alexametrics
31.5 C
Jombang
Wednesday, August 10, 2022

Gaya Arsitektur Modern, Ada Jejak Jenderal Polisi (Purn) Timur Pradopo

JOMBANG – Masjid Al Amal terletak di Desa Sengon, Kecamatan Jombang. Belum ada dokumen resmi terkait kepastian berdirinya masjid. Namun diperkirakan berdirinya sejak 1986 lalu.

Selain bangunan yang megah, Masjid Al Amal memiliki gaya arsitektur modern. Masjid Al Amal memiliki satu kubah besar yang terletak tepat di atas bangunan utama masjid.

Di ruang salat utama, terdapat dua tiang tinggi menjulang hingga tembus ke lantai dua. Permukaan dua tiang nampak indah dengan ornamen ala timur tengah yang dominan warna kuning keemasan.

Selain itu, pada bagian langit-langit dalam kubah masjid, tampak elok dengan hiasan identik dengan penggambaran pancaran sinar matahari.

Pada bagian tengah tergantung hiasan lampu hias yang cantik. Selain dihiasi ornamen indah, pada bagian dinging juga terdapat ukiran kaligrafi yang melingkupi dinding semakin elok dengan perpaduan warna hijau kuning keemasan.

Masjid Al Amal memiliki mimbar yang megah. Di dalamnya terdapat mimbar dari kayu yang semakin mempercantik mimbar. Ruang utama salat antara jamaah pria dan wanita disekat dengan papan kayu dengan ornamen khas.

Masjid Al Amal juga memiliki serambi yang luas. Sehingga mamu menampung banyak jamaah. ”Masjid ini dulu tidak semegah sekarang. Dulu bangunannya sederhana yang dijadikan tempat ibadah masyarakat sekitar,” terang Muhtar Ahmadi Sholeh, ketua yayasan Al Amal Sengon.

Baca Juga :  Binrohtal 1.394: Keutamaan Pencari Ilmu

Lebih lanjut dia menerangkan, Masjid Al Amal berdiri di atas tanah wakaf. Tidak terlalu luas hanya 20×15 meter.

Belum ditemukan resmi terkait catatan pendirian masjid. Namun mengacu data wakaf, diperkirakan berdiri sekitar 1986. ”Data tanah wakafnya tahun 1986. Bisa jadi masjidnya dibangun di tahun yang sama atau bisa jadi lebih dulu berdiri baru dokumen wakaf diurus,” ungkap warga kelahiran Gresik ini.

Selain daya tampung jamaah, serta kondisi bangunan yang mulai menua, sekitar 2014 warga sepakat melakukan renovasi masjid dengan dana swadaya masyarakat.

Dana didapat dari mana saja, bahkan warga mendadak jadi makelar tanah yang keuntungannya dipakai untuk membangun masjid. ”Ada tanah 14×300 meter dijual Rp 1,5 miliar, lalu kita kavling jadi 13, dan kita jual, keuntungannya Rp 50 juta. Uang terkumpul kurang lebih Rp 650 juta, untuk dana awal,” tambahnya.

Model penawaran yang dipakai yaitu jariyah untuk membangun masjid, tapi dapat hadiah tanah. Cara itu sangat efektif, terbukti banyak warga tertarik untuk beramal.

Baca Juga :  Binrohtal 1.312: Keutamaan Bekerja

Keinginan awal hanya untuk mengubah lantai dan struktur bangunan. Namun seiring dana terus berdatangan, sehingga diteruskan hingga jadilah bangunan masjid seperti sekarang.

Banyak warga yang menyumbang dalam bentuk material. Mulai dari granit, semen, pasir, kayu, hingga kubah yang dilelang seharga Rp 145 juta.

Salah satu donaturnya adalah keluarga dari mantan Kapolri Jenderal Polisi (Purn) Timur Pradopo yang menyumbangkan sebesar Rp 200 juta.  Selain itu juga dari masyarakat umum. ”Mereka ada yang guru, ada yang dokter, dari berbagai profesi,” tambah Sholeh.

Proses renovasi terbilang singkat. Hanya enam bulan saja pengerjaan sudah rampung. Selain kegiatan jamaah solat rutin, kegiatan di masjid juga banyak. Mulai dari kajian-kajian rutin, TPQ. Menariknya setiap salat Jumat selalu ada yang membagikan makanan.

Ada saja donatur yang memberikan bantuan sehingga masjid juga selalu ramai. Apalagi berada di lingkungan kampus STKIP PGRI Jombang dan sekolah, sehingga masjid tak pernah sepi pengunjung. ”Masjid ini juga jadi jujukan mahasiswa dan anak-anak sekolah salat,” singkatnya.

