23.6 C
Jombang
Saturday, December 10, 2022

Binrohtal 1.566, Lima Alasan Membaca Salawat

JOMBANG – Saat ngaji di Polres Jombang Kamis (17/11), Pengasuh Pondok Pesantren Anwarut Taufiq Batu, Habib Achmad Jamal bin Thoha Baagil, menjelaskan pentingnya membaca salawat.

’’Ada lima alasan kita baca salawat dan maulid Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam,’’ tuturnya. Pertama taladzud atau merasakan senang. ’’Orang beriman harus mencintai nabi,’’ tegasnya. Rasulullah bersabda; Seseorang baru akan merasakan manisnya iman ketika sudah mencintai Allah SWT dan Rasulullah melebihi apapun.

’’Tandanya orang cinta itu senang nama kekasihnya disebut. Banyak menyebut nama kekasihnya,’’ jelasnya. Kita banyak baca salawat dan maulid karena cinta Nabi. Sehingga merasakan nikmat ketika menyebut nama Nabi.

Kedua taqarrub alias mendekat kepada nabi. Allah SWT berfirman dalam QS Ali Imron 31. Katakanlah Muhammad: ’’Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Agar dicintai Allah SWT, kita harus mencintai Nabi dan mendekat kepada Nabi.

Baca Juga :  Binrohtal 1.561, Tiga Isyarat Dalam Basmalah

Ketiga mukafaah atau balas budi. Rasulullah sangat berjasa kepada kita. Rasulullah mendoakan kita dapat hidayah sehingga bisa beriman. Rasulullah minta pada Allah SWT agar sakitnya sakaratul maut kita ditanggung oleh Nabi. Sehingga kita tidak terlalu merasakan sakit. Kelak di akhirat, Rasulullah juga akan menolong kita dengan memberi syafaat.

Keempat, kita baca salawat dan maulid agar tambah cinta dan sayang kepada Nabi. Kelima, dengan cinta Nabi kita akan bisa senang patuh pada Nabi. Senang melaksanakan ajaran Nabi. Senang menjalankan sunah-sunah Nabi.

Habib Jamal juga mengajarkan salawat. Jazallahu anna sayidana Muhammadan sallallahu alaihi wa sallam ma huwa ahluh. Ya Allah berilah pahala kepada Nabi Muhammad dan kirimlah salawat salam kepadanya. ’’Baca salawat ini satu kali saja, malaikat capek mencatat pahalanya,’’ terangnya.

Baca Juga :  Binrohtal 1.467, Kurban Tanda Takwa

Habib Jamal juga pesan agar tidak gampang terprovokasi adu domba. ’’Dalam kondisi perang, Nabi membunuh orang yang memaki. Tapi dalam kondisi damai, Rasulullah selalu memaafkan,’’ terangnya.

Habib Jamal cerita, ada orang namanya Abu Mahduroh. Dia menirukan azan seperti suara domba. Seseorang lalu mengadukan Abu Mahduroh kepada Nabi. Nabi lalu memanggilnya. Abu Mahduroh disuruh mendekat. Nabi lalu memegang kepalanya sambil mendoakan; Semoga Allah memberkahimu, memberkahi suaramu, memberkahi keturunanmu dan memberimu hidayah. ’’Kepada orang yang melecehkan agama, Nabi justru mendoakan seperti itu. Maka kita harus meniru Nabi,’’ terangnya.

Singkat cerita, Abu Mahduroh akhirnya masuk Islam. Dia dan keturunannya selama 300 tahun menjadi muazin Masjidil Haram. Karena rambutnya pernah dipegang Nabi, Abu Mahduroh tidak pernah mencukur rambut sampai wafat. (jif/riz)

 

JOMBANG – Saat ngaji di Polres Jombang Kamis (17/11), Pengasuh Pondok Pesantren Anwarut Taufiq Batu, Habib Achmad Jamal bin Thoha Baagil, menjelaskan pentingnya membaca salawat.

’’Ada lima alasan kita baca salawat dan maulid Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam,’’ tuturnya. Pertama taladzud atau merasakan senang. ’’Orang beriman harus mencintai nabi,’’ tegasnya. Rasulullah bersabda; Seseorang baru akan merasakan manisnya iman ketika sudah mencintai Allah SWT dan Rasulullah melebihi apapun.

’’Tandanya orang cinta itu senang nama kekasihnya disebut. Banyak menyebut nama kekasihnya,’’ jelasnya. Kita banyak baca salawat dan maulid karena cinta Nabi. Sehingga merasakan nikmat ketika menyebut nama Nabi.

Kedua taqarrub alias mendekat kepada nabi. Allah SWT berfirman dalam QS Ali Imron 31. Katakanlah Muhammad: ’’Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Agar dicintai Allah SWT, kita harus mencintai Nabi dan mendekat kepada Nabi.

Baca Juga :  Binrohtal 1.501, Perbaiki Empat Sikap Ini di Tahun Baru

Ketiga mukafaah atau balas budi. Rasulullah sangat berjasa kepada kita. Rasulullah mendoakan kita dapat hidayah sehingga bisa beriman. Rasulullah minta pada Allah SWT agar sakitnya sakaratul maut kita ditanggung oleh Nabi. Sehingga kita tidak terlalu merasakan sakit. Kelak di akhirat, Rasulullah juga akan menolong kita dengan memberi syafaat.

Keempat, kita baca salawat dan maulid agar tambah cinta dan sayang kepada Nabi. Kelima, dengan cinta Nabi kita akan bisa senang patuh pada Nabi. Senang melaksanakan ajaran Nabi. Senang menjalankan sunah-sunah Nabi.

Habib Jamal juga mengajarkan salawat. Jazallahu anna sayidana Muhammadan sallallahu alaihi wa sallam ma huwa ahluh. Ya Allah berilah pahala kepada Nabi Muhammad dan kirimlah salawat salam kepadanya. ’’Baca salawat ini satu kali saja, malaikat capek mencatat pahalanya,’’ terangnya.

Baca Juga :  Renungan Minggu 115, Jangan Pernah Kecewa

Habib Jamal juga pesan agar tidak gampang terprovokasi adu domba. ’’Dalam kondisi perang, Nabi membunuh orang yang memaki. Tapi dalam kondisi damai, Rasulullah selalu memaafkan,’’ terangnya.

Habib Jamal cerita, ada orang namanya Abu Mahduroh. Dia menirukan azan seperti suara domba. Seseorang lalu mengadukan Abu Mahduroh kepada Nabi. Nabi lalu memanggilnya. Abu Mahduroh disuruh mendekat. Nabi lalu memegang kepalanya sambil mendoakan; Semoga Allah memberkahimu, memberkahi suaramu, memberkahi keturunanmu dan memberimu hidayah. ’’Kepada orang yang melecehkan agama, Nabi justru mendoakan seperti itu. Maka kita harus meniru Nabi,’’ terangnya.

Singkat cerita, Abu Mahduroh akhirnya masuk Islam. Dia dan keturunannya selama 300 tahun menjadi muazin Masjidil Haram. Karena rambutnya pernah dipegang Nabi, Abu Mahduroh tidak pernah mencukur rambut sampai wafat. (jif/riz)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/