alexametrics
30 C
Jombang
Thursday, May 19, 2022

Binrohtal 1.343: Mung Mampir Ngombe

Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (20/1), KH Achmad Roziqi Tebuireng, menjelaskan makna falsafah Jawa, mung mampir ngombe. ’’Ini maknanya sangat dalam,’’ tuturnya.

Falsafah itu mengingatkan, kehidupan di dunia ini tidaklah abadi. ’’Semua kita pasti tahu ini, tapi tidak semua dari kita bergegas untuk menyiapkan diri,’’ jelasnya. Sayidina Abu Bakar dalam sebuah nasehatnya yang diabadikan dalam kitab Mawa’idh al Shohabah karya Syeikh Sholih Ahmad al Syami menyatakan: Apakah kalian mengetahui bahwa kalian semua akan meninggalkan dunia ini dalam waktu yang sudah ditentukan?

Pertanyaan ini tentunya tidaklah membutuhkan jawaban. ’’Pertanyaan ini semcam penegasan, kehidupan di dunia ini tidaklah abadi. Pasti kembali pulang, mati. Hanya menunggu waktu saja. Tidak lebih,’’ tegasnya.

Lalu apa yang kita siapkan? ’’Tentunya adalah ibadah. Yang kita harapkan darinya keridaan Allah subhanahu wa ta’ala,’’ tuturnya.

 Sebisa mungkin, semua gerak dan diam kita bisa bernilai ibadah. Sayidana Abu Bakar pun melanjutkan nasehatnya. Seraya memberi jalan agar aktivitas kita bernilai ibadah. ’’Abu Bakar dawuh: Ucapan itu tiada bernilai kebaikan sama sekali jika tidak diniatkan untuk ibadah,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Binrohtal 1.345: Menolong Bikin Hidup Bahagia

Berkata adalah aktivitas yang paling sering kita lakukan. ’’Sebisa mungkin, marilah ucapan ini  kita upayakan bernilai ibadah,’’ ajaknya. Caranya, dengan menghindari ucapan yang diharamkan oleh syari’at. Kita perbanyak kata-kata yang baik dan doa.

’’Syukur-syukur jika dalam ucapan kita mengandung kemanfaatan bagi orang lain,’’ sarannya. Sehingga kita bisa beribadah dengan bertutur kata yang baik.

’’Harta yang tidak dibelanjakan di jalan Allah tidaklah bernilai kebaikan,’’ tegasnya. Harta yang kita miliki bisa menjadi pundi-pundi kebaikan bagi kita. Yaitu dengan cara menggunakannya sesuai dengan syari’at.

Bukan digunakan untuk maksiat. ’’Penggunaan harta yang benar seperti untuk mencukupi kebutuhan diri, anak dan keluarga terlebih orang lain,’’ jelasnya. Harta akan semakin bernilai ibadah jika untuk memperjuangkan ilmu dan pendidikan.

’’Tidak ada kebaikan bagi akal yang terkalahkan dengan kebodohan,’’ ungkapnya. Akal merupakan karunia Allah kepada manusia yang dengannya manusia menjadi lebih baik dibanding makhluk hidup yang lain.

Baca Juga :  SKD CPNS dan PPPK Non Guru di Jombang Direncanakan Oktober

Akal  tidak bisa memberikan nilai lebih manakala kita masih kalah dengan hawa nafsu. Sehingga kita masih dalam kubangan maksiat. ’’Melakukan maksiat adalah pertanda kita belum bisa memahami bahwa kita adalah hamba yang diatur oleh Sang Pencipta yang harus tunduk dan patuh kepadaNya,’’ urainya.

Patuh dan tunduk kepada Allah dengan masih memperhitungkan celaan orang lain belumlah bernilai kebaikan.

Makanya kita harus belajar ikhlas. Memurnikan ibadah kita benar-benar untuk Allah. ’’Inilah target utama kita sebagai hamba Allah,’’ tandasnya. Kepatuhan kita kepada Allah bukan lagi dipengaruhi oleh faktor yang lain. Namun semata-mata murni karena Allah subhanahu wa ta’ala. ’’Semoga semua gerak dan diam kita, ucap dan perilaku kita, bernilai ibadah bagi kita,’’ pungkasnya.