- Advertisement -

JOMBANG – Masjid Al Amal terletak di Desa Sengon, Kecamatan Jombang. Belum ada dokumen resmi terkait kepastian berdirinya masjid. Namun diperkirakan berdirinya sejak 1986 lalu.

Selain bangunan yang megah, Masjid Al Amal memiliki gaya arsitektur modern. Masjid Al Amal memiliki satu kubah besar yang terletak tepat di atas bangunan utama masjid.

Di ruang salat utama, terdapat dua tiang tinggi menjulang hingga tembus ke lantai dua. Permukaan dua tiang nampak indah dengan ornamen ala timur tengah yang dominan warna kuning keemasan.

Selain itu, pada bagian langit-langit dalam kubah masjid, tampak elok dengan hiasan identik dengan penggambaran pancaran sinar matahari.

Pada bagian tengah tergantung hiasan lampu hias yang cantik. Selain dihiasi ornamen indah, pada bagian dinging juga terdapat ukiran kaligrafi yang melingkupi dinding semakin elok dengan perpaduan warna hijau kuning keemasan.

Masjid Al Amal memiliki mimbar yang megah. Di dalamnya terdapat mimbar dari kayu yang semakin mempercantik mimbar. Ruang utama salat antara jamaah pria dan wanita disekat dengan papan kayu dengan ornamen khas.

- Advertisement -

Masjid Al Amal juga memiliki serambi yang luas. Sehingga mamu menampung banyak jamaah. ”Masjid ini dulu tidak semegah sekarang. Dulu bangunannya sederhana yang dijadikan tempat ibadah masyarakat sekitar,” terang Muhtar Ahmadi Sholeh, ketua yayasan Al Amal Sengon.

Baca Juga :  Binrohtal 1.312: Keutamaan Bekerja

Lebih lanjut dia menerangkan, Masjid Al Amal berdiri di atas tanah wakaf. Tidak terlalu luas hanya 20×15 meter.

Belum ditemukan resmi terkait catatan pendirian masjid. Namun mengacu data wakaf, diperkirakan berdiri sekitar 1986. ”Data tanah wakafnya tahun 1986. Bisa jadi masjidnya dibangun di tahun yang sama atau bisa jadi lebih dulu berdiri baru dokumen wakaf diurus,” ungkap warga kelahiran Gresik ini.

Selain daya tampung jamaah, serta kondisi bangunan yang mulai menua, sekitar 2014 warga sepakat melakukan renovasi masjid dengan dana swadaya masyarakat.

Dana didapat dari mana saja, bahkan warga mendadak jadi makelar tanah yang keuntungannya dipakai untuk membangun masjid. ”Ada tanah 14×300 meter dijual Rp 1,5 miliar, lalu kita kavling jadi 13, dan kita jual, keuntungannya Rp 50 juta. Uang terkumpul kurang lebih Rp 650 juta, untuk dana awal,” tambahnya.

Model penawaran yang dipakai yaitu jariyah untuk membangun masjid, tapi dapat hadiah tanah. Cara itu sangat efektif, terbukti banyak warga tertarik untuk beramal.

Baca Juga :  Hidup Ini Lengkap Sempurna

Keinginan awal hanya untuk mengubah lantai dan struktur bangunan. Namun seiring dana terus berdatangan, sehingga diteruskan hingga jadilah bangunan masjid seperti sekarang.

Banyak warga yang menyumbang dalam bentuk material. Mulai dari granit, semen, pasir, kayu, hingga kubah yang dilelang seharga Rp 145 juta.

Salah satu donaturnya adalah keluarga dari mantan Kapolri Jenderal Polisi (Purn) Timur Pradopo yang menyumbangkan sebesar Rp 200 juta.  Selain itu juga dari masyarakat umum. ”Mereka ada yang guru, ada yang dokter, dari berbagai profesi,” tambah Sholeh.

Proses renovasi terbilang singkat. Hanya enam bulan saja pengerjaan sudah rampung. Selain kegiatan jamaah solat rutin, kegiatan di masjid juga banyak. Mulai dari kajian-kajian rutin, TPQ. Menariknya setiap salat Jumat selalu ada yang membagikan makanan.

Ada saja donatur yang memberikan bantuan sehingga masjid juga selalu ramai. Apalagi berada di lingkungan kampus STKIP PGRI Jombang dan sekolah, sehingga masjid tak pernah sepi pengunjung. ”Masjid ini juga jadi jujukan mahasiswa dan anak-anak sekolah salat,” singkatnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/