26.9 C
Jombang
Wednesday, February 8, 2023

Masjid di Jombang ini, Lebih Dikenal Sebagai Masjid Ponari, Kok Bisa?

JOMBANG – Masjid Hidayatulloh yang terletak di Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh banyak dikenal orang dengan sebutan Masjid Ponari. Pasalnya, proses pembangunannya bertepatan ketika Ponari viral pada 2009 lalu.

”Masjid memang sedang dalam proses renovasi waktu itu, sumber dananya ya dari iuran masyarakat, dan kebetulan Ponari viral, dan Ponari menyumbang banyak untuk pembangunan masjid,” kata M Syaiful Fatoni, Ketua Takmir Masjid Hidayatulloh.

Masjid Hidayatulloh atau Masjid Ponari dirikan sejak 1977. Saat itu bangunan masjid masih sangat sederhana, dan merupakan masjid pertama di Dusun Kedungsari. Mulanya masjid berdiri dengan bentuk yang sederhana, dengan lebar 8 meter dan panjang 10 meter.

Namun, karena jumlah jamaah terus bertambah, masyarakat sepakat untuk memperbesar masjid. Setelah dana cukup banyak, renovasi dilakukan mulai 2005.

Baca Juga :  Musala ini Dibangun Bergaya Majapahitan, Ukirannya juga Penuh Makna

Setelah Ponari viral karena batu ajaibnya tahun 2009, Ponari kemudian ikut menyumbangkan uang Rp 200 juta saat itu untuk pembangunan masjid. ”Jadi bukan full dari Ponari, masyarakat iuran, dan Ponari menambah dana Rp 200 juta,” katanya.

Warga sekitar mengenal masjid dengan sebutan Masjid Hidayatulloh, tapi di luar warga Kedungsari, Masjid Hidayatulloh banyak dikenal sebagai Masjid Ponari. ”Yang orang jauh ngertinya Masjid Ponari, padahal namanya tidak ada Ponari sama sekali, kalau Gang Ponari memang ada, kurang lebih 500 meter selatan masjid ada Gang Ponari,” jelasnya.

Masjid berdiri kokoh dua lantai. Bangunannya mepet dengan jalan utama Megaluh-Perak. Karena lahan yang terbatas, masjid dibangun dua lantai. Agar bisa menampung jamaah lebih banyak.

Baca Juga :  Binrohtal 1.404: Puasa Sesungguhnya

Di bagian depan, masjid memiliki tangga di sisi kanan dan kiri. Di sisi selatan ada bedug dan kentongan yang tampak sudah tua tapi masih berfungsi dengan baik.

Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, sehari-harinya ruang utama masjid dikunci. Namun jemaah tetap bisa menjalankan ibadah di serambi masjid. ”Jika tidak jatuh pada waktu salat wajib, masjid bagian dalam dikunci. Namun di serambi masjid, semua perlengkapan ibadah disiapkan lengkap. Mulai dari tempat wudu, mukenah, juga Alquran yang biasa dipakai pengguna jalan yang melintas,” singkatnya.






Reporter: Wenny Rosalina

JOMBANG – Masjid Hidayatulloh yang terletak di Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh banyak dikenal orang dengan sebutan Masjid Ponari. Pasalnya, proses pembangunannya bertepatan ketika Ponari viral pada 2009 lalu.

”Masjid memang sedang dalam proses renovasi waktu itu, sumber dananya ya dari iuran masyarakat, dan kebetulan Ponari viral, dan Ponari menyumbang banyak untuk pembangunan masjid,” kata M Syaiful Fatoni, Ketua Takmir Masjid Hidayatulloh.

Masjid Hidayatulloh atau Masjid Ponari dirikan sejak 1977. Saat itu bangunan masjid masih sangat sederhana, dan merupakan masjid pertama di Dusun Kedungsari. Mulanya masjid berdiri dengan bentuk yang sederhana, dengan lebar 8 meter dan panjang 10 meter.

Namun, karena jumlah jamaah terus bertambah, masyarakat sepakat untuk memperbesar masjid. Setelah dana cukup banyak, renovasi dilakukan mulai 2005.

Baca Juga :  Student Journalism: Pentingnya Murajaah

Setelah Ponari viral karena batu ajaibnya tahun 2009, Ponari kemudian ikut menyumbangkan uang Rp 200 juta saat itu untuk pembangunan masjid. ”Jadi bukan full dari Ponari, masyarakat iuran, dan Ponari menambah dana Rp 200 juta,” katanya.

Warga sekitar mengenal masjid dengan sebutan Masjid Hidayatulloh, tapi di luar warga Kedungsari, Masjid Hidayatulloh banyak dikenal sebagai Masjid Ponari. ”Yang orang jauh ngertinya Masjid Ponari, padahal namanya tidak ada Ponari sama sekali, kalau Gang Ponari memang ada, kurang lebih 500 meter selatan masjid ada Gang Ponari,” jelasnya.

Masjid berdiri kokoh dua lantai. Bangunannya mepet dengan jalan utama Megaluh-Perak. Karena lahan yang terbatas, masjid dibangun dua lantai. Agar bisa menampung jamaah lebih banyak.

Baca Juga :  Hadapi Persaingan Digital, Bank Jombang Kembangkan Produk Berbasis Teknologi

Di bagian depan, masjid memiliki tangga di sisi kanan dan kiri. Di sisi selatan ada bedug dan kentongan yang tampak sudah tua tapi masih berfungsi dengan baik.

Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, sehari-harinya ruang utama masjid dikunci. Namun jemaah tetap bisa menjalankan ibadah di serambi masjid. ”Jika tidak jatuh pada waktu salat wajib, masjid bagian dalam dikunci. Namun di serambi masjid, semua perlengkapan ibadah disiapkan lengkap. Mulai dari tempat wudu, mukenah, juga Alquran yang biasa dipakai pengguna jalan yang melintas,” singkatnya.






Reporter: Wenny Rosalina

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/