- Advertisement -

Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah Polres Jombang, Kamis (20/1), KH Achmad Roziqi Tebuireng, menjelaskan makna falsafah Jawa, mung mampir ngombe. ’’Ini maknanya sangat dalam,’’ tuturnya.

Falsafah itu mengingatkan, kehidupan di dunia ini tidaklah abadi. ’’Semua kita pasti tahu ini, tapi tidak semua dari kita bergegas untuk menyiapkan diri,’’ jelasnya. Sayidina Abu Bakar dalam sebuah nasehatnya yang diabadikan dalam kitab Mawa’idh al Shohabah karya Syeikh Sholih Ahmad al Syami menyatakan: Apakah kalian mengetahui bahwa kalian semua akan meninggalkan dunia ini dalam waktu yang sudah ditentukan?

Pertanyaan ini tentunya tidaklah membutuhkan jawaban. ’’Pertanyaan ini semcam penegasan, kehidupan di dunia ini tidaklah abadi. Pasti kembali pulang, mati. Hanya menunggu waktu saja. Tidak lebih,’’ tegasnya.

Lalu apa yang kita siapkan? ’’Tentunya adalah ibadah. Yang kita harapkan darinya keridaan Allah subhanahu wa ta’ala,’’ tuturnya.

 Sebisa mungkin, semua gerak dan diam kita bisa bernilai ibadah. Sayidana Abu Bakar pun melanjutkan nasehatnya. Seraya memberi jalan agar aktivitas kita bernilai ibadah. ’’Abu Bakar dawuh: Ucapan itu tiada bernilai kebaikan sama sekali jika tidak diniatkan untuk ibadah,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Istiqamah Kunci Raih Lailatul Qadar

Berkata adalah aktivitas yang paling sering kita lakukan. ’’Sebisa mungkin, marilah ucapan ini  kita upayakan bernilai ibadah,’’ ajaknya. Caranya, dengan menghindari ucapan yang diharamkan oleh syari’at. Kita perbanyak kata-kata yang baik dan doa.

- Advertisement -

’’Syukur-syukur jika dalam ucapan kita mengandung kemanfaatan bagi orang lain,’’ sarannya. Sehingga kita bisa beribadah dengan bertutur kata yang baik.

’’Harta yang tidak dibelanjakan di jalan Allah tidaklah bernilai kebaikan,’’ tegasnya. Harta yang kita miliki bisa menjadi pundi-pundi kebaikan bagi kita. Yaitu dengan cara menggunakannya sesuai dengan syari’at.

Bukan digunakan untuk maksiat. ’’Penggunaan harta yang benar seperti untuk mencukupi kebutuhan diri, anak dan keluarga terlebih orang lain,’’ jelasnya. Harta akan semakin bernilai ibadah jika untuk memperjuangkan ilmu dan pendidikan.

’’Tidak ada kebaikan bagi akal yang terkalahkan dengan kebodohan,’’ ungkapnya. Akal merupakan karunia Allah kepada manusia yang dengannya manusia menjadi lebih baik dibanding makhluk hidup yang lain.

Baca Juga :  Binrohtal 1.289: Mencintai Allah SWT

Akal  tidak bisa memberikan nilai lebih manakala kita masih kalah dengan hawa nafsu. Sehingga kita masih dalam kubangan maksiat. ’’Melakukan maksiat adalah pertanda kita belum bisa memahami bahwa kita adalah hamba yang diatur oleh Sang Pencipta yang harus tunduk dan patuh kepadaNya,’’ urainya.

Patuh dan tunduk kepada Allah dengan masih memperhitungkan celaan orang lain belumlah bernilai kebaikan.

Makanya kita harus belajar ikhlas. Memurnikan ibadah kita benar-benar untuk Allah. ’’Inilah target utama kita sebagai hamba Allah,’’ tandasnya. Kepatuhan kita kepada Allah bukan lagi dipengaruhi oleh faktor yang lain. Namun semata-mata murni karena Allah subhanahu wa ta’ala. ’’Semoga semua gerak dan diam kita, ucap dan perilaku kita, bernilai ibadah bagi kita,’’ pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/