alexametrics
22.5 C
Jombang
Saturday, June 25, 2022

Binrohtal 1.433, Sedekah Bikin Harta Tambah

SAAT ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (18/5), KH Lukman Hakim Tambakberas, menjelaskan pentingnya sedekah. ’’Dalam kondisi lapang maupun sempit, kita diharuskan sedekah sesuai kemampuan,’’ tuturnya.

Sebagaimana disebutkan dalam QS Ali Imron 133-134. Diantara ciri orang bertakwa yakni sedekah di waktu lapang maupun sempit. ’’Tiap hari malaikat selalu mendoakan manusia,’’ terangnya. Malaikat berdoa; Ya Allah berilah ganti kepada orang yang sedekah. Ya Allah berilah kerusakan pada harta orang yang tidak mau sedekah.

Kiai Lukman lalu cerita Sayidina Ali karramallahu wajhah. Suatu hari Ali menjumpai istrinya, Sayidah Fatimah. Kala itu, Fatimah sedang duduk memintal. Salman al-Farisi berada di hadapannya tengah menggelar wol. ’’Wahai perempuan mulia, adakah makanan yang bisa kau berikan kepada suamimu ini?’’ tanya Ali kepada istrinya.

’’Demi Allah, aku tidak mempunyai apapun. Hanya enam dirham ini, ongkos dari Salman karena aku telah memintal wol,’’ jawabnya.

’’Uang ini ingin aku belikan makanan untuk anak kita Hasan dan Husain,’’ tambahnya. Ali meminta uang itu. Fatimah segera memberikannya. Ali pun keluar membeli makanan. Tiba-tiba ia bertemu seorang laki-laki yang berdiri sambil berujar; Siapa yang ingin memberikan hutang karena Allah yang maha menguasai dan mencukupi?

Baca Juga :  Binrohtal 1.278: Teladan Kebaikan

Sayidina Ali mendekat dan langsung memberikan enam dirham di tangannya kepada lelaki tersebut. Fatimah menangis saat mengetahui suaminya pulang dengan tangan kosong. Sayidina Ali hanya bisa menjelaskan peristiwa secara apa adanya. ’’Baiklah,’’ kata Fatimah. Ia menerima keputusan suaminya.

Ali bergegas keluar. Kali ini untuk mengunjungi Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Di tengah jalan seorang Badui yang sedang menuntun unta menyapa; Ali, belilah unta ini dariku. ’’Aku sudah tak punya uang sepeser pun,’’ jawab Ali . ’’Ah, kau bisa bayar nanti.’’ Berapa? ’’Seratus dirham.’’

Ali sepakat membeli unta itu meskipun dengan cara hutang. Sesaat kemudian, Ali berjumpa dengan orang Badui lainnya. Apakah unta ini kau jual? ’’Benar,’’ jawab Ali. Berapa? ’’Tiga ratus dirham.’’

Si Badui membayarnya kontan. Ali segara pulang kepada istrinya. Wajah Fatimah kali ini tampak berseri menunggu penjelasan Sayidina Ali atas kejadian yang baru saja dialami. Ali bertekad menghadap Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.

Saat kakinya memasuki pintu masjid, sambutan hangat langsung datang dari Rasulullah. Nabi melempar senyum dan salam, lalu bertanya; Hai Ali, kau yang akan memberiku kabar, atau aku yang akan memberimu kabar? ’’Sebaiknya Engkau, ya Rasulullah, yang memberi kabar kepadaku,’’ jawab Ali.

Baca Juga :  Binrohtal 1.398: Puasa Penuh Kebaikan

Tahukah kamu, siapa orang Badui yang menjual unta kepadamu dan orang Badui yang membeli unta darimu? ’’Allah dan Rasul-Nya tentu lebih tahu,’’ sahut Ali.

’’Sangat beruntung kau, wahai Ali. Kau telah memberi pinjaman karena Allah sebesar enam dirham, dan Allah pun telah memberimu tiga ratus dirham, 50 kali lipat dari tiap dirham. Badui yang pertama adalah malaikat Jibril. Sedangkan Badui yang kedua adalah malaikat Israfil,’’ jelas Nabi. Inilah contoh, orang sedekah pasti diganti berlipatganda oleh Allah subhanahu wa ta’ala. (jif/riz)

 

- Advertisement -

SAAT ngaji usai salat Duhur di Masjid Agung Junnatul Fuadah, Polres Jombang, Rabu (18/5), KH Lukman Hakim Tambakberas, menjelaskan pentingnya sedekah. ’’Dalam kondisi lapang maupun sempit, kita diharuskan sedekah sesuai kemampuan,’’ tuturnya.

