisar yang murka lalu mendatangkan prajurit ketiga. Orang ini menyerah dan berkata; Aku bersedia masuk agamamu. Aku lebih memilih dunia daripada akhirat.

Kaisar hendak memberinya jabatan. Tapi menterinya menyela; Wahai Raja, bagaimana kita memberinya jabatan tanpa ia diuji lebih dulu. Prajurit itu lalu diminta membunuh salah satu temannya. Tawanan ketiga ini ternyata setuju. Ia menarik salah seorang temannya dan membunuhnya.

Setelah itu, kaisar hendaknya memberinya jabatan. Namun lagi-lagi menterinya memberi masukan, Tawanan ini sudah tidak mau lagi memelihara hak saudaranya yang dia lahir dan dibesarkan bersamanya. Bagaimanakah dia akan dapat memelihara hak kita?

Kaisar Romawi lantas memerintahkan untuk memenggal lehernya.  Kepalanya berputar mengelilingi alun-alun sambil membaca  QS Azzumar 19. Apakah kamu hendak mengubah nasib orang- orang yang telah pasti ketentuan azab atasnya? Apakah kamu akan menyelamatkan orang-orang yang berada dalam api neraka? Kepala tawanan ini tidak berkumpul dengan dua kepala temannya. Dia kembali menuju siksa Allah subhanahu wa ta’ala. (jif/naz/riz)

 

JOMBANG – Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Selasa (20/9), Pengasuh PP Hidayatul Quran, Sentul, Tembelang, Ustad Yusuf Hidayat Alhafid, menjelaskan pentingnya khusnul khatimah. Yakni mengakhiri hidup dalam kondisi taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

’’Sebagai muslim sejati, tentu ada harapan besar untuk bisa mengakhiri kehidupan di dunia ini dengan akhir yang baik atau khusnul khatimah,’’ tuturnya. Sebaliknya, kita khawatir mati dalam keadaan yang buruk ataul su’ul khatimah. Kita khawatir mati dalam kondisi maksiat kepada Allah SWT. Takut mati di tempat maksiat meski tidak ikut melakukan maksiat.

’’Imam Al-Ghazali menceritakan, para nabi dan para wali takut menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan kufur kepada Allah SWT,’’ tegasnya.  Nabi Isa Al-Masih alaihissalam berkata; Wahai Hawariyyin, kalian takut sekali pada maksiat. Sedangkan kami para nabi takut benar pada kekufuran.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah mengirim pasukan kaum muslimin ke wilayah Romawi untuk berperang. Mereka kalah dan ada 20 orang yang tertawan musuh. Kaisar Romawi memerintahkan salah seorang dari tawanan itu untuk masuk ke agamanya dan menyembah patung.

Baca Juga :  Binrohtal 1.479, Menghindari Sombong

la berkata, Jika engkau mau masuk agamaku dan bersujud kepada berhala, aku akan mengangkatmu menjadi penguasa di sebuah negeri yang luas. Aku juga akan memberimu berbagai macam panji-panji, jubah kebesaran, mahkota dan sebuah terompet kemuliaan.

Tapi, jika engkau menolak masuk agamaku, maka akan kubunuh kau dengan cara memenggal lehermu. Tawanan itu menjawab, Aku tidak akan menjual agamaku dengan dunia.

Maka kaisar memerintahkan agar tawanan itu dibunuh. Eksekusi dilaksanakan di tengah lapangan luas. Leher prajurit itu dipenggal. Setelah putus, kepala orang itu menggelinding dan membaca QS Alfajr 27-30. Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah engkau kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai. Masuklah engkau ke golongan hamba hambaKu, dan masuklah engkau ke surga-Ku.

Kaisar murka. Didatangkan lagi tawanan yang lain. Namun dia juga menolak ajakan pindah agama. ’’Aku tidak akan menjual agamaku demi dunia. Engkau bisa memenggal leherku, tapi engkau tidak akan bisa memenggal keimananku,’’ tegasnya. Dia lantas dipenggal. Kepalanya menggelinding sambil membaca QS Alhaqqah 19-23. Maka ia dalam kehidupan yang diridai dalam surga yang tinggi dan dahan ranting yang dekat.

Baca Juga :  Masjid Jami Keramat Al Amien Desa Brodot, Dipercaya Ada sejak 1923

Kepala itu bersanding dengan kepala tawanan pertama. Kaisar yang murka lalu mendatangkan prajurit ketiga. Orang ini menyerah dan berkata; Aku bersedia masuk agamamu. Aku lebih memilih dunia daripada akhirat.

Kaisar hendak memberinya jabatan. Tapi menterinya menyela; Wahai Raja, bagaimana kita memberinya jabatan tanpa ia diuji lebih dulu. Prajurit itu lalu diminta membunuh salah satu temannya. Tawanan ketiga ini ternyata setuju. Ia menarik salah seorang temannya dan membunuhnya.

Setelah itu, kaisar hendaknya memberinya jabatan. Namun lagi-lagi menterinya memberi masukan, Tawanan ini sudah tidak mau lagi memelihara hak saudaranya yang dia lahir dan dibesarkan bersamanya. Bagaimanakah dia akan dapat memelihara hak kita?

Kaisar Romawi lantas memerintahkan untuk memenggal lehernya.  Kepalanya berputar mengelilingi alun-alun sambil membaca  QS Azzumar 19. Apakah kamu hendak mengubah nasib orang- orang yang telah pasti ketentuan azab atasnya? Apakah kamu akan menyelamatkan orang-orang yang berada dalam api neraka? Kepala tawanan ini tidak berkumpul dengan dua kepala temannya. Dia kembali menuju siksa Allah subhanahu wa ta’ala. (jif/naz/riz)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/