alexametrics
23.2 C
Jombang
Friday, June 24, 2022

Masjid Annaim di Jogoroto ini Ada Sejak 1900an, Dirintis Prajurit Diponegoro

JOMBANG – Masjid Annaim di Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto benar-benar sesuai namanya. Sangat nikmat dan nyaman dipakai ibadah. Baik salat maupun itikaf. Suasana di dalam masjid sejuk dan nyaman. Lantai dan dinding gunakan keramik terbaik. Tiang kayu berjumlah 10.

’’Empat tiang kayu peninggalan lama, lalu ditambah enam tiang baru biar semakin kuat,’’ kata Miftah, salah satu pengurus takmir. Empat tiang lama dibuat dari kayu jati. Luas masjid dulunya hanya 10×14 meter. Namun sekarang jauh lebih luas. ’’Luas bangunan masjid sekarang 25×15 meter,’’ sahut Gus Karim Elmuna ketua takmir.

Pengasuh Ponpes Darul Mansyur Mayangan ini menjelaskan, masjid dirintis oleh Mbah Khafidz, salah satu prajurit Diponegoro. ’’Mbah Khafidz tinggal di sini sekitar 1850,’’ jelasnya. Kala itu, belum ada masjid. Namun hanya ada surau untuk melaksanakan kewajiban salat.

Baca Juga :  Dulu Bangunan Gedek, Kini Megah

Makam Mbah Hafidz terletak di timur masjid. Jaraknya sekitar 50 meter dari masjid. Setiap 10 Syawal, warga selalu kirim doa di makam tersebut. ’’Masjid mulai berdiri sekitar 1900,’’ tuturnya.

KH Hasyim Asy’ari Tebuireng yang memilih lokasi sumur. Sekarang ini masjid memakai dua sumur. Kran di sisi selatan memakai sumur Mbah Hasyim. Kran di utara dari sumur bor. ’’KH Wahab Hasbullah Tambakberas juga sering itikaf di situ,’’ ucapnya sambil menunjuk salah satu tempat.

Gus Karim cerita, suatu pagi Kiai Wahab ke pondoknya. ’’Kala itu yang menjadi pengasuh masih kakek saya,’’ kenangnya. Kakeknya bilang ke Kiai Wahab, pagi-pagi kok sudah tiba di sini. ’’Kiai Wahab menjawab; Aku sudah dua hari di masjid,’’ urainya.

Baca Juga :  Student Journalism: Problem Solving

Masjid Annaim sudah beberapa kali direnovasi. Mulai tahun 1960, 1980 lalu 2018 diperluas ke barat. Terakhir 2019 ditambah teras. (jif/bin)

Selanjutnya…..

- Advertisement -

JOMBANG – Masjid Annaim di Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto benar-benar sesuai namanya. Sangat nikmat dan nyaman dipakai ibadah. Baik salat maupun itikaf. Suasana di dalam masjid sejuk dan nyaman. Lantai dan dinding gunakan keramik terbaik. Tiang kayu berjumlah 10.

’’Empat tiang kayu peninggalan lama, lalu ditambah enam tiang baru biar semakin kuat,’’ kata Miftah, salah satu pengurus takmir. Empat tiang lama dibuat dari kayu jati. Luas masjid dulunya hanya 10×14 meter. Namun sekarang jauh lebih luas. ’’Luas bangunan masjid sekarang 25×15 meter,’’ sahut Gus Karim Elmuna ketua takmir.

Pengasuh Ponpes Darul Mansyur Mayangan ini menjelaskan, masjid dirintis oleh Mbah Khafidz, salah satu prajurit Diponegoro. ’’Mbah Khafidz tinggal di sini sekitar 1850,’’ jelasnya. Kala itu, belum ada masjid. Namun hanya ada surau untuk melaksanakan kewajiban salat.

Baca Juga :  SMAN Kesamben Bangun Masjid Konsep Majaphitan yang Dilengkapi Kolam Ikan

Makam Mbah Hafidz terletak di timur masjid. Jaraknya sekitar 50 meter dari masjid. Setiap 10 Syawal, warga selalu kirim doa di makam tersebut. ’’Masjid mulai berdiri sekitar 1900,’’ tuturnya.

KH Hasyim Asy’ari Tebuireng yang memilih lokasi sumur. Sekarang ini masjid memakai dua sumur. Kran di sisi selatan memakai sumur Mbah Hasyim. Kran di utara dari sumur bor. ’’KH Wahab Hasbullah Tambakberas juga sering itikaf di situ,’’ ucapnya sambil menunjuk salah satu tempat.

Gus Karim cerita, suatu pagi Kiai Wahab ke pondoknya. ’’Kala itu yang menjadi pengasuh masih kakek saya,’’ kenangnya. Kakeknya bilang ke Kiai Wahab, pagi-pagi kok sudah tiba di sini. ’’Kiai Wahab menjawab; Aku sudah dua hari di masjid,’’ urainya.

Baca Juga :  Gaungkan Alquran di Era Digital 
- Advertisement -

Masjid Annaim sudah beberapa kali direnovasi. Mulai tahun 1960, 1980 lalu 2018 diperluas ke barat. Terakhir 2019 ditambah teras. (jif/bin)

Selanjutnya…..

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/