26.9 C
Jombang
Wednesday, February 8, 2023

HOW TO READ (31)

Inn ila Rabbik al-ruj’a. Mencari jalan termulus menuju Tuhan adalah dengan membangun infrastruktur sesuai arahan-Nya. Dengan menyingkirkan segala hambatan yang ada dan semua itu dikerjakan secara totalitas hanya teruntuk Tuhan semata.

Tuhan itu maka kasih, moho welas, maha pemaaf. Kalau you mau diwelasi Gusti Allah, maka welaslah kepada orang lain, memaaflah, santun dan santunilah. Memang jalan mulus menuju surga itu ada dengan ibadah makhdah (murni) kepada-Nya. Tapi ibadah terbesar pahalanya adalah sedekah.

Ya, karena selain menyenangkan Tuhan, bersedekah itu juga menyenangkan orang. Sedangkan salat, puasa, umrah, mambaca Alquran hanya menyenangkan Tuhan saja. Termasuk tolak balak, itulah fungsi sedekah. Pak hakim, pak polisi yang tegas dan kejam sekalipun, sangat mungkin bisa welas jika ’’disedekahi’’.

Jika surga itu kita ibaratkan hotel, maka sedekah itu ibarat membooking hotel dengan pembayaran tunai lebih awal. Hasilnya pasti lebih definitif dibanding mereka yang membooking sekedar pakai omongan. Tinggal pilih kamar kelas apa dan segalanya sudah tersedia. Begitulah reading yang tepat.

Baca Juga :  Toriqoh 210, Fokus Ahli Makrifat

Demi menyempurnakan ’’al-ruj’a’’ ila al- Rabb, di kalangan kaum sufistik ada istilah ’’mu’aqabah’’, yaitu menghukum diri dengan menqadla’ amal yang terlupakan atau melakukan amal yang lebih dibanding amalan aslinya.

Seorang sufi telat bangun malam hingga kebablasan Subuh karena tidur di kasur nyaman yang baru saja dia beli. Paginya menangis dan bersumpah tidak bakalan tidur di kasur itu lagi. Hasilnya, aktif salat tahajud dan tidak pernah telat. Tapi, you tidak usah ikut-ikutan sumpah macam gitu. Cukup ambil baiknya saja.

Ada juga yang keluar rumah dan berjalan menuju kampung sebelah dengan tujuan memberi pengajian. Sejak keluar dari halaman rumah, dia diam saja dan lupa tidak berzikir. Baru ingat setelah hampir sampai ke desa tujuan.

Baca Juga :  Rehab 80 SD, Pemkab Jombang Usulkan Anggaran Rp 10 Miliar

Subhanallah, dia kembali ke rumah dan berzikir pada setiap langkahnya. Itu namanya ’’mu’aqabah’’, menghukum diri demi kebajikan yang istiqamah. Sekali lagi, you tidak usah seserius itu, nanti telat mengajinya.

Sayyiduna Umar ibn al-Khattab pernah telat sarapan pagi karena sibuk mengurus rakyat, mengontrol pedagang di pasar agar tidak curang dan tidak menaikkan harga serta memastikan tersalurnya bantuan bagi orang-orang miskin.

Sudah siang, urusan belum juga beres dan perut makin keroncongan. Spontan Umar membentak, memarahi perutnya sendiri: ’’Demi Allah, aku tidak akan memberimu makanan wahai perut, sebelum perut mereka jelas-jelas terisi makanan’’.

Sekali lagi, you tidak usah bergaya begitu, entar malah jatuh sakit. Cukup stok pangan, kebutuhan pokok tersedia dari hasil panen sendiri dan tidak impor. Harga stabil dan tidak menambah utang. Jangan sampai negara kalah dengan ’’setan’’ pasar. (bersambung, in sya’ Allah). (*)

Inn ila Rabbik al-ruj’a. Mencari jalan termulus menuju Tuhan adalah dengan membangun infrastruktur sesuai arahan-Nya. Dengan menyingkirkan segala hambatan yang ada dan semua itu dikerjakan secara totalitas hanya teruntuk Tuhan semata.

Tuhan itu maka kasih, moho welas, maha pemaaf. Kalau you mau diwelasi Gusti Allah, maka welaslah kepada orang lain, memaaflah, santun dan santunilah. Memang jalan mulus menuju surga itu ada dengan ibadah makhdah (murni) kepada-Nya. Tapi ibadah terbesar pahalanya adalah sedekah.

Ya, karena selain menyenangkan Tuhan, bersedekah itu juga menyenangkan orang. Sedangkan salat, puasa, umrah, mambaca Alquran hanya menyenangkan Tuhan saja. Termasuk tolak balak, itulah fungsi sedekah. Pak hakim, pak polisi yang tegas dan kejam sekalipun, sangat mungkin bisa welas jika ’’disedekahi’’.

Jika surga itu kita ibaratkan hotel, maka sedekah itu ibarat membooking hotel dengan pembayaran tunai lebih awal. Hasilnya pasti lebih definitif dibanding mereka yang membooking sekedar pakai omongan. Tinggal pilih kamar kelas apa dan segalanya sudah tersedia. Begitulah reading yang tepat.

Baca Juga :  SMPN 3 Jombang, Bekali Siswa Kegiatan Positif Selama Liburan

Demi menyempurnakan ’’al-ruj’a’’ ila al- Rabb, di kalangan kaum sufistik ada istilah ’’mu’aqabah’’, yaitu menghukum diri dengan menqadla’ amal yang terlupakan atau melakukan amal yang lebih dibanding amalan aslinya.

Seorang sufi telat bangun malam hingga kebablasan Subuh karena tidur di kasur nyaman yang baru saja dia beli. Paginya menangis dan bersumpah tidak bakalan tidur di kasur itu lagi. Hasilnya, aktif salat tahajud dan tidak pernah telat. Tapi, you tidak usah ikut-ikutan sumpah macam gitu. Cukup ambil baiknya saja.

Ada juga yang keluar rumah dan berjalan menuju kampung sebelah dengan tujuan memberi pengajian. Sejak keluar dari halaman rumah, dia diam saja dan lupa tidak berzikir. Baru ingat setelah hampir sampai ke desa tujuan.

Baca Juga :  Iming-Iming Jadi TKI, Puluhan Orang di Jombang Tertipu Puluhan Juta Rupiah

Subhanallah, dia kembali ke rumah dan berzikir pada setiap langkahnya. Itu namanya ’’mu’aqabah’’, menghukum diri demi kebajikan yang istiqamah. Sekali lagi, you tidak usah seserius itu, nanti telat mengajinya.

Sayyiduna Umar ibn al-Khattab pernah telat sarapan pagi karena sibuk mengurus rakyat, mengontrol pedagang di pasar agar tidak curang dan tidak menaikkan harga serta memastikan tersalurnya bantuan bagi orang-orang miskin.

Sudah siang, urusan belum juga beres dan perut makin keroncongan. Spontan Umar membentak, memarahi perutnya sendiri: ’’Demi Allah, aku tidak akan memberimu makanan wahai perut, sebelum perut mereka jelas-jelas terisi makanan’’.

Sekali lagi, you tidak usah bergaya begitu, entar malah jatuh sakit. Cukup stok pangan, kebutuhan pokok tersedia dari hasil panen sendiri dan tidak impor. Harga stabil dan tidak menambah utang. Jangan sampai negara kalah dengan ’’setan’’ pasar. (bersambung, in sya’ Allah). (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/