Sebagaimana disebutkan dalam QS Ali Imron 133-134. Diantara ciri orang bertakwa yakni sedekah di waktu lapang maupun sempit. ’’Tiap hari malaikat selalu mendoakan manusia,’’ terangnya. Malaikat berdoa; Ya Allah berilah ganti kepada orang yang sedekah. Ya Allah berilah kerusakan pada harta orang yang tidak mau sedekah.

Kiai Lukman lalu cerita Sayidina Ali karramallahu wajhah. Suatu hari Ali menjumpai istrinya, Sayidah Fatimah. Kala itu, Fatimah sedang duduk memintal. Salman al-Farisi berada di hadapannya tengah menggelar wol. ’’Wahai perempuan mulia, adakah makanan yang bisa kau berikan kepada suamimu ini?’’ tanya Ali kepada istrinya.

’’Demi Allah, aku tidak mempunyai apapun. Hanya enam dirham ini, ongkos dari Salman karena aku telah memintal wol,’’ jawabnya.

’’Uang ini ingin aku belikan makanan untuk anak kita Hasan dan Husain,’’ tambahnya. Ali meminta uang itu. Fatimah segera memberikannya. Ali pun keluar membeli makanan. Tiba-tiba ia bertemu seorang laki-laki yang berdiri sambil berujar; Siapa yang ingin memberikan hutang karena Allah yang maha menguasai dan mencukupi?

Baca Juga :  Student Journalism:: Memeluk untuk Melepas

Sayidina Ali mendekat dan langsung memberikan enam dirham di tangannya kepada lelaki tersebut. Fatimah menangis saat mengetahui suaminya pulang dengan tangan kosong. Sayidina Ali hanya bisa menjelaskan peristiwa secara apa adanya. ’’Baiklah,’’ kata Fatimah. Ia menerima keputusan suaminya.

- Advertisement -

Ali bergegas keluar. Kali ini untuk mengunjungi Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Di tengah jalan seorang Badui yang sedang menuntun unta menyapa; Ali, belilah unta ini dariku. ’’Aku sudah tak punya uang sepeser pun,’’ jawab Ali . ’’Ah, kau bisa bayar nanti.’’ Berapa? ’’Seratus dirham.’’

Ali sepakat membeli unta itu meskipun dengan cara hutang. Sesaat kemudian, Ali berjumpa dengan orang Badui lainnya. Apakah unta ini kau jual? ’’Benar,’’ jawab Ali. Berapa? ’’Tiga ratus dirham.’’

Si Badui membayarnya kontan. Ali segara pulang kepada istrinya. Wajah Fatimah kali ini tampak berseri menunggu penjelasan Sayidina Ali atas kejadian yang baru saja dialami. Ali bertekad menghadap Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.

Saat kakinya memasuki pintu masjid, sambutan hangat langsung datang dari Rasulullah. Nabi melempar senyum dan salam, lalu bertanya; Hai Ali, kau yang akan memberiku kabar, atau aku yang akan memberimu kabar? ’’Sebaiknya Engkau, ya Rasulullah, yang memberi kabar kepadaku,’’ jawab Ali.

Baca Juga :  Binrohtal 1426, Syawal Bukan Suwal

Tahukah kamu, siapa orang Badui yang menjual unta kepadamu dan orang Badui yang membeli unta darimu? ’’Allah dan Rasul-Nya tentu lebih tahu,’’ sahut Ali.

’’Sangat beruntung kau, wahai Ali. Kau telah memberi pinjaman karena Allah sebesar enam dirham, dan Allah pun telah memberimu tiga ratus dirham, 50 kali lipat dari tiap dirham. Badui yang pertama adalah malaikat Jibril. Sedangkan Badui yang kedua adalah malaikat Israfil,’’ jelas Nabi. Inilah contoh, orang sedekah pasti diganti berlipatganda oleh Allah subhanahu wa ta’ala. (jif/riz)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/