alexametrics
30 C
Jombang
Thursday, May 19, 2022

Binrohtal 1.342: Agar Tidak Rugi

Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (19/1), KH Lukman Hakim Tambakberas, menjelaskan pentingnya mengisi waktu dengan ibadah. ’’Karena dalam berhubungan dengan waktu, semua orang akan merasa rugi,’’ tuturnya.

Orang yang senantiasa mengisi waktu dengan ibadah saja merasa rugi. Apalagi yang tidak mengisinya dengan ibadah.

Kiai Lukman lalu mengutip QS Al Ashr 1-3.’’Agar tidak rugi, setiap waktu harus diisi iman, amal saleh serta saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran,’’ jelasnya.

Atas pentingnya waktu, Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam juga bersabda. Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara. Pertama, waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu. Kedua, masa sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Ketiga, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu. Keempat, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu. Kelima, hidupmu sebelum datang matimu.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam punya sahabat bernama Sya’ban radiyallahu anhu. Dia selalu datang ke masjid sebelum waktu salat berjamaah. Suatu pagi, saat salat Subuh berjamaah akan dimulai, Rasulullah SAW merasa heran karena tidak mendapati Sya’ban pada posisi seperti biasanya. Rasul pun bertanya kepada jamaah yang hadir, apakah ada yang melihat Sya’ban? Tapi, tidak ada seorang pun yang melihatnya.

Baca Juga :  Guru Paud Di Jombang Ika Rifa W: Bangun Komunikasi dengan Orang Tua

Selesai salat Subuh, Rasul bertanya; Apakah ada yang mengetahui kabar Sya’ban? Namun tidak ada seorang pun yang menjawab.

Rasul pun bertanya lagi; Apa ada yang mengetahui dimana rumah Sya’ban?

 Seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan, dia tahu persis dimana rumah Sya’ban. 

Rasulullah sangat khawatir terjadi sesuatu terhadap sahabatnya itu. Rasul minta diantar ke rumah Sya’ban.  Perjalanan dari masjid ke rumah Sya’ban cukup jauh dan memakan waktu sekitar tiga jam.

Sampai di depan rumah Sya’ban, Rasul mengucapkan salam dan keluarlah wanita sambil membalas salam.

Dengan berlinang air mata, istri Sya’ban cerita, suaminya telah meninggal. Satu-satunya penyebab Sya’ban tidak hadir salat Subuh di masjid adalah karena ajal menjemput.

Istri Sya’ban lantas bertanya; Ya Rasulullah ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami. Menjelang kematiannya, Sya’ban bertetiak tiga kali. Pertama, aduh, kenapa tidak lebih jauh. Kedua, aduh kenapa tidak yang baru. Ketiga, aduh kenapa tidak semua.

Baca Juga :  Binrohtal 1.347: Logika Barakah

Rasulullah SAW lantas melantunkan Surah Qaf 22.

Rasulullah menambahkan, saat Sya’ban ra dalam keadaan sakaratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah SWT. Semua ganjaran perbuatannya diperlihatkan oleh Allah.

 Sya’ban melihat kesehariannya pergi pulang ke masjid untuk salat berjamah lima waktu hingga memakan waktu tiga jam. Sya’ban diperlihatkan pahalanya. Dia ingin pahala lebih besar sehingga berkata, aduh mengapa tidak lebih jauh.

Kedua, Sya’ban pernah memakai dua baju. Satu pakaian yang bagus dan yang jelek. Ditengah jalan ada orang kedinginan minta pakaian. Dia pun memberikan yang jelek. Oleh Allah dia ditunjukkan pahalanya. Sehingga dia ingin pahala yang lebih besar. Makanya berkata, aduh mengapa tidak yang baru.

Ketiga, Sya’ban pernah punya roti. Kemudian didatangi pengemis. Sya’ban memberikan separonya. Oleh Allah ditunjukkan pahalanya. Sehingga dia ingin pahala yang lebih besar. Makanya berkata, aduh kenapa tidak semua.

