alexametrics
22.4 C
Jombang
Saturday, June 25, 2022

Toriqoh 202, Generasi Rabbani

JOMBANG – Pengasuh PP Darul Ulum Rejoso sekaligus Ketua MUI Jombang, KH Cholil Dahlan, menjelaskan pentingnya terus menerus mempelajari ilmu dan mengamalkan. Agar kita menjadi generasi rabbani.

’’Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Alquran dan disebabkan kamu terus menerus mempelajarinya,’’ tuturnya mengutip QS Ali Imron 79.

Kiai Cholil menjelaskan, orang-orang terdahulu rusak karena beberapa hal. Pertama, mereka tidak amanah ketika diberi tanggung jawab. Contohnya, dititipi uang namun tidak diberikan.

Kedua, mereka suka bersumpah dengan nama Allah namun tidak dilaksanakan.  Ketiga, mereka tidak mau membayar zakat. Keempat, mereka mengingkari perjanjian dan tidak taat aturan.

Kelima, mereka gampang memelintir ayat-ayat Allah. Ayat-ayat yang tidak sesuai dengan mereka tak disampaikan. Orang-orang Yahudi tahu bahwa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam akan lahir dari kalangan Quraisy.

Dalam Zabur, Taurat, Injil, ciri-ciri Nabi Muhammad sudah disebutkan. Namun karena mereka tidak suka, akhirnya tidak disampaikan. Mereka justru menyampaikan sesuai hawa nafsunya. Mereka berkata seakan-akan itu ajaran tuhan. Padahal itu suara nafsunya.

Baca Juga :  Toriqoh 197, Dua Sumber Cahaya Hati

Keenam, ayat-ayat itu mereka pelintir untuk kepentingan dirinya. ’’Umat disuruh membayar zakat, namun tidak diberikan kepada fakir miskin. Tapi untuk memperkaya diri sendiri,’’ jelasnya.

Ketujuh, mereka mengajak menyembah kepada selain Allah. Seperti mengajak menyembah Nabi Isa. ’’Makanya ketika ada orang ngajak sujud kepada Nabi Muhammad SAW, Allah SWT langsung menurunkan QS Ali Imron 79 ini. Tidak boleh sujud kepada manusia, tapi harus sujud kepada Allah,’’ tegasnya. Tidak boleh menjadi hamba manusia. Tapi harus menjadi hamba Allah subhanahu wa ta’ala. 

Nah, ciri hamba Allah atau generasi rabbani dalam ayat ini disebutkan ada dua. Pertama, terus menerus belajar dan mengajarkan Alquran. Makanya di pesantren, santri diajak belajar di sekolah. Lalu ngaji di pondok.

Baca Juga :  Toriqoh 194: Kaya Harus Usaha

Mereka juga dibiasakan mengamalkan isi Alquran; diantaranya dengan salat jamaah, baca Quran, salawat dan zikir. Seperti wiridan istighotsah tiap usai Subuh. ’’Berprofesi apapun, santri ketika pulang, usahakan mengajar sesuai kemampuan. Bisanya alif ba ta ya ngajar alif ba ta,’’ saran Kiai Cholil.

Kedua,  ciri generasi rabbani adalah terus mengkaji isi Alquran. ’’Sumber semua ilmu adalah Alquran. Jadi kuliah jurusan apapun, bisa diniati mempelajari isi Alquran,’’ urainya.Alquran juga harus terus menerus dibaca. ’’Setiap hari harus baca Alquran,’’ saran Kiai Cholil. Yang punya hafalan Alquran, tiap hari harus dideres agar tidak hilang. Warga toriqoh juga harus mengamalkan zikir yang diajarkan mursyid setiap hari. Sebab jika kosong dari zikir, hati akan diisi setan. (jif/riz)

- Advertisement -

JOMBANG – Pengasuh PP Darul Ulum Rejoso sekaligus Ketua MUI Jombang, KH Cholil Dahlan, menjelaskan pentingnya terus menerus mempelajari ilmu dan mengamalkan. Agar kita menjadi generasi rabbani.

’’Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Alquran dan disebabkan kamu terus menerus mempelajarinya,’’ tuturnya mengutip QS Ali Imron 79.

Kiai Cholil menjelaskan, orang-orang terdahulu rusak karena beberapa hal. Pertama, mereka tidak amanah ketika diberi tanggung jawab. Contohnya, dititipi uang namun tidak diberikan.

Kedua, mereka suka bersumpah dengan nama Allah namun tidak dilaksanakan.  Ketiga, mereka tidak mau membayar zakat. Keempat, mereka mengingkari perjanjian dan tidak taat aturan.

Kelima, mereka gampang memelintir ayat-ayat Allah. Ayat-ayat yang tidak sesuai dengan mereka tak disampaikan. Orang-orang Yahudi tahu bahwa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam akan lahir dari kalangan Quraisy.

Dalam Zabur, Taurat, Injil, ciri-ciri Nabi Muhammad sudah disebutkan. Namun karena mereka tidak suka, akhirnya tidak disampaikan. Mereka justru menyampaikan sesuai hawa nafsunya. Mereka berkata seakan-akan itu ajaran tuhan. Padahal itu suara nafsunya.

Baca Juga :  Toriqoh 189: Memaksa Masuk Neraka
- Advertisement -

Keenam, ayat-ayat itu mereka pelintir untuk kepentingan dirinya. ’’Umat disuruh membayar zakat, namun tidak diberikan kepada fakir miskin. Tapi untuk memperkaya diri sendiri,’’ jelasnya.

Ketujuh, mereka mengajak menyembah kepada selain Allah. Seperti mengajak menyembah Nabi Isa. ’’Makanya ketika ada orang ngajak sujud kepada Nabi Muhammad SAW, Allah SWT langsung menurunkan QS Ali Imron 79 ini. Tidak boleh sujud kepada manusia, tapi harus sujud kepada Allah,’’ tegasnya. Tidak boleh menjadi hamba manusia. Tapi harus menjadi hamba Allah subhanahu wa ta’ala. 

Nah, ciri hamba Allah atau generasi rabbani dalam ayat ini disebutkan ada dua. Pertama, terus menerus belajar dan mengajarkan Alquran. Makanya di pesantren, santri diajak belajar di sekolah. Lalu ngaji di pondok.

Baca Juga :  Terdiri Tiga Lantai, Didominasi Warna Putih

Mereka juga dibiasakan mengamalkan isi Alquran; diantaranya dengan salat jamaah, baca Quran, salawat dan zikir. Seperti wiridan istighotsah tiap usai Subuh. ’’Berprofesi apapun, santri ketika pulang, usahakan mengajar sesuai kemampuan. Bisanya alif ba ta ya ngajar alif ba ta,’’ saran Kiai Cholil.

Kedua,  ciri generasi rabbani adalah terus mengkaji isi Alquran. ’’Sumber semua ilmu adalah Alquran. Jadi kuliah jurusan apapun, bisa diniati mempelajari isi Alquran,’’ urainya.Alquran juga harus terus menerus dibaca. ’’Setiap hari harus baca Alquran,’’ saran Kiai Cholil. Yang punya hafalan Alquran, tiap hari harus dideres agar tidak hilang. Warga toriqoh juga harus mengamalkan zikir yang diajarkan mursyid setiap hari. Sebab jika kosong dari zikir, hati akan diisi setan. (jif/riz)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/