- Advertisement -

Saat ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (19/1), KH Lukman Hakim Tambakberas, menjelaskan pentingnya mengisi waktu dengan ibadah. ’’Karena dalam berhubungan dengan waktu, semua orang akan merasa rugi,’’ tuturnya.

Orang yang senantiasa mengisi waktu dengan ibadah saja merasa rugi. Apalagi yang tidak mengisinya dengan ibadah.

Kiai Lukman lalu mengutip QS Al Ashr 1-3.’’Agar tidak rugi, setiap waktu harus diisi iman, amal saleh serta saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran,’’ jelasnya.

Atas pentingnya waktu, Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam juga bersabda. Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara. Pertama, waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu. Kedua, masa sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Ketiga, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu. Keempat, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu. Kelima, hidupmu sebelum datang matimu.

Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam punya sahabat bernama Sya’ban radiyallahu anhu. Dia selalu datang ke masjid sebelum waktu salat berjamaah. Suatu pagi, saat salat Subuh berjamaah akan dimulai, Rasulullah SAW merasa heran karena tidak mendapati Sya’ban pada posisi seperti biasanya. Rasul pun bertanya kepada jamaah yang hadir, apakah ada yang melihat Sya’ban? Tapi, tidak ada seorang pun yang melihatnya.

Baca Juga :  Binrohtal 1.347: Logika Barakah

Selesai salat Subuh, Rasul bertanya; Apakah ada yang mengetahui kabar Sya’ban? Namun tidak ada seorang pun yang menjawab.

- Advertisement -

Rasul pun bertanya lagi; Apa ada yang mengetahui dimana rumah Sya’ban?

 Seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan, dia tahu persis dimana rumah Sya’ban. 

Rasulullah sangat khawatir terjadi sesuatu terhadap sahabatnya itu. Rasul minta diantar ke rumah Sya’ban.  Perjalanan dari masjid ke rumah Sya’ban cukup jauh dan memakan waktu sekitar tiga jam.

Sampai di depan rumah Sya’ban, Rasul mengucapkan salam dan keluarlah wanita sambil membalas salam.

Dengan berlinang air mata, istri Sya’ban cerita, suaminya telah meninggal. Satu-satunya penyebab Sya’ban tidak hadir salat Subuh di masjid adalah karena ajal menjemput.

Istri Sya’ban lantas bertanya; Ya Rasulullah ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami. Menjelang kematiannya, Sya’ban bertetiak tiga kali. Pertama, aduh, kenapa tidak lebih jauh. Kedua, aduh kenapa tidak yang baru. Ketiga, aduh kenapa tidak semua.

Baca Juga :  Binrohtal 1.288: Saleh Lingkungan

Rasulullah SAW lantas melantunkan Surah Qaf 22.

Rasulullah menambahkan, saat Sya’ban ra dalam keadaan sakaratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah SWT. Semua ganjaran perbuatannya diperlihatkan oleh Allah.

 Sya’ban melihat kesehariannya pergi pulang ke masjid untuk salat berjamah lima waktu hingga memakan waktu tiga jam. Sya’ban diperlihatkan pahalanya. Dia ingin pahala lebih besar sehingga berkata, aduh mengapa tidak lebih jauh.

Kedua, Sya’ban pernah memakai dua baju. Satu pakaian yang bagus dan yang jelek. Ditengah jalan ada orang kedinginan minta pakaian. Dia pun memberikan yang jelek. Oleh Allah dia ditunjukkan pahalanya. Sehingga dia ingin pahala yang lebih besar. Makanya berkata, aduh mengapa tidak yang baru.

Ketiga, Sya’ban pernah punya roti. Kemudian didatangi pengemis. Sya’ban memberikan separonya. Oleh Allah ditunjukkan pahalanya. Sehingga dia ingin pahala yang lebih besar. Makanya berkata, aduh kenapa tidak semua